Maksud Dari Hadits Doa Hidup dan Matikan Aku Sebagai Seorang Yang Miskin

Maksud Dari Hadits Doa Hidup dan Matikan Aku Sebagai Seorang Yang Miskin

Almunawwar.or.id – Setiap hal yang di lakukan oleh Bginda Rasululah S.A.W adalah sebuah sunnah yang senantiasa dapat di ikuti dan di amalkan oleh semua umatnya termasuk kita semua, Karena tentunya di balik pengamalan sunnah-sunnah tersebut mengandung berbagai hikmah dan tujuan tertentu yang begitu luar biasa.

Salah satunya adalah seperti doa yang ada dalam sebuah hadits “hidup dan matikan aku sebagai seorang yang miskin” hal ini tentunya mengandung sebuah rahasia dan hikmah tertentu di balik pengamalannya tersebut, meskipun hal yang bersifat miskin itu identik dengan sebuah kesenjangan terutama dalam segi tatanan hidup dan kesosialan seseorang.

Namun yaqinilah apa yang di contohkan oleh Baginda Rasulullah S.A.W itu merupakan sebuah suri tauladan yang semestinya bisa di amalkan oleh segenap umatnya, karena setaip hal yang menjadi sunnah rasul mengandung beberapa tujuan dan hikmah penting tentunya.

Lalu apa maksud dari pada doa tersebut? terlebih kata miskin dalam doa itu ada tiga kalimat, apakah itu sama maksudnya atau memang mengandung sebuah arti dan tujuan tertentu. Nah untuk lebih jelasnya mari kita sama-sama bahas secara seksama.

Hadits diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik dan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اللَّهُمَّ أَحْيِني مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah hidupkanlah aku sebagai seorang yang miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin dan bangkitkanlah/kumpulkanlah aku bersama orang-orang yang miskin pada hari kiamat”

Maksud Hadits

“Miskin” yang dimaksud dalam do’a Rosululloh SAW pada hadits tersebut adalah,seperti keterangan yang di sampaikan dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi

[ 2352 ] قوله ( أخبرنا ثابت بن محمد العابد الكوفي ) أبو محمد ويقال أبو إسماعيل صدوق زاهد يخطئ في أحاديث من التاسعة ( أخبرنا الحارث بن النعمان ) بن سالم الليثي الكوفي بن أخت سعيد بن جبير ضعيف من الخامسة
قوله ( اللهم أحيني مسكينا ) قيل هو من المسكنة وهي الذلة والافتقار فأراد صلى الله عليه و سلم بذلك إظهار تواضعه وافتقاره إلى ربه إرشادا لأمته إلى استشعار التواضع والاحتراز عن الكبر والنخوة وأراد بذلك التنبيه على علو درجات المساكين وقربهم من الله تعالى قاله الطيبي رحمه الله ( واحشرني في زمرة المساكين ) أي أجمعني في جماعتهم بمعنى أجعلني منهم لكن لم يسأل مسكنة ترجع للقلة بل للإخبات والتواضع والخشوع
قال السهروردي لو سأل الله أن يحشر المساكين في زمرته لكان لهم الفخر العميم والفضل العظيم فكيف وقد سأل أن يحشر في زمرتهم ( لم يا رسول الله ) أي لأي شيء دعوت هذا الدعاء واخترت الحياة والممات والبعث مع المساكين والفقراء دون أكابر الأغنياء ( قال إنهم ) استئناف في معنى التعليل أي لأنهم مع قطع النظر عن بقية فضائلهم وحسن أخلاقهم وشمائلهم ( بأربعين خريفا ) أي بأربعين سنة قال الجزري في النهاية الخريف الزمان المعروف من فصول السنة ما بين الصيف والشتاء ويريد به أربعين سنة لأن الخريف لا يكون في السنة إلا مرة واحدة فإذا انقضى أربعون خريفا فقد مضت أربعون سنة انتهى
(7/16)

Maksud lapadz Hadits

اللهم أحيني مسكينا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا

(Ya Allah hidupkanlah aku sebagai seorang yang miskin,wafatkanlah aku dalam keadaan miskin).

Rosululloh SAW mengharapkan dengan isi kalimat tersebut untuk melahirkan sifat tawadhu dan rasa butuh kepada Robb , dan Rosul mengajarkan/jadi petunjuk bagi umatnya untuk berlaku tawadhu dan menjaga dari sifat kibr/sombong, dan menjadi pengingat kepada umatnya akan keluhuran derajat orang-orang miskin dan kedekatannya kepada Allah SWT.

Demikian disampaikan oleh Al-Thiby

واحشرني في زمرة المساكين

(dan bangkitkanlah/kumpulkanlah aku bersama orang-orang yang miskin).

Ma’nanya : jadikanlah aku bagian dari mereka,namun miskin yang dimaksud adalah bukan ‘kekurangan’ namun tawadhu’ dan khusyu’ .

