Mempelajari Khazanah Keilmuan Islam Dari 7 Kitab Dasar yang Diajarkan di Pesantren

Mempelajari Khazanah Keilmuan Islam Dari 7 Kitab Dasar yang Diajarkan di Pesantren

Almunawwar.or.id – Sebuah metode pembelajaran yang biasanya di pelajari sebagai langkah awal bagi para pelajar khususnya untuk para santri yang mondok di sebuah lembaga pondok pesantren memang sangatlah di butuhkan sekali, pasalnya dari kitab-kitab ibtidai inilah awal mula terbentuknya jati diri seorang pelajar khususnya santri.

Dengan pembelajaran yang terlahir dari konsep-konsep ajaran yang ada di beberapa kitab yang di maksud seolah bisa mengarahkan seorang pelajar untuk lebih memahami betul metode dasar sebelum lebih lanjut menggali ilmu-ilmu lainnya, terutama dari menggali dan mengkaji kitab-kitab kuning yang sudah menjadi salah satu rujukan utama bagi para ulama salafi.

Dan pemberdayaan pelajaran inilah yang seharusnya di fahami secara konsisten bagi para pelajar khususnya bagi para santri, terlebih khusus dari khazanah keilmuan islam dari 7 kitab dasar yang diajarkan di pesantren, sebagaimana yang banyak di pelajari di pesantren-pesantren salafi yang ada di Indonesia. Berikut ke tujuh kitab yang di maksud.

1. Kitab Al-Ajurumiyah (Ilmu Nahwu)
Salah satu kitab dasar yang mempelajari ilmu nahwu. Setiap santri yang menginginkan belajar kitab kuning wajib belajar dan memahami kitab ini terlebih dahulu. Karena tidak mungkin bisa membaca kitab kuning tanpa belajar kitab Jurumiyah, ppedoman dasar dalam ilmu nahwu. Adapun tingkatan selanjutnya setelah Jurumiyah adalah Imrithi, Mutamimah, dan yang paling tinggi adalah Alfiyah. Al-Jurumiyah dikarang oleh Syekh Sonhaji dengan memaparkan berbagai bagian di dalamnya yang sistematis dan mudah dipahami.

2. Kitab Amtsilah At-Tashrifiyah (Ilmu Shorof)
Jika nahwu adalah bapaknya, maka shorof ibunya. Begitulah hubungan kesinambungan antara dua jenis ilmu itu. Keduanya tak bisa dipisahkan satu sama yang lainnya dalam mempelajari kitab kuning. Salah satu kitab yang paling dasar dalam mempelajari ilmu shorof adalah Kitab Amtsilah Tashrifiyah yang dikarang salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan indah.

3. Kitab Mushtholah Al-hadits (Ilmu Hadits)
Kitab dasar selanjutnya adalah Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan hadits. Kitab ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist palsu.

4. Kitab Arba’in Nawawi (Ilmu Hadits)
Pada kitab yang telah disebutkan di atas merupakan kitab dasar dalam menspesifikasikan kedudukan hadits. Berbeda lagi dengan kitab matan hadits yang harus dipelajari di dunia pesantren, yaitu Kitab Arba’in Nawawi karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri Al Nizami An-Nawawi yang berisi 42 matan hadits. Selain itu beliau juga mengarang berbagai kitab antara lain Riyadhus Sholihin, Al-Adzkar, Minhajut Tholibin, Syarh Muslim, dan lain-lain. Muatan tema yang dihimpun dalam kitab ini meliputi dasar-dasar agama, hukum, muamalah, dan akhlak

5. Kitab At-Taqrib (Ilmu Fiqih)
Fiqh merupakan hasil turunan dari Al-Quran dan Al-Hadist setelah melalui berbagai paduan dalam ushul fiqh. Kitab Taqrib yang dikarang oleh Al-Qodhi Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahaniy adalah kitab fiqh yang menjadi rujukan dasar dalam mempelajari ilmu fiqh. Di atas Kitab Taqrib ada Kitab Fathul Qorib, Tausyaikh, Fathul Mu’in, dan semuanya itu syarah atau penjelasan dari At-Taqrib.

6. Kitab Aqidatul Awam (Ilmu Tauhid)
Hal mendasar dalam agama adalah kepercayaan atau aqidah. Apabila aqidah sudah mantap, kuat dan benar maka dalam menjalani syariat agama tidak akan menyeleweng dari aturan syariat yang telah ditentukan. Kitab dasar aqidah yang dipelajari dipesantren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait nadzom. Kitab ini dikarang atas perintah Rasulullah yang mendatangi sang pengarang melalui mimpinya. Hingga beliau mampu menyelesaikan kitab tersebut sebagai acuan sumber literasi ilmu Aqidah di berbagai tempat.

7. Kitab Ta’limul Muta’alim (Ilmu Ahlaq)
Sepandai apapun manusia serta sebanyak apapun ilmu yang dikuasainya, semuanya tidak akan bisa menghasilkan sarinya ilmu tanpa adanya akhlaq. Hal dasar bagi para pencari ilmu agar ilmunya manfaat dan barokah adalah harus mengutamakan akhlaq. Kitab dasar yang menerangkan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji.

Setiap awal proses belajar di pesantren sesuai adatnya pasti mempelajari kitab ini ataupun kitab lain yang seakar dengan Ta’limul Muta’alim, seperti kitab Adabul ‘alim wal Muta’alim karangan ulama’ besar Indonesia, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kedua kitab ini pun juga menjadi kurikulum wajib bagi pesantren yang ada di Indonesia bahkan hingga luar negeri.

Itulah salah satu rujukan dari kajian kitab-kitab kuning pada khususnya yang sudah menjadi metode dan pola pembelajaran yang di jalankan di pondok-pondok pesantren di tanah air lebih khusus bagi pesantren salafi.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id