Memaknai Diri Dengan Mengetahui Perbedaan Ridha Dan Ikhlas Berikut Tingkatannya

Memaknai Diri Dengan Mengetahui Perbedaan Ridha Dan Ikhlas Berikut Tingkatannya

Almunawwar.or.id – Sebagai seorang muslim yang tentunya ingin sekali mendapatkan sesuatu yang istimewa dalam melaksanakan semua amalan dan perbuatannya itu harus turut pula mengetahui perihal yang mampu menghantarkan ke puncak dari pada tujuan beramal tersebut.

Dimana antara Ikhlas dan Ridho adalah sebuah managemen hati untuk turut serta menjadi dua sisi bagian penting dalam mendapatkan sebuah kedudukan yang mulia di balik perbuatan dan pengamalan setiap hari, di samping penguatan niat yang begitu kuat dalam melaksanakan dua faktor manfaat bagi hati itu.

Sekiranya apa yang akan, sedang dan telah di lakukan itu haruslah memiliki tujuan pasti yakni ikhlas dalam melaksanakan semua perintahan dan menjauhi larangannya, serta berusaha untuk tetap istiqomah dalam meraih keridhoan dari Allah S.W.T yang merupakan puncak dari titik akhir sebuah perbuatan.

Namun sering sekali dua hal tersebut yakni dan iklhas itu masih banyak orang yang belum bisa mengartikan yang sesunnguhnya, dan terkadang pula sulit untuk bisa membedakan antara keduanya, man yang di sebut dengan iklhas dan mana pula yang di maksud dengan ridho.

Nah supaya lebih jelas maksud dari pada kedua hal tersebut, Berikut uraian penting tentang bagaimana perbedaan dari keduanya.

Ridha
Menurut guru sufi, ridha ibarat pintu Allah SWT yang besar. Orang yang memuliakan ridha maka dia akan dipertemukan dengan kecintaan yang penuh dan dimuliakan dengan pendekatan yang paling tinggi. Menurut Abdul Wahid bin Zaid, ridha diibaratkan pintu Allah SWT yang besar dan merupakan surga dunia. Seorang hamba hampir tidak meridhai Allah SWT kecuali Dia meridhaknnya. Allah SWT berfirman :

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Allah ridha kepada mereka dan merakapun ridha kepada-Nya.”

سمعت الأستاذ أبا عَلِي الدقاق يَقُول: لَيْسَ الرضا أَن لا تحس بالبلاء إِنَّمَا الرضا أَن لا تعترض عَلَى الحكم والقضاء.واعلم أَن الواجب عَلَى العبد أَن يرضى بالقضاء الَّذِي أمر بالرضا بِهِ إذ لَيْسَ كُل مَا هُوَ بقضائه يَجُوز للعبد أَوْ يجب عَلَيْهِ الرضا بِهِ كالمعاصي وفنون محن الْمُسْلِمِينَوَقَالَ المشايخ: الرضا بَاب اللَّه الأعظم يعنون أَن من أكرم بالرضا فَقَدْ لقى بالترحيب الأوفى وأكرم بالتقريب الأعلى.سمعت مُحَمَّد بْن الْحُسَيْن يَقُول أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَر الرازي قَالَ: حَدَّثَنَا الْعَبَّاس بْن حمزة قَالَ: حَدَّثَنَا ابْن أَبِي الحواري قَالَ: قَالَ عَبْد الْوَاحِد بْن زَيْد: الرضا بَاب اللَّه الأعظم وجنة الدنيا.واعلم أَن العبد لا يكاد يرضى عَنِ الحق سبحانه إلا بَعْد أَن يرضى عَنْهُ الحق سبحانه، لأن اللَّه عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: {رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ} [المائدة: 119]

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq menyatakan, “Tidak dapat disebut ridha jika seseorang belum pernah mendapatkan cobaan. Namun dapat disebut ridha jika dia tidak menentang hukum dan keputusan Allah SWT.”Perlu diketahui bahwa kewajiban hamba adalah ridha terhadap keputusan yang telah diperintahkan untuk ridha kepadanya. Karena segala sesuatu tanpa keputusan akan menjadi boleh. Kewajiban hamba adalah ridha terhadap keputusan seperti ridha terhadap kemaksiyatan dan fitnah ujian orang-orang Islam.