Pendapat lain dari Ulama Muhadditsin tentang Kata “MISKIN” Pada Hadits Tersebut

– Ibnu Abdil Barr rohimahulloh berkata dalam Al-Istidzkar

والمسكين هاهنا المتواضع الذي لا جبروت فيه ، ولا كِبْرَ ، الهَيِّنُ ، اللَّينُ ، السَّهل، القريب

“Lafadz “miskin”di sini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang yang tawadhu’, tidak sombong dan angkuh. Beliau adalah seorang yang lembut, suka mempermudah, tidak mempersulit dan dekat. ”

– Ibnu Qutaibah rohimahulloh berkata dalam Mukhtaliful Hadits

معنى المسكنة في قوله : ( احشرني مسكيناً ) التواضع والإخبات ، كأنه سأل الله تعالى أن لا يجعله من الجبارين والمتكبرين ، ولا يحشره في زمرتهم

“Lafadz “miskin”dalam hadits beliau [احشرني مسكيناً] bermakna tawadhu’ dan pasrah. Seakan-akan nabi memohon pada Allah agar tidak menjadikan beliau termasuk orang-orang yang sombong lagi angkuh. Tidak pula dibangkitkan bersama gerombolan mereka.”

– Ibnu Rajab Al-Hanbali rohimahulloh berkata dalam ikhtiyarul Aula

وقد يطلق اسم المسكين ويراد به من استكان قلبه لله عز وجل ، وانكسر له ، وتواضع لجلاله وكبريائه وعظمته وخشيته ومحبته ومهابته

“Lafadz “miskin”terkadang digunakan dan ditujukan pada seorang yang Allah berikan ketenangan dan ketundukan dalam hatinya. Ia bersikap tawadhu’ di hadapan Rabb yang memiliki kemuliaan, kesombongan, keagungan disertai perasaan takut, cinta dan merasa rendah di hadapan-Nya.”

Derajat Hadits
Ada Ikhtilaf Ulama Ahli Hadits tentang derajat Hadits tersebut, Namun bukan menjadi alasan untuk tidak mengamalkannya, cukuplah pendapat Imam As-suyuthi menjadi pegangan untuk mengamalkannya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rohimahulloh berkata dalam Fathul Baari

وأما الحديث الذي أخرجه الترمذي اللهم احيني مسكينا وامتني مسكينا الحديث فهو ضعيف

“Adapun hadits yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi [اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ،وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا] adalah hadits yang dha’if”

Ibnul Mulaqqin rohimahulloh berkata dalam Al-Badrul Munir

وَالْأَكْثَرُونَ عَلَى تَضْعِيفه

“Kebanyakan ulama mendho’ifkan hadits tersebut”

Ibnul Jauzi rohimahulloh berkata dalam Al-Maudhu’at

هذا حديث لا يصح عن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Hadits ini tidak shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”

Imam As-Suyuthi rohimahulloh berkata dalam Hasyiyah Sanady ‘Ala Sunan Ibnu Majah

وقال السيوطي : قال الحافظ صلاح الدين بن العلاء الحديث ضعيف السند لكن لا يحكم عليه بالوضع

Berkata As-Suyuthi : “Al-Hafidz Sh0lahuddin bin Al-Alla’ berkata: “hadits ini memiliki sanad yang dha’if, namun tidak sampai dihukumi maudhu’ (palsu)”

Dalam kitab Al-Maqooshidil Hasanati Fima Isytaharo ‘Ala-Alsinati

ورواه الطبراني في الدعاء من حديث بقية بن الوليد حدثنا الهقل بن زياد عن عبيد بن زياد ، سمعت جنادة بن أبي أمية ، يقول : حدثنا عبادة بن الصامت ، قال : قال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم : اللَّهم أحيني مسكينا ، وتوفني مسكينا ، واحشرني في زمرة المساكين ، ورجاله موثوقون ، وبقية قد صرح بالتحديث ، ومع وجود هذه الطريق وغيرها مما تقدم لا يحسن الحكم عليه بالوضع لا سيما وفي الباب عن أبي قتادة . بل هو حديث حسن .

Hadits yang diriwayatkan Imam Thobrony dari jalur sanad ubadah bin shomit ,bahwa Rijal hadits ini (perowi hadits) bisa dipercaya seluruhnya.

Dengan ditemukannya hadits ini dengan sanad dengan perawi yang Mautsuqin dan jalur lain dengan sanad ghoir Mautsuq, Maka sangat baik (alangkah bijaksana) dengan tidak menghukumi hadits ini dengan hadits maudhu’, terlebih dalam dalam bab ini ada perowi yang bernama “Abi Qotadah” (perowi terpercaya).

Dengan demikian maka derajat hadits ini adalah “Hasan Lighoirihi”

Jadi,Jangan takut Miskin ‘kekurangan’ dengan kata “MISKIN” dalam do’a ini,dan Jangan khawatir dengan derajat hadits ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com