Maksud dan Tujuan dari Pengertian Kalimat ” Ucapan Adalah Doa “

Maksud dan Tujuan dari Pengertian Kalimat Ucapan Adalah Doa

almunawwar.or.id – Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa berbuat baik dan mempunyai perangai yang sangat baik dan mulia pula. Karena itu merupakan cerminan dari sifat iman dan keataqwaan seorang muslmi yang sesungguhnya, termasuk dalam urusan bertutu kata.

Karena menurut keterangan mengatakan demikian “Setiap kata yang terucapkan adalah doa yang terlantunkan”. Adanya keterangan seperti inilah mungkin secara pemaknaan bisa di asumsikan sebagai salah satu alasan mengapa sangat dikhawatirkan akan keluarnya ucapan yang tidak di inginkan yang bisa saja berbuah menjadi kenyataan, seperti yang sudah menjadi hal lumrah bagi masyarakat luas pada umumnya.

Sehingga pertanyaaan pun terlontarkan dari pemaknaan kalimat “Ucapan adalah Doa”. Apakah kalimat tersebut memang benar adanya dan sesuai dengan dalil serta keterangan atau cuman hanya sekedar pribahasa saja? Untuk mengetahui jawabannya berikut penjelasan mengenai arti daripada kalimat tersebut.

Sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah Hadits diatas:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رُضْوَانِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Artinya: “Dari Abi Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridhai Allah ’Azza wa Jalla tanpa berpikir panjang, Allah akan mengangkatnya beberapa derajat dengan kata-katanya itu. Dan seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang dimurkai Allah tanpa berpikir panjang, Allah akan menjerumuskannya ke neraka Jahannam dengan kata-katanya itu”.(HR Bukhari, Ahmad, dan Malik)

Begitu juga penerangan yang ada dalam kita Nashoihul ‘ibad hl 65, Syeikh Nawawi memuat ucapan dari imam al-kasa`i dari bahr kamil

احفظ لسانك ان تقول فتبتلي * ان البلاء موكل بالمنطق

Artinya: “Jaga lisanmu mengucapkan sesuatu,jika tidak ingin terkena musibah *
sesunggguhnya bala/musibah terwakilkan pada apa yang di ucapkan.

Baik buruk ucapan akan kembali lagi pada pengucapnya,jika bernilai ibadah ia mendapatkan ganjaran serta pahalanya , jika bernilai ma’shiyat ia mendapat siksa/bala. Artinya seorang yang mukallaf akan menanggung penuh kemanfaatan dan resiko ats apa yang ia kerjakan , ia dengar , ia i’tikadkan dan ia ucapkan.

Ada beberapa perkara yang sengaja Allah sembunyikan waktunya,diantaranya : Ajal/maut dalam hidupnya,Lailatul qodar dalam romadhon , waktu ijabah dalam siang dan malam. ini dimaksudkan agar senantiasa manusia selalu bersiap-siap ditiap waktunya dan tidak mengerjakan sesuatu kecuali yang bermanfaat baginya,baik untuk dunia ataupun akhiratnya.

Seraya dengan itu, maka kita merujuk kembali pada dalil dan keterangan yang bersumber dan ada dalam Alquran, yaitu pada surat Al-Isro ayat 53.

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

Artinya: “Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.

Pada kajian tafsir thobary dijelaskan dan disebutkan dengan redaksinya sebagai berikut:

قوله ( وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ) يقول تعالى ذكره لنبيّه محمد صلى الله عليه وسلم:وقل يا محمد لعبادي يقل بعضهم لبعض التي هي أحسن من المحاورة والمخاطبة.كما حدثنا خلاد بن أسلم، قال: ثنا النضر ، قال: أخبرنا المبارك، عن الحسن في هذه الآية ( وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ) قال: التي هي أحسن، لا يقول له مثل قوله يقول له: يرحمك الله يغفر الله لك.

Rosululullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Dari Abu Hurairah, bersabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamunya. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berbicaralah yang baik atau diamlah.”

Diterangkan pula pada syarah kitab Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam ibni rojab

وقد ذكرنا فيما سبق حديث أم حبيبة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : كلام ابن آدم عليه لا له ، إلا الأمر بالمعروف ، والنهي عن المنكر ، وذكر الله عز وجل

فقوله صلى الله عليه وسلم : فليقل خيرا أو ليصمت أمر بقول الخير ، وبالصمت عما عداه ، وهذا يدل على أنه ليس هناك كلام يستوي قوله والصمت عنه ، بل إما [ ص: 336 ] أن يكون خيرا ، فيكون مأمورا بقوله ، وإما أن يكون غير خير ، فيكون مأمورا بالصمت عنه ، وحديث معاذ وأم حبيبة يدلان على هذا

وخرج ابن أبي الدنيا من حديث معاذ بن جبل ولفظه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له : يا معاذ ثكلتك أمك وهل تقول شيئا إلا وهو لك أو عليك

Orang disebut baik kalau kebiasaan-kebiasaannya baik, termasuk di dalam berbicara. Kebiasaannya berbicara baik sudah masuk ke dalam memori tersirat (otak bawah sadar), sehingga tanpa dipikir-pikir panjangpun, yang keluar dari lisannya selalu baik. Keadaan ini merupakan hasil proses pembinaan diri jangka panjang.

Allah sangat menghargai perjuangan seseorang membiasaan berbicara baik yang tentunya diridhai-Nya dengan senantiasa meningkatkan derajatnya.Sebaliknya, orang yang memiliki kebiasaan berbicara buruk, misalnya suka mencaci, mencela, mengutuk, berghibah, membicarakan aib sahabatnya, dan berkata-kata kotor kata-kata yang membuat murka Allah- ia telah melakukannya dengan kendali otak bawah sadar.

Keadaan seperti ini terjadi karena ia tidak berusaha menghentikannya dan selalu saja membiarkan keluar dari lisannya. Orang ini telah mengabaikan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk berbicara baik. Pengabaian yang berulang-ulang hingga membentuk kebiasaan pada hakekatnya adalah bentuk keingkaran yang telah terbiasa dilakukannya. Oleh karena itu, Allah menjerumuskan ke neraka Jahanam dikarenakan kebiasaan ingkarnya tersebut.

Jika ucapan baik termasuk do’a bertepatan sa’atul ijabah,tentunya akan jadi keuntungan, namun jika ucapan buruk termasuk sumpah serapah yang bertepatan dengan sa’atul ijabah,maka tentu akan jadi kerugian dan bumerang bagi diri dan orang sekelilingnya.

Sebagai referensi dan rujukan lainnya tentang makna penting dari hakikatnya sebuah perkataan adalah serangkain hadits-hadits dibawah ini yang mungkin bisa di perjelas dan di perluas lagi secara pengartiannya untuk lebih bisa di mengerti dan di fahami oleh masyarakat awam. Berikut hadits yang di maksud:

وخرج الإمام أحمد ، والترمذي من حديث أبي هريرة ،، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إن الرجل ليتكلم بالكلمة لا يرى بها بأسا يهوي بها سبعين خريفا في النار . [ ص: 335 ] وفي ” صحيح البخاري ” ، عن أبي هريرة رضي الله عنه ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إن الرجل ليتكلم بالكلمة من رضوان الله لا يلقي لها بالا يرفعه الله بها درجات ، وإن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم .

وخرج الإمام أحمد من حديث سليمان بن سحيم ، عن أمه ، قالت : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : ” إن الرجل ليدنو من الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيتكلم بالكلمة ، فيتباعد بها أبعد من صنعاء ” .

وخرج الإمام أحمد ، والترمذي والنسائي من حديث بلال بن الحارث قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : إن أحدكم ليتكلم بالكلمة من رضوان الله ما يظن أن تبلغ ما بلغت فيكتب الله بها رضوانه إلى يوم يلقاه ، وإن أحدكم ليتكلم بالكلمة من سخط الله ما يظن أن تبلغ ما بلغت ، فيكتب الله بها سخطه إلى يوم يلقاه .

Semoga kita semua terjaga dari hal buruk yang berdampak pada perkataan dari lisan yang tidak terjaga, sehingga jauh dari keridhoannya. Dan hanya kepada kepadanYa kita semua memohon ampunan dan bimbingannya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com