Masjid Menjadi Simbol Kekuatan Diri Dalam Menciptakan Nilai Kebersamaan

Masjid Menjadi Simbol Kekuatan Diri Dalam Menciptakan Nilai Kebersamaan

Almunawwar.or.id – Tidak hanya sebagai tempat dan sarana beribadah masjid merupakan salah satu simbol kekuatan bagi umat Islam, lahirnya kokoh nilai persatuan itu tidak lepas dari kebersamaan yang biasa ddan sudah lumrah di laksanakan sebuah kegiatan di dalam masjid, Seperti shalat berjama’ah, pengajian, doa bersama dan majlis shaolwat dan kegiaan keagaaman lainnya seperti maulid Nabi, Isro Mi’raj, Nuzuul Quran, dan semua yang bernilai ibadah.

Dengan seringnya melaksanakan kegiatan semacam itu di dalam masjid itu tentunya menandakan akan indahnya kebersamaan, bergotong royong menjaga kemakmuran, memperkuat tali shilaturahmi dan persaudaraan membangun kredibilitas diri dengan perihal pengamalan semua bentuk ibadah di dalam masjid itu adalah merupakan sumber dalam menciptakan kekuatan diri dan kebersamaan dalam

Masyarakat menyebut masjid adalah rumah Allah SWT yang difungsikan untuk menunaikan shalat. Selain itu, biasanya masjid juga dimanfaatkan untuk proses belajar dan mengajar keagamaan atau ngaji. Namun demikian, banyak hal yang bisa direalisasikan melalui masjid untuk tujuan kemaslahatan umat secara luas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa selain dapat menegakkan agama Allah SWT, masjid juga dapat digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketertiban sosial melalui dakwah-dakwah keagamaan. Jika di Indonesia terdiri dari masyarakat yang majemuk, maka masjid hendaklah mendakwahkan kesejukan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an menyebut fungsi masjid antara lain di dalam Firman-Nya:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ , رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apapun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS An-Nur: 36-37).

Bahkan menurut salah satu tokoh muda NU Ustadz Hobri, sapaan akrabnya untuk mencapai optimalisasi peran dan kekuatan masjid, maka masjid perlu difungsikan dengan sungguh-sungguh, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai pusat peradaban, bahkan penggerak roda ekonomi jamaah. “Dengan demikian, maka masjid akan menjadi sentral kekuatan umat Islam, baik ekonomi maupun budaya,” ujarnya. Koordinator Pascasarjana FKIP Universitas Jember itu menegaskan, untuk memposisikan masjid sebagai pusat kekuatan, maka pengelolaan masjid minimal harus bersandar pada dua hal.

Pertama, masjid harus dikelola secara modern dan profesional. Hal ini di antaranya menyangkut pengelolaan keuangan, baik yang bersumber dari kotak infak maupun masyarakat umum. “Standar dasar pengelolaan dana yang profesional adalah transparansi. Jadi masuk-keluarnya uang bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa diketahui publik,” jelasnya.

Kedua, program-program yang disusun, harus dikomunikasikan kepada jamaah (masyarakat), bahkan kalau perlu takmir masjid meminta masukan dari masyarakat terkait penyusunan program. Hal ini berfungsi untuk mengakomodasi keinginan masyarakat, sehingga mereka merasa dilibatkan dalam pengelolaan masjid. “Kalau masyarakat merasa dilibatkan, maka otomatis merasa memiliki. Jika masyarakat sudah merasa memiliki, di situlah kunci kemajuan masjid,” terangnya.

Ia menambahkan, yang juga penting dalam mengelola masjid adalah keikhlasan dari para takmirnya. Katanya, profesionalitas dalam pengelolaan masjid jangan diparalelkan dengan pengelolaan perusahaan. Sebab, perusahaan mempunyai sumber dana yang jelas, sementara sumber dana masjid sangat temporal. “Kalau ikhlas yang menjadi dasar pengelola, ikhlas dalam memakmurkan masjid, maka saya yakin ekonomi si pengelola juga makmur.

Keberkahan rezeki juga melimpah. Rezeki tidak datang dari situ (masjid) tapi bisa datang dari tempat lain dan usaha lain, bahkan usaha yang tidak disangka-sangka. Sementara itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, Imam Ghozali menyatakan bahwa masjid-masjid di Kecamatan Semboro yang mencapai 40 unit sudah menunjukkan pengelolaan yang baik. Hal ini bisa terlihat dari terjaganya segi kebersihan masjid.

Hal ini terjadi karena takmir masjid selalu menjalin komunikasi dengan jamaah, dan para pemangku kebijakan wilayah setempat. “Untuk itu, kami sampaikan terima kasih atas semuanya,” ungkapnya saat memberikan sambutan dalam halal bihalal yang digelar oleh pengurus DMI Kecamatan Semboro itu.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id