Menelusup Seorang Kisai Ulama Ahlu Kufah Yang Mahir di Bidang Ilmu Nahwu dan Alquran

Menelusup Seorang Kisai Ulama Ahlu Kufah Yang Mahir di Bidang Ilmu Nahwu dan Alquran

Almunawwar.or.id – Bak sebuah oase keilmuan yang terlahir dari seorang Ulama besar dan terkenal akan keluhungan dalam menjiwai sebuah ilmu-ilmu penting agama islam, terutama dalam menjadikan sebuah konsep ragam ilmu yang di kumpulkan melalui kepintaran dan kejeniusannya.

Kehadiran ilmu nahwu dan sharaf yang notabne nya merupakan ilmu dasar penting bagi seseorang yang ingin atau bermaksud menggali Al quran dan Al hadits memanglah sangat di butuhkan peran dan kontrisbusinya terlebih khusus bagi kurikulum pendidikan yang berjalan di beberapa lembaga seperti sekolah dan Pondok Pesantren.

Keberlanjutan dari keluhungan ilmunya tersebut tidak hanya di gunakan oleh Ulama-Ulama besar masa lampau, namun juga di akui sebagai dasar dari pada kajian penting tolak ukur ilmu yang berjalan di dalamnya, Seperti yang terkisahkan dari seorang Ulama ahli nahwu dan Al quran yang lahir dari kota Kuffah Irak.

Adalah Imam Al-Kisa’i dikenal sebagai Imam Qira’at dan sekaligus Imam ilmu-ilmu Bahasa (ʿulum al-lugha, plural karena ilmu bahasa tidak hanya terbatas Nahwu, namun juga ilmu-ilmu lain), meskipun dia juga seorang muhaddith –ahli dan periwayat hadis– handal.

Abu Bakar al-Ambari memuji al-Kisa’i sebagai orang yang benar-benar ahli dalam bidang Al-Qur’an, bacaannya sangat sempurna, dan mereka yang mendengarkan mencatatnya sehingga sebagian pengharakatan, pembacaan berdasarkan suku kata atas Al-Qur’an dan lain sebagainya didasarkan pada bagaimana al-Kisa’i membaca Al-Qur’an.

Al-Anbaari menyebutnya sebagai seorang yang sangat ahli dalam bidang Nahwu dan ilmu-ilmu sulit lainnya. Pernyataan al-Anbari ini kemudian dikuatkan oleh Imam Shafiʿi yang menyatakan bahwa “man arada ay yatabaḥḥara fin-naḥwy fahuwa ʿiyal ʿalal-Kisa’i”, barang siapa yang menginginkan melaut (ilmunya ibarat laut) dalam bidang Nahwu, maka dia adalah bagian dari keluarga al-Kisa’i (kisah-kisah ini dimuat dalam kitab Inba al-Ruwwa).

Dalam hal ini, peranan al-Kisa’i dalam aliran Kufah itu sebenarnya sangat mirip dengan peranan Imam Khalil dalam aliran Basrah. Al-Kisa’i adalah pelopor teori-teori Nahwiyah tradisi Kufah. Selain itu, al-Kisaa’i adalah orang pertama yang memperhatikan pentingnya melakukan ʿi’lal atas beberapa fragmen qira’ah dan mengaitkannya dengan qiyas yang bersifat Nahwiyyah.

Ada dua kitab karangan al-Kisa’i yang sangat penting terkait dengan masalah ini yaitu Ma’ani Al-Qur’an (Makna-makna Al-Qur’an) dan Kitab al-Qira’a (Buku tentang Qira’at).

Tokoh berikut dari aliran Kufah adalah Abu Zakariyya Yaḥya b. Ziyad al-Daylami, yang kemudian terkenal dengan sebutan al-Farra’ (144-207 H). Berbeda dengan al-Kisa’i, gurunya, al-Farra’ adalah seorang imam dalam bahasa Arab (al-imam fi al-ʿarabiyya).

Al-Zabidi dalam Tabaqa an-Naḥwiyyin, h. 132) memuncakkan pujian atas al-Farra’ dengan ungkapannya “jika tidak ada al-Farra’ apalah jadinya bahasa Arab karena dialah yang menjaga dan membatasinya, jika tidak ada al-Farra’ maka gugurlah bahasa Arab karena dialah yang menggiatkan dan mendakwahkannya pada setiap orang yang ingin.

