Mengapa Harus Mengikuti Asy’ariyah? Inilah Jawaban dan Faktanya

Mengapa Harus Mengikuti Asy'ariyah Inilah Jawaban dan Faktanya

Almunawwar.or.id – Dalam perkembangan itikad ataupun aqidah yang terjadi di tubuh umat islam saat ini terdapat kaum-kaum yang sangat sekuler bahkan menyesatkan kaum yang bermadzhab Asy’ari dalam masalah usuluddin ataupun pondasi-pondasi asal aqidah umat islam.

Bahkan lebih parahnya lagi mereka tidak segan-segan menghukumi kufur bagi kelompok yang mengikuti maszhab Asy’ari tersebut, sehingga jika ini di biarkan tentu sangat di khawatirkan bisa memperpecah belah persatuan dan kesatuan umat islam di seluruh dunia.

Terlebih lagi sekarang sedang gencar-gencarnya terjadi gozhul fiqri atau perang pemikiran dan metode pemahaman tentang aqidah ahlu sunnah wal jamaah yang di gemborkan oleh sebagian kelompok, melalu pemahaman dan pemikiran yang mereka tuangkan dan kembangkan sendiri.

Sebagai masyarakat awwam hadirnya fenomena seperti ini tentu sangatlah membingugkan, mana yang sebenarnya madzhab yang harus di ikuti dalam menguatkan akidah ahlu sunnah wal jama’ah yang sesungguhnya. Nah pertanyaan dari problema publik seperti ini sangat dibutuhkan klarifikasi yang jelas dan kompeten.

Jangan sampai menyesatkan apalagi keluar daripada aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Karena itu justru akan merusak nilai-nilai aqidah islam yang sesungguhnya yang sejak dahulu di bentengi dengan ajaran-ajaran Nabi. Sebagai jawabannya, berikut penerangan dan ulasan tentang keharusan kita bermadzhab pada Asy’ari dalam urusan aqidah.

Dalam penerangannya Imam Izzuddin bin Abdissalam mengatakan bahwa sesungguhnya akidah madzhab Asy’ari telah disepakati oleh seluruh ulama Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan para petinggi ulama Hanbilah. Di antaranya adalah guru besar madzhab Malik yang hidup sezaman dengan Imam Asy’ari, yaitu Syaikh Abu Amr bin Hajib dan guru besar madzhab Hanafi, Jamaluddin al-Hushairi.

Pendapat ini di ikuti oleh para Ulama-ulama besar lainnya yang mengemukakan penerangannya seperti Imam al-Khayali mengatakan dalam Hasyiyah Syarah al-Aqaid bahwa madzhab Asy’ariyyah adalah Ahlussunnah wa al-Jama’ah .( Ittihaf as-Sadah juz 2 hlm. 7 ).

Bahkan menariknya lagi Ibnu Taimiyyah dalam al-Fatawi (IV/16) yang nitabane nya seorang ulama yang menjadi panutan bagi sebagian kelompok yang di maksud mengatakan tentang madzhab Asy’ariyyah: “Adapun para ulama yang melaknat Imam-Imam Asy’ariyyah.

Maka sesungguhnya siapa yang melaknat mereka, maka harus di ta’zir (di beri hukuman) dan laknat tersebut kembali kepada pelaknatnya. Siapa yang melaknat seseorang yang tidak berhak di laknat, maka laknat akan mengenai dirinya sendiri. Ulama adalah penolong ilmu-ilmu agama dan Asy’ariyyah adalah penolong dasar-dasar agama (ushul ad-din)”

Sebagai gambaran bukti dari kekeliruan mereka terhadap kaum Asy’ariyyah sebagaimana yang terdapat catatan yang ada pada kitab al-Ghuluw, makalah Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki hal. 23 dalam dialog nasional ke-2 di Makkah Mukarramah.

Dan di sebutkan bahwa tindakan anarkis dari sebuah kelompok yang selalu menyeru berjihad ternyata melakukan pembakaran kitab-kitab dan mausu’ah ilmiyyah (ensiklopedi) termasuk diantaranya adalah kitab Fath al-Bari syarah Shahih al-Bukhari karya al-Hafizh Ibnu Hajar hanya gara-gara beliau di tuduh bermadzhab Asy’ari serta mengikuti jejak Asy’ariyyah dalam mentafsiri hadits-hadits sifat yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari.

Lalu siapakah Asy’ariyyah sesungguhnya? Asy’ariyyah adalah kelompok ulama-ulama Islam yang terdiri dari ahli hadits, ahli fiqh dan ahli tafsir, diantara Ulama-Ulama besar yang termasuk pada madzhab Asyariyah diantaranya:

1. Al-Hafizh Abu Hasan ad-Daraquthni
2. Al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbahani, penulis Hilyah al-Auliya’
3. Al-Hafizh al-Hakim an-Nasaiburi, penulis al-Mustadrak
4. Al-Hafizh Ibni Hibban
5. Al-Hafizh al-Baihaqi
6. Al-Khathib al-Baghdadi
7. Al-Hafizh as-Sakhawi
8. Syaikh al-Islam Ibnu Shalah
9. Syaikh Ibnu Daqiq al-Id
10. Al-Hafizh Ibnu Abi Jamrah al-Andalusi
11. Al-Hafizh al-Mundziri, penulis at-Targhib wa at-Tarhib
12. Syah Waliyullah ad-Dihlawi, penulis kitab Hujjah Allah al-Balighah
13. