Maksud Daripada Adanya Tanda-Tanda Ilmu Yang Bermanfaat dan Sebaliknya

Maksud Daripada Adanya Tanda-Tanda Ilmu Yang Bermanfaat dan Sebaliknya

Almunawwar.or.id – Dalam ketentuannya hakikat sebuah ilmu yang didapatkan oleh seseorang itu adalah harus di manfaatkan dan di amalkan, karena jika tidak ada pengamalan daripada apa yang sudah diketahuinya itu, maka justru ilmu tersebut akan menjadi hujah bagi dirinya.

Untuk itulah sebabnya mendapatkan ilmu yang bermanfaat tersebut adalah bagian daripada doa-doa yang terpanjatkan oleh setiap pribadi muslim. Bahkan dengan ilmu yang bermanfaat dan maslahat baik bagi diri maupun bagi orang lain itu bisa membukakan rahasia daripada kehidupan ini.

Karena sejatinya setiap orang tentunya ingin sekali mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, nah dasar daripada pencapaian kebahagiaan itu adalah dengan ilmu yang bisa di amalkan sesuai dengan kemampuan dengan tujuan ikhlas tanpa pamrih hanya mutlaq karena Alloh S.W.T.

Pencapaian yang tertuju hanya karena Allohh semata itu adalah bagian daripada salah satu ilmu yang bermanfaat, disamping bisa menambah wawasan kelimuan dirinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Alghozali dalam kitabnya menyebutkan bahwa:

والعلم النافع هو ما يزيد في خوفك من الله تعالى، ويزيد في بصيرتك بعيوب نفسك، ويزيد في معرفتك بعبادة ربك، ويقلل من رغبتك في الدنيا، ويزيد في رغبتك فني الآخرة، ويفتح بصيرتك بآفات أعمالك حتى تحترز منها، ويطلعك على مكايد الشيطان وغروره، وكيفية تلبيسه على علماء السوء،ن حتى عرضهم لمقت الله تعالى وسخطه؛ن حيث أكلوا الدنيا بالدين، واتخذوا العلم ذريعة ووسيلة الى أخذ اموال السلاطين، وأكل أموال الاوقاف واليتامى والمساكين، وصرفوا همتهم طول نهارهم إلى طلب الجاه والمنزلة في قلوب الخلق، واضطرهم ذلك إلى المراءاة والممراة، والمشاقة في الكالم والمباهاة.

Artinya: “Ilmu yg bermanfaat adalah ilmu yg bisa menambah dalam ketakutanmu kepada Allah ta’ala, bisa menambah pengetahuan batinmu tentang cacatnya dirimu, bisa menambah ma’rifatmu dalam beribadah kepada Tuhanmu, bisa mengurangi rasa cintamu terhadap dunia, dan menambah rasa cinta terhadap akherat, bisa membuka mata hatimu untuk melihat bahaya2nya amal-amalmu sehingga engkau bisa menjaga dari bahaya tersebut.

Juga bisa memperlihatkanmu terhadap tipu 2 daya setan, bisa memperlihatkanmu caranya menyamarkannya setan terhadap ulama’ su’ yang menjadikan mereka mendapatkan Murka Allah ta’ala, yaitu ulama’2 yg memakan dunia dgn agamanya, mereka mengambil ilmu sebagai perantara untuk mendapatkan harta dari raja, memakan harta wakaf, anak yatim dan orang-orang miskin, dan mereka menggunakan waktu panjang siangnya untuk mencari pangkat dan derajat di hati makhluq, yg menjadikan mereka menjadi pamer, adu domba berlebihan dalam ucapan dan juga sombong”.

Dari keterangan tersebut bisa diketahui pasti bahwa dasar daripada adanya ilmu yang bermanfaat dalam diri adalah terletak pada pengamalan yang dilandaskan terhadap Alloh S.W.T. dalam pengertian semua yang di amlkan dari ilmu tersebut tiada tujuan lain melainkan hanya karena Alloh semata.

Disamping itu juga mengetahui tujuan adanya ilmu yang bermanfaat dalam diri itu bisa terlihat daripada adanya buah kemasalahatan dari pengamalannya, sebagaimana yang dikemukan oleh Syaikh Ibn Rajab, Ulama’ madzhab Hanbali yang menyebutkan:

ومن علامات العلم النافع أن صاحبه لا يدعى العلم ولا يفخر به على أحد ولا ينسب غيره إلى الجهل إلا من خالف السنة وأهلها فإنه يتكلم فيه غضباً للَّه لا غضباً لنفسه ولا قصداً لرفعتها على أحد.
وأما من علمه غير نافع فليس له شغل سوى التكبر بعلمه على الناس وإظهار فضل علمه عليهم ونسبتهم إلى الجهل وتَنَقُّصهم ليرتفع بذلك عليهم وهذا من أقبح الخصال وأرداها.
[ بيان فضل علم السلف على علم الخلف لابن رحب الحنبلى ]

Artinya: “Termasuk diantara tanda-tanda ilmu nafi’ (bermanfaat) adalah bahwa orang yang berilmu tidak mengklaim dirinya berilmu, tidak membanggakan ilmunya terhadap orang lain, dan tidak menuduh orang lain sebagai orang bodoh. Kecuali kepada orang yang memang menyalahi Sunnah Rasulillah dan orang-orang yang berpegang teguh atasnya. Sebab orang yang berilmu itu mengomentari orang yang menyalahi sunnah atas dasar marah karena Allah, bukan karena marah atas dasar nafsu, serta tidak bermaksud meninggikan diri atas orang lain.

Sedangkan seseorang yang mempunyai ilmu tidak nafi’, maka tidak akan menyibukkan diri kecuali bersombong ria dengan ilmunya kepada orang lain, menampakkan keutamaan ilmunya kepada orang lain, dan meremehkan mereka agar dipandang tinggi derajat di mata mereka dengan ilmunya itu. Hal sedemikian itu adalah seburuk-buruknya sikap dan pandangan.

Untuk itulah sangat di anjurkan bahkan diwajibkan bagi kita semua memohon dan memanjatkan doa agar senantiasa dberikan ilmu yang bermanfaat. Sebab salah satu amalan di dunia ini yang tetap mengalir pahalanya sampai akhirat kelak adalah ilmu yang bermanfaat.

Daripada itulah dalam syarah kirab Misykatul Mashobih diterangkan bhwa jendaklan bagi setiap pribdai muslim untuk senantiasa memohon kepada Alloh S.W.t agar senantiasa diberikan ilmu yang bermanfaat yang menjadi perantara dalam memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Berikut do’anya:

اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع قال الطيبى أي علم لا أعمل به ولا أعلم الناس ولا يهذب الإخلاق والأقوال والأفعال أو علم لا يحتاج إليه في الدين أو لا يرد في تعمله إذن شرعي

Artinya: ” Yaa Alloh aku memohon ampunan kepadaMu dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, dan yang dimaksud dengan ilmu tersebut menurut Imam Atthoyyibi adalah yaitu ilmu yang tidak di amlkan baik bagi diri maupun bagi manusia lainnya, tidak diajarkan dan tidak bisa membersihkan akhlak, ucapan dan perbuatan. Atau maksud ilmu yang tidak bermanfa’at adalah ilmu yang tidak dibutuhkan dalam agama atau ilmu yang dalam mempelajarinya tidak ada idzin syar’ie.

Berangkat dari situlah berdasarkan penjelasan singkat tadi bisa di ambli dan di petik hikmahnya senantiasa memberikan jalan menuju marhotillah yaitu maqom yang sangat di inginkan dan di rindukan oleh setiap sejati orang mukmin dan muslim.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id