Maksud Kaya Dari Kesejahteraan Hati Menurut Pandangan Islam Yang Hakiki

Maksud Kaya Dari Kesejahteraan Hati Menurut Pandangan Islam Yang Hakiki

Almunawwar.or.id – Masalah kesejahteraan hati memang tidak di ukur dari seberapa banyak harta dan materi yang di miliki oleh seseorang, akan tetapi hal yang mampu menjangkau ataupun meraih jalan seperti itu adalah laksana untuk membuat hati menjadi kaya dan bahagia.

Apalagi jika pandai mensyukuri dengan apa yang telah diberikan kepada kita semua serta memolahkan nikmat tersebut ke jalan yang di ridhoinya, tentu akan jauh lebih terasa begitu istimewa dan bahagia jauh daripada kefakiran hati yang memang selama ini di takuti oleh semua orang.

Seraya dengan itu maka sabda Rasululloh S.A.W tentang makna daripada kaya hati seseorang kiranya menjadi berometer bagi kita untuk bisa meraihnya dengan sepenuh arti dan hati. Lalu bagaimana menurut pandangan agama akan yang di maksud dengan kaya hati?

Dengan definisi kaya dari Rasulullah ini, Abu Ali Ad Daqqaq menyimpulkan: “Kaya lebih utama daripada faqir. Karena kaya adalah sifat Allah sedangkan faqir adalah sifat makhluk.”

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya :“Kaya itu bukanlah banyaknya harta. Namun kaya yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Suatu ketika, Rasulullah mengajari Abu Dzar dengan bertanya terlebih dahulu.

Karena kaya adalah soal karakter, maka setiap orang bisa menjadi kaya tanpa menunggu memiliki banyak harta. Tinggal mengubah paradigma dan sikap kita; bersyukur dengan pemberian Allah, tidak bergantung kepada dunia, jangan suka meminta kepada sesama manusia dan biasakan menjadi dermawan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Dan dengan kedermawanan seseorang raihan untuk bisa merasakan hati lebih sugih alias kaya itu jauh lebih bermakna dan dekat lagi, karena secara tidak langsung dapat mendekatkan hal yang jauh dan mengeratkan sesuatu yang sudah dekat, sehingga hati terasa begitu luas dan lapang.

Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam At Tadzkirah, “Pada hakikatnya, orang yang memerlukan itu faqir meskipun ia memiliki banyak harta. Sedangkan orang yang merasa cukup dengan Tuhannya, dia itulah orang kaya.”

“Orang banyak harta tetapi hatinya bergantung pada harta serta rakus terhadapnya, sesungguhnya ia miskin,” lanjut Imam Al Qurthubi.

Itulah sebabnya mengapa rasa kaya hati sangat berpengaruh sekali terhadap sisi kehidupan dan kepribadian seseorang, untuk itulah raihlah apa yang bisa di raih, agar kebahagiaan dan kekayaan hati bisa secepatnya di rasakan,

يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

Artinya : “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?” Aku (Abu Dzar) menjawab, “Betul.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” Aku menjawab, “Betul ya Rasulullah.” Lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya adalah kayanya hati sedangkan fakir adalah fakirnya hati” (HR. Ibnu Hibban; shahih).

Jadi menurut Rasulullah, hakikat kaya bukanlah karena banyaknya harta. Melainkan dilihat dari karakternya yang tidak merasa kekurangan, justru merasa cukup dengan pemberian Allah dan ringan tangan dalam membantu sesama dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id