Menakar Militansi Kader Kenahdiyyahan Dari Pola Pengaplikasian Dasar Ilmu Nahwu

Menakar Militansi Kader Kenahdiyyahan Dari Pola Pengaplikasian Dasar Ilmu Nahwu

Almunawwar.or.id – Salah satu hal yang menjadi cikal bakal akan langgeng sebuah wadah pemersatu umat dan bangsa adalah dengan senantiasa menjaga nilai substansi sebuah wadah pemersatu umat. Seperti menjaga kultur nahdliyyah sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan terbesar di Indonesia.

Sebagai pengukuran dasarnya itu adalah eksistensi yang menghidupkan wadah atau organisasi tersebut dengan ciri khas pengembangan pengajaran melalui lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Terlebih khusus untuk dunia pendidikan non formal sendiri dimana di sana ada peletakan cikal bakal nilai kenahdiyyahan.

Karena lewat metode serta kurikulum yang di pelajari di Pondok Pesantren itu secara gamblang dan autentik mempelajari hal ikhwal ilmu yang kelak nantinya akan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Sehingga bisa di pastikan pembelajaran di lembaga pesantren itu merupakan landasan bagi semua warga NU.

Nah sebagai pengukuran pasti dari karakteristik kenahdiyyahan itu terdapat pada ilmu-ilmu Pondok Pesantren, seperti dari ilmu nahwu ketika di berdayakan atau di aplikasikan pada nilai-nilai sendi ke berikut penjelasan pengaplikasian yang di maksud.

Kader Rofa
Tanda asli i’rob rofa adalah dlommah. Rofa artinya luhur, tinggi. Dlommah artinya berkumpul, solid.

Kader rofa’ memiliki niat dan perilaku yang luhur, mulia, dan terhormat. Mereka adalah para pelopor (mubtada), pendamping pelopor (khobar), aktivis militan (fa’il), pengganti aktifis militan (na’ibul fa’il), dan para pengikut kader rofa’ (tawabi).

Kader rofa’ atau kader dlommah, adalah kader NU yang solid, bercita2 luhur, berprilaku luhur, kompak berjam’iyyah dan berjama’ah seperti dalam sholat. Berjajar rapi mengikuti instruksi imam. Imamnya ruku, ma’mum ruku, imam sujud, ma’mum sujud, dan sebagainya dalam satu harmoni, dalam satu tujuan : mengharap ridho dan Allah, lillahi ta’ala. Innaa solaati, wa nusuki, wa mahyaaya, wa maati, lillahi robbil ‘alamin.. Hidup dan mati mereka hanya untuk Allah, berjumpa dengan Rabbnya di taman firdaus, a’la faroodisil jinaan..

Kader Rofa’ ke NU-an nya sudah lebih bail dari jazm, jarr, dan nashob, atau kisaran 76 – 100 %. Jika dalam emas, setara 19 – 24 karat, emas murni yg bernilai sangat tinggi.

Kader Nashob
Tanda asli i’rob nashob, adalah fathah. Nashob artinya datar, stagnan. Fathah artinya terbuka. Kader nashob, terbuka bagi siapapun dan apapun. Apa saja masuk sebagai manifestasi fathah (terbuka). Ia menerima A, B, C, D, dan lainnya. Tapi tidak satupun dari A, B, C, dan D atau lainnya yang menerima kader nashob secara terbuka. Karena mereka menyadari kader nashob ada maunya : objek (maf’ul bih), penguatan (maf’ul mutlak), eksistensi (haal), numpang tempat (dhorof makan), numpang waktu (dhorof zaman), alasan (maf’ul liajlih), numpang beken (maf’ul ma’ah), dll..

Posisinya tergantung amil nashob, bahkan dalam beberapa kondisi, ia harus membuang nun rofa (identitas keluhuran).
Kader nashob, sudah lebih baik dari jazm, dan jarr. Kadar NU-nya 51 – 75 %, atau emas 13-18 karat. Namun, nashoblah yang paling banyak dalam i’rob. Dengannya, NU menjadi dinamis.

Kader nashob, kadar NU-nya 26-50%. Setara emas 7 – 12 karat.

Kader Jazm
Jazm, tanda asli i’robnya sukun, artinya mati. Kader jazm, hati dan pikiran nya mati. Tidak peduli NU atau tokoh-tokoh NU dibully, difitnah. Tidak peduli NU NU mau maju atau mundur. Dalam dirinya hanya ada merasa sebagai bagian dari warga NU.

Posisinya pun tergantung amil jazm. Bahkan pada beberapa kondisi, ia harus membuang salah satu (huruf) miliknya. Kehilangan bagian dirinya.

Kader jazm, ke-NU-annya 1 – 25 %. Setara emas 1 – 6 karat.

Kader Jarr
Jarr, atau khofad, tanda asli i’robnya adalah kasroh. Khofad, artinya rendah. Kasroh artinya pecah. Kader jarr, orientasinya adalah perpecahan dan kerendahan (mundur). Kadarnya sudah lebih baik dari jazm, namun masih melekat pragmatisme, individualisme, egoisme, rasisme, dll. Karena di dalamnya ada goir munsorif juga.

Kalau ada Kyai Tokoh NU berbeda pandangan, kader jarr malah suka hanyut ikut memanas-manasi konflik dan menjelekkan salah satu Kyai NU. Bahkan bersuka cita dengan khilafiyah tersebut dan menyebarkan gosip ke tetangga juga lebih respek kepada tetangga daripada kyai dan habaib NU sendiri. Padahal, seharunya akhlak santri adalah membela kyainya dari serangan tetangga, atau diam dan berdo’a agar di butakan dan ditulikan dari “aib gurunya”, “kekurangan kyainya”. Husnudzon dan ta’at pada kyai, apapun yg terjadi.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
dakwah.web.id