Mempelajari Hukum Ilmu Mantiq Dan Filsafat Lengkap Dengan Definisinya

Mempelajari Hukum Ilmu Mantiq Dan Filsafat Lengkap Dengan Definisinya

Almunawwar.or.id – Penting kiranya untuk lebih mempelajari dan mendalami sebuah ilmu yang memang bisa lebih menggali sesuatu hal yang kurang di pahami oleh banyak orang, seperti salah satunya tujuan daripada keberadaan ilmu mantiq dan ilmu filsafat meskipun sebagian ulama tidak memperbolehkannya.

Kehadiran kedua ilmu tersebut pada masanya memang seolah menjadi sebuah pelajaran paling berharga untuk lebih memastikan sebuah kaidah hukum yang sangat perlu di nyatakan, terlebih lagi pada saat itu pula pesatnya gaya pemahaman yang menimbulkan perbedaan pendapat dan pandangan menjadi salah satu alasan mengapa kedua ilmu itu lahir.

Di sisi lainnya meskipun secara umum itu terdapat hal yang sangat perlu di jelaskan karena ketakutan salah menafsirkan dan dalam mengemukakan pandangan, akan tetapi untuk lebih memberikan penjelasan yang akurat tentang dasar, hukum juga cara mempelejarinya itu layak seklai untuk diketahui secara seksama.

1. Definisi (ta’rif) Ilmu Mantiq

علم يعرف فيه عن المعلومات التصورية و التصديقية من حيث انها توصل الى مجهول تصوري او تصديقي

Artinya: “Ilmu yang mempelajari tentang sesuatu yang sudah diketahui gambarannya dan pembenarannya sekira-kira ia bisa mendatangkan kepada sesuatu yang samar gambarannya atau pembenarannya. Atau bisa juga dikatakan: Ilmu yang mempelajari tentang ta’rif / definisi atau dalil / hujjah / argumentasi berdasarkan akal pikiran yang sehat dalam rangka menuju jalan kebenaran dalam dunia keilmuan.

Atau: “ilmu yang mempelajari tentang cara berpikir yang tepat, sehat, dan benar untuk memperoleh jalan kebenaran sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam ilmu logika.

2. Materi ilmu mantiq / logika ( موضوعه )

المعلومات التصورية و التصديقية من حيث المذكورة صحة ايصالها الى مجهول

3. Pelopor atau pencipta ilmu logika (واضعه ): Aristoteles

4. Hukum mempelajari ilmu mantiq / logika (حكمه ):
a. Kalau ilmu mantiqnya tidak bercampur dengan kesesatan para filosuf, maka hukumnya fardhu kifayah berdasarkan kesepakatan para ulama.
b. Kalau ilmu mantiqnya bercampur kesesatan para filosuf, maka hukumnya diperselisihkan di kalangan ulama, yaitu bisa haram dan bisa boleh. Tapi yang masyhur hukumnya diperbolehkan apabila orang yang mempelajarinya sempurna aka pikirannya.

5. Nama lain dari ilmu mantiq (اسمه )
Ilmu Mantiq, Ilmu Mizan dan Mi’yarul ‘Ulum

6. Hubungan ilmu mantiq dengan ilmu-ilmu lain (نسبته الى غيره )
Masing-masing mempunyai perbedaan tersendiri

7. Masalah2 dalam ilmu mantiq (مسائله )
ilmu pengetahuan berikut pembagiannya

8. Pengambilan ilmu mantiq (استمداده )
diambil dari akal pikiran yang sehat

9. Faedah ilmu mantiq (فائدته ):

عصمة الذهن عن الخطء فى الفكر

Artinya: Menjaga kesalahan dalam berpikir.

Kata Imam Ghazali:

من لا معرفة له بعلم المنطق لا يوثق بعلمه

Artinya: Barangsiapa tidak tahu ilmu mantiq (ilmu logika), maka tidak bisa dipercaya ilmunya.

10. Keutamaan mempelajari ilmu mantiq (فضيلة ):

فوقانه على غيره من حيث كونه عام لنفع اذ لا من العلم الا يحتاج الى التعريف و الدليل

Artinya: Berada di atas ilmu selainnya sekira-kira ilmu mantiq tersebut berlaku umum kemanfa’atannya. Karena, tidak ada ilmu mantiq terkecuali butuh kepada ta’rif (definisi) dan dalil (hujjah / argumentasi).

HUKUM MEMPELAJARI FILSAFAT DAN MANTIQ
1. Filsapat ahlu sunah waljama’ah. Hukum mempelajarinya fardhu kifayah, seperti mempelajari kitab sulamul munawaroq atau syamsiyyah dll.
2. Filsafat sesat yang kemudian banyak dianut oleh golongan mu’tazilah. Yang dibahas berikut ini adalah hukum mempelajari filsapat yang kedua.
Dalam kitab “ I’anatuth tholibin juz 2 halaman 47 :

ﻛﺎﻟﻔﻼﺳﻔﺔ ﻭﻫﻢ ﻣﻨﻜﺮﻭ ﺣﺪﻭﺙ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﻭﻋﻠﻤﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰﺑﺎﻟﺠﺰﺋﻴﺔ ﻭﺍﻟﺒﻌﺚ ﻟﻼﺟﺴﺎﻡ ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﻫﻲ ﺃﺻﻞﻛﻔﺮﻫﻢ

Artinya : “Filosof adalah orang-orang yang mengingkari hudus alam, mengingkari ilmunya allah dengan juziyyah, dan mengingkari kebangkitan dengan tubuh, dan 3 masalah inilah yang menjadi asal kekafiran mereka”.

Dan imam sanusi sangat mewanti-wanti, dan memberi peringatan kepada orang- orang yang baru belajar agar jangan mengambil ushuluddin dari kitab-kitab yang bercampur dengan kalam falsafah,berikut ini perkatan beliau :

ﻭﻟﻴﺤﺬﺭ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻱ ﺟﻬﺪﻩ ﺃﻥ ﻳﺄﺧﺬ ﺃﺻﻮﻝ ﺩﻳﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺐﺍﻟﺘﻲ ﺣﺸﻴﺖ ﺑﻜﻼﻡ ﺍﻟﻔﻼﺳﻔﺔ

Artinya : “Hendaklah orang yang baru belajar menghindari kesungguhannya mengambil ilmu ushulluddin dari kitab- kitab yang bercampur dengan perkataan filsafah”Bahkan bukan hanya ilmu ushulludin yang bercampur dengan filsafah saja yang di wanti-wanti untuk dihindari,juga ilmu mantiq.

Bahkan iman nawawi dan ibnu shalah mengharamkan mempelajari ilmu mantiq yang bercampur dengan filsafah, sepert i yang disinggung oleh Abdurrahman al- ahdhari dalam kitab Sulamul Munawwaroq :

ﻭﺍﻟﺨﻠﻒ ﻓﻲ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻹﺷﺘﻐﺎﻝ # ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺛﺔ ﺍﻷﻗﻮﺍﻝ
ﻓﺎﺑﻦ ﺍﻟﺼﻼﺡ ﻭﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﺣﺮﻣﺎ # ﻭﻗﺎﻝ ﻗﻮﻡ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥﻳﻌﻠﻤﺎ
ﻭﺍﻟﻘﻮﻟﺔ ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭﺓ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ # ﺟﻮﺍﺯﻩ ﻟﻜﺎﻣﻞ ﺍﻟﻘﺮﻳﺤﺔ
ﻣﻤﺎﺭﺱ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺏ # ﻟﻴﻬﺘﺪﻱ ﺑﻪ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ

“Terjadinya perbedaan wacana( antara para ahli) tentang status hukum kebolehan memperdalam ilmu retorika qurani (ilmu mantiq / logika), dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :

1. Ibnu shalah dan imam nawawi berpendapat haram,
2. Sebagian kelompok ulama mengatakan ilmu ini sebaiknya diketahui
3. Pendapat (ketiga) yang terkenal menyatakan bahwa memperdalam ilmu retorika qurani (mantiq) adalah shahih (benar) bagi mereka yang memiliki kesempatan bernalar, berakal, yang mengerti seluk beluk hadits dan qur’an, yang menguasai betul hadits dan al-qur’an. Hal ini supaya mereka yang bernalar logis bisa memperoleh petunjuk dari ilmu retorika (mantiq) sampai pada kebenaran yang hakiki.

Kesimpulannya :
Hukum mempelajari ilmu mantiq terbagi tiga:
1. Haram menurut Imam Nawawi dan Ibnu Sholah.
2. Sunah menurut jam’un (diantaranya Imam Al-Ghozali).
3. Boleh atau Jawaz menurut qoul masyhur. Namun hukum Jawaz mempelajarinya bagi orang yang punya nalar dan cerdas, dan menguasai qur’an dan hadits.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id