Dan dialah yang mengajarkannya pada manusia sesuai dengan kadar akal mereka”,….Keistimewaan al-Farra’ adalah kemampuannya dalam menggabungkan pemikiran dari dua imam besar yang berasal dari dua tradisi yang berbeda yakni Sibawayhi (Basrah) dan al-Kisa’i (Kufah).

Kitab karangan al-Farra’ menurut perkiraan sebanyak dua puluhan dan dua di antaranya yang sangat penting adaalah Kitab al-Ḥudud dan Kitab al-Ma’anil-Qur’an. Perlu diketahui sedikit di sini bahwa kalangan ahli Nahwu dan Bahasa Arab pada masa ini seringkali memberikan judul pada karangan mereka dengan istilah-istilah seperti “maʿanil-Qur’an,” “majaz Al-Qur’an,” atau “Ta’wil Mushkila Al-Qur’an,” dan lain sebagainya.

Dan kitab-kitab yang beredar dan terkenal dengan menggunakan judul-judul di atas misalnya adalah Maʿani Al-Qur’an, karangan al-Akhfash, Maʿani Al-Qur’an karangan al-Farra’ sendiri, Majaz Al-Qur’an karya Maʿmar b. al-Muthanna Abi ‘Ubayda, dan Ta’wilu Mushkila Al-Qur’an karangan Ibn Qutayba.

Dalam konteks ini, Maʿani Al-Qur’an karangan al-Farra’ merupakan refleksi metodologis yang komplit dari zaman itu. Kitab ini membeberkan paradigma teoritis para ahli Nahwu dari kelompok Kufah. Kitab ini mengupas hal-hal yang dipandang gharib (sulit atau aneh) dalam ilmu Nahwu dan Bahasa Arab.

Al-Farra’ mengemukakan beberapa contoh iʿrab yang susah seperti pada Al-Qur’an surat Hud: , “alif-lam-ra’, kitabun.” Kitabun di sini dibaca ḍamma karena dimarfuʿkan oleh huruf “alif-lam-ra” yang disebutnya dengan istilah al-hija’.

Dia juga meneguhkan qira’a ʿAbdullah b. Masʿud dalam banyak hal misalnya penghilangan kata al-qawl pada surat al-Baqarah: 127, “wa idh yarfa’ ibrahim al-qawa’id min al-bayt wa isma’il rabbana taqabbal minn.a”Menurut al-Farra’, sebelum kata rabbana di atas ada kata “wa yaqulani” yang dihilangkan.

Dia juga membaca nasab (fatah) pada kata setelah ḥatta dalam al-Baqarah 214, “wa zulzilu ḥatta yaqula al-rasul” (sama dengan mushaf yang dianut di Indonesia) karena ada fi’il sebelum ḥatta. Dia mengutip qira’at Ibn Mas’ud “wa zulzilu thumma zilzilu wa yaqul al-rasul.”

Dia juga membolehkan fiʿil mudhakkar (bentuk maskulin) untuk faʿil mu’annath (pelaku feminin), dimana biasanya antara fi’il dan faa’il haruslah sepadan, artinya jika fi’il mu’annath, maka faa’il harus mu’annath pula atau sebaliknya sebagaimana terjadi pada al-Baqarah: 212, “zuyyina li al-ladhiina kafaruu al-hayaatu al-dunya.”

Tapi hal ini dengan syarat faa’ilnya terdiri dari isim masdar (kata dasar). Contoh-contoh lain dalam Al-Qur’an misalnya, al-Baqarah: 275, “faman ja’ahu mawʿiẓa min rabbihi, al-Anʿam: 104,”qad ja’akum basa’ir min rabbikum,” dan Hud: 67, “wa akhadha al-ladhina ḍalamu al-sayhatu.”

Perhatikan semua kata yang saya tebalkan, pasti sebagai santri anda akan menemukan letak permasalahannya. Al-Farra’ juga membahas kembalinya dhamir tunggal mudhakkar “hu” pada “al-An’am” (plural) dalam ayat al-Nahl: 66, “wa inna lakum fi al-an’aami la’ibrah nusqiikum mimmaa fii butuinihi.

Di sini kembali bukan pada bentuk jadi plural al-an’aami, tapi pada bentuk asalnya yaitu, al-niʿim. Apa yang bisa diambil dari al-Farra’ dalam hal ini adalah terselesaikannya persoalan teoritis Nahwiyah tentang ketidakkeseragaman bentuk fiʿil dan faʿil yang banyak sekali kita jumpai dalam Al-Qur’an.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id