وَقَالَ ابْن خفيف: الرضا سكون القلب إِلَى أحكامه وموافقة القلب بِمَا رَضِيَ اللَّهُ بِهِ وأختاره.وسئلت رابعة مَتَى يَكُون العبد راضيا؟ فَقَالَتْ إِذَا سرته المصيبة كَمَا سرته النعمة،وقيل قَالَ الشبلي بَيْنَ يدي الجنيد لا حول ولا قوة إلا بالله فَقَالَ الجنيد: قولك ذا ضيق صدر وضيق الصدر لترك الرضا.فسكت الشبلي وَقَالَ أَبُو سُلَيْمَان: الرضا أَن لا تسأل اللَّه تَعَالَى الْجَنَّة ولا تستعيذ بِهِ من النار.

Menurut Abu AbdiLlah bin Khafif yang dimaksud ridha adalah tenangnya hati menerima hukum-hukum Allah SWT dan ia bersepakat dengan segala sesuatu yang Allah SWT ridha dan memilihnya sebagai pegangan. Rabi’ah Al-Adawiyah pernah ditanya, “Kapan seseorang disebut sebagai orang yang ridha ?”. Dia menjawab, ‘Apabila dia senang ketika mendapatkan musibah sebagaimana dia senang ketika mendapatkan kenikmatan’. Menurut suatu cerita, As-Syibli pernah berkata kepada Al-Junaid “Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah SWT yang Maha Tinggi dan Maha Agung”. Kemudian Al-Junaid mengatakan, ‘Ucapanmu itu adalah ucapan orang yang sempit hati. Orang yang sempit hatinya akan meninggalkan ridha karena ada keputusan”. Stelah itu Asy-Syibli diam. Abu Sulaiman berpendapat bahwa yang dimaksud ridha adalah jangan memohon kepada Allah SWT untuk mendapatkan surga dan jangan pula memohon perlindungan-Nya agar terhindar dari neraka.

Tanda-tanda ridha
1. Meninggalkan ikhtiyar sebelum keputusan
2. Menghilangkan kepahitan sebelum keputusan
3. Cinta apabila mendapatkan cobaan.

Pernah ditanyakan kepada Husain bin Ali RA bahwa Abu Dzar mengatakan , “Fakir lebih aku cintai daripada sehat”. Husain mengatakan, ‘Mudah-Mudahan Allah SWT memberikan rahmat kepada Abu Dzar. Adapun saya maka aku tegaskan barang siapa bersungguh-sungguh di atas kebaikan dengan memilih Allah SWT maka dia tidak akan menerima sesuatu selain apa yang telah diputuskan-Nya.”

Ikhlas
Melakukan Perbuatan Hanya Karena Allah S.W.T

1. ikhlas tingkat tinggi, ialah melakukan perbuatan hanya karena Allah sebagai bentuk dari mengikuti perintahNya dan memberikan hak sesembahanNya.

– Kedua, ikhlas tingkat tengah, ialah melakukan perbuatan demi untuk meraih pahala akhirat, seperti mengharap surga dan takut akan neraka Allah.

– Ketiga, ikhlas tingkat bawah, ialah melakukan perbuatan untuk meraih kemuliaan di dunia dan agar selamat dari pancabaya dunia.

Dan selain daripada itu namanya riya`. Sedangkan mengenai ciri-ciri ikhlas, seperti yg dituturkan oleh Imam Ghazali, adalah (keadaan) ide atau pikiran yg gemar dan senang untuk melakukan perbuatan dalam keadaan sepi sebagaimana kegemaran yg ada dalam keadaan ramai dan hadirnya orang lain tidak menjadi sebab timbulnya ide atau pikiran tersebut.

Sebagian contohnya adalah anda tidak mempertanyakan apa yg sudah dijelaskan. Jadi intinya anda mengunyah lalu menelan kemudian paham dari apa yg sudah dijelaskan oleh para ulama. Bila anda meneruskan ini… Maka itu tanda tidak ikhlas, sederhana bukan ? 🙂

Itulah salah satu perbedaan penting mengenai kedua hal yang menjadi puncak dari semua amal dan perbuatan.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com