Marhaban Ya Ramadhan, Berikut Kajian Nahwu Tentang Kedudukan Kalimah nya

Marhaban Ya Ramadhan, Berikut Kajian Nahwu Tentang Kedudukan Kalimah nya

Almunawwar.or.id – Sering kita dengar dan jumpai ucapan atau kalimah yang selalu di ucapkan ketika akan datang hal yang sangat di rindukan, seperti halnya ketika bulan ramadhan datang yang senantiasa otrang menyambutnya dengan segenap hati dan jiwa sambil seraya mengucapkan “Marhaban Yaa Ramadhan”.

Namun di balik semua ucapan tersebut, masih jarang sekali orang mengetahui akan kedudukan yang sebenarnya dalam kalimah tersebut, terutama jika di kaji secara ilmu tata bahasa arab dalam hal ini ilmu nahwu dan shorof sebagai landasan utama untuk mengetahui syiakul kalam (rangkaian jumlah kalimah).

Sebab ketepatan akan meletakan sebuah kalimah atau lapadz itu senantiasa akan memberikan arti dan kedudukan yang sebenarnya, terlebih dari kalimah arab sendiri yang memang memiliki ketentuan dalam membuat rangkaian sebuah kalimah termasuk dari pada ucapan “Marhaban Yaa Ramadhan” ini, berikut ulasannya.

1. Pendapat Imam Sibawaih, mengatakan

]ﺳﻴﺒﻮﻳﻪ » :[149 – 148 /1 :ﻭﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻗﻮﻟﻬﻢ:
ﻣﺮﺣﺒًﺎ ﻭﺃﻫﻼً، ﺃﻱ ﺃﺩﺭﻛﺖ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﺻﺒﺖ، ﻓﺤﺬﻓﻮﺍ
ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻟﻜﺜﺮﺓ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻬﻢ ﺇﻳﺎﻩ ﻓﻜﺄﻧﻪ ﺻﺎﺭ ﺑﺪﻻً
ﻣﻦ ﺭﺣﺒﺖ ﺑﻼﺩﻙ ﻭﺃﻫﻠﺖ؛ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺤﺬﺭ ﺑﺪﻻً
ﻣﻦ ﺃﺣﺬﺭ

Artinya : “Imam sibawaih mengatakan yaitu “sering sekali ku temukan pengucapan lapadz tersebut, dimana kedudukannya itu menjadi badal (pengganti) dari lapadz rohabtu dengan alasan ataupun illat “karena banyaknya di gunakan di kalam arab” layaknya lapadz ﺍﻟﺤﺬﺭ dari lapadz ﻣﻦ ﺃﺣﺬﺭ .

2. Pendapat Imam Al Asmu’i mengatakan

ﻛﺬﺍ ﻟﻸﻛﺜﺮ ، ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﻤﺴﺘﻤﻠﻲ ” ﺑﺎﺏ ﻗﻮﻝ
ﺍﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻣﺮﺣﺒﺎ ” ﻗﺎﻝ
ﺍﻷﺻﻤﻌﻲ : ﻣﻌﻨﻰ ﻗﻮﻟﻪ ” ﻣﺮﺣﺒﺎ ” ﻟﻘﻴﺖ ﺭﺣﺒﺎ
ﻭﺳﻌﺔ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﻔﺮﺍﺀ : ﻧﺼﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺼﺪﺭ ،
ﻭﻓﻴﻪ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﺑﺎﻟﺮﺣﺐ ﻭﺍﻟﺴﻌﺔ ، ﻭﻗﻴﻞ ﻫﻮ
ﻣﻔﻌﻮﻝ ﺑﻪ ﺃﻱ ﻟﻘﻴﺖ ﺳﻌﺔ ﻻ ﺿﻴﻘﺎ .

Artinya : “Makna dan kedudukan dari lapad marhaban itu adalah jadi Maf’ul bih dari mashdar yang memiliki makna du’a, seperti contoh yang terdapat pada ﻟﻘﻴﺖ ﺭﺣﺒﺎ
ﻭﺳﻌﺔ seraya berkata selamat datang bulan suci ramadhan yang penuh dengan keluasan pengharapan, tidak kecil ataupun tidak luas.

Walhasil : Kedudukan lapadz marhaban dalam pengucapan Marhaban yaa ramadhan itu memeiliki dua hukum yaitu menjadi badal (pengganti) menurut imam sibawaih dan menjadi maf’ul bih menurut pendapat Imam Asmu’i. Lalu makan yang lebih ashoh? kita kembali pada kajian nahwu berikutnya.

Wallohu A’lamu Bishowab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id