Memaknai Meninjau dan Menapak Kembali Hadits ‘Islam yang Asing’

Memaknai Meninjau dan Menapak Kembali Hadits 'Islam yang Asing'

Almunawwar.or.id – Sebagaimana umat islam yang sejatinya adalah orang yang lebih mengerti akan pemahaman makna kaffah dan hijrah yang sesungguhnya, tentu lebih hati-hati lagi dalam memaknai sekaligus menapak kembali istilah islam yang asing baik secara pribadi maupun secara umum.

Kedua makna tersebut rupanya sering menjadi perdebatan bahkan seolah menjadi perbedaan di antara umat Islam dalam menjadikan agama ini sebagai pedoman dan jalan hidup serta kehidupan. Seolah ada pemahaman bahwa Islam yang benar adalah Islam yang teralienasi. Yang asing dan tidak familiar, itulah Islam yang sejati.

Tentunya tidak lepas dari permasalahan tersebut, maka sangat penting sekali bagi kita sebagai umat islam untuk lebih peka lagi terhadap bermunculannya pemahaman-pemahaman itu yang mungkin akan lebih berkembang pesat lagi jika tidak filterisasi yang kuat dalam diri.

Maka tidak heran apabila saat ini banyak yang bermunculan aliran-aliran yang mengatasnamakan islam sebagai garis dan landasan hidup sesuai dengan keyakinannya. Dari pemahaman dan pengertian yang salah juga tumbuhlah sisi kepribadian yang jauh lebih mulia di banding dengan orang lain.

Dan jangan heran pula sering kita dengar bersama berbabagi faham-faham yang sejatinya jauh dari nilai-nilai islam yang haqiqi. Radikalsime, kapitalisme, terorisme dan lainnnya adalah salh satu bagian dari pemahaman mereka yang berkembang pesat di masyarakat saat ini.

Sehingga doktrin seperti ini kian nyata. Kita bisa melacaknya jika memiliki banyak waktu untuk lakukan cyber-patrol. Cukup banyak penghuni dunia maya yang sorak-sorai rayakan aksi teror, alih-alih mengutuknya. Mengambil sisi mendukung tindakan pemerintahan yang (dalam kacamata mereka) thaghut. Hal yang demikian, saya rasa patut diluruskan.

Hadits keterasingan Islam yang dimaksud, tertuang dalam Shahih Muslim dari Abi Hurairah yang berbunyi:

إنّ الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبا كما بدأ، فطوبى للغرباء

Artinya : “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”.

Seiring dengan itu maka tidak heran apabila makna keterasingan Islam yang dulu memang begitu lekat dan kuat di tengah masyarakat jahiliyyah untuk bisa diterimanya. DKonteksnya secara pemaknaan kehadiran islam saat ini seolah seperti makna yang ada dalam keterangan hadits tersebut.

Sebab jika merujuk pada sejarah Islam awal, keadaan asing yang dimaksud cukup beralasan. Nabi diutus dengan ajaran tauhid di tengah masyarakat yang mayoritas menyembah banyak berhala. Islam datang dengan ajaran-ajaran yang sebagian besarnya asing di telinga masyarakat. Keadaan asing yang dimiliki oleh Islam awal ini cocok digambarkan dengan hadits di atas.

Sehingga penting kiranya untuk lebih persfektif lagi dalam memahami dan mengartikan keterasinagn islam ini yang seyogyanya bisa membawa kita ke jalan hidup yang sangat di ridhoinya. Sesuai dengan pemaknaan awal ketika Islam di bawa dan di syariatkan melalui baginda Rasululloh S.A.W.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Artinya: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”.

Dari pemaknaan dua keterangan itu bisa di tarik kesimpulannya yang tertuangkan dalam dua alternatif terbaik pertama potongan ayat di atas berbicara mengenai janji Allah yang akan memenangkan Islam atas kelompok lain. “Menang” di sini tentu masih butuh banyak penafsiran.

Namun tetap saja, menang dan asing adalah dua hal yang bertolak belakang. Pemenang biasanya akan dikenal, atau yang dikenal biasanya adalah yang menang. Bagaimana mungkin Islam dalam keadaan asing, tapi menjadi pemenang? Atau bagaimana mungkin Islam menang tapi tetap terasing.

Dan alternatif pemaknaan yang kedua adalah dari riwayat Amr bin ‘Ash. Ketika Rasulullah Saw ditanya perihal orang asing yang beruntung tersebut, Rasulullah Saw menjawab, “Mereka (orang asing) adalah orang-orang salih di tengah-tengah mayoritas masyarakat yang buruk. Yang membangkang orang-orang shalih, lebih banyak dari yang menaatinya”.

Itulah peninjuan dari pemaknaan kata asing dalam islam baik yang berawal dari diri sendiri maupun yang berkembang di masyarakat luas. Sehingga salam kerangka ini, maka perlu dibuat kategori asing. Pertama asing dalam kebenaran di tengah masyarakat yang batil dan yang kedua asing dalam kebatilan di tengah masyarakat yang benar.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id