Matinya Hati Karena 10 Perkara Ini Penyebab Dari Tidak Terkabulnya Doa

Matinya Hati Karena 10 Perkara Ini Penyebab Dari Tidak Terkabulnya Doa

Almunawwar.or.id – Berdoa yang merupakan sebuah amalan yang sangat di anjurkan bagi setiap muslimin seakan harapan pun tumbuh dari seringnya berdoa dalam dan setiap waktu, meskipun terkadang kita sering menyadari apakah doa-doa yang telah terpanjtkan itu akan terkabulkan.

Menyirat dari semua itu terutama dari adanya jaminan dari kepastian sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa berdoalah kalian semua maka Alloh S.W.T pasti akan mengkabulkannya, maka keyaqinan pun seolah tumbuh karena adanya kepastian dari jaminan tersebut.

Namun terkadang di balik harapan yang besar yang terlantukan dalam baitan doa itu kita semua tidak menyadari akan begitu banyaknya dosa dan noda dalam diri kita semua yang bisa saja menjadi penghalang akan terkabulnya doa-doa tersebut, dan itu sudah ada dan berjalan dalam diri kita.

Dalam hal ini bukan berarti doa kita semua bisa merubah segala hal yang sudah menjadi ketentuan Alloh S.W.T, akan tetapi sesungguhnya anjuran dan perintahan untuk melaksanakan doa adalah sebuag bukti dan tanda nyata bahwa kita semua umat muslimin memang sangat membutuhkan bimbingan dan petunjuk dariNYA.

Berangkat dari semua itu evaluasi dan pembelajaran diri sebelum kita mengadu dengan bersimpuh memohon doa kepadaNya adalah hal yang sangat dan harus dipahami dan di amalkan agar apa yang telah di janjikan oleh Alloh S.W.T bisa terasa dalam diri kita semua.

Bisa jadi apa yang selama ini menjadi tautan dalam diri kita menghalangi pada terkabulnya sebuah doa, apalagi sampai terjerembab pada hal-hal yang memang menjadi sebuah larangan dalam Agama. Sebagaimana yang terjadi pada sebuah kisah nyata yang tersirat dan bersumber pada kitab-kitab ulama salafussholih dengan riwayatanya sebagai berikut.

يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ، مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي عَشَرَةِ أَشْيَاءَ، أَوَّلُهَا: عَرَفْتُمُ اللَّهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ، الثَّانِي: قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِهِ، وَالثَّالِثُ: ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللَّهِ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَهَ، وَالرَّابِعُ: ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ، وَالْخَامِسُ: قُلْتُمْ نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا، وَالسَّادِسُ: قُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا، وَالسَّابِعُ: قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ، وَالثَّامِنُ: اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ، وَالتَّاسِعُ: أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا، وَالْعَاشِرُ: دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ

Artinya : “Wahai penduduk Bashrah, Hati kalian telah mati pada sepuluh perkara:
1. Pertama, kalian mengenal Allah tapi tidak menunaikan hak-Nya.
2. Kedua, kalian membaca Al-Qur’an, tapi kalian tidak mengamalkannya.
3. Ketiga, kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, tapi kalian meninggalkan sunnahnya.
4. Keempat, kalian mengaku memusuhi syaithan, tapi kalian mencocokinya.
5. Kelima, kalian mengatakan bahwa kami mencintai surga, tapi kalian tidak beramal untuk (memasuki)nya.
6. Keenam, kalian mengatakan bahwa kami takut dari neraka, tapi kalian menggadai diri-diri kalian untuk neraka.
7. Ketujuh, kalian mengatakan bahwa kematian adalah benar adanya, tapi kalian tidak bersiap untuknya.
8. Kedelapan, kalian sibuk membicarakan aib-aib saudara-saudara kalian, sedang kalian mencampakkan aib-aib kalian sendiri.
9. Kesembilan, kalian memakan nikmat-nikmat Rabb kalian, tapi kalian tidak menunaikan kesyukuran kepada-Nya.
10. Kesepuluh, kalian telah mengubur orang-orang mati kalian, tapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.”

Keterangan dari kisah ini bisa dilihat dari sarah-sarah kitab Nashoihul ‘Ibaad , Bab:10, maqolah:26, hal:67- Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyâ` 8/15-16. – Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm no. 1220, – Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/149 ,- Al-Absyîhy dalam Al-Mustathraf 2/329 ,- Kitab Durrotun Nashihin.

Semoga dengan mengatahui apa yang selama ini belum kita sadari dalam diri menjadi cerminan untuk bisa merubahnya menjadi perangai dan akhlaq terbaik dalam memohon apa yang selama ini menjadi harapan terbesar dalam tujuan hidup ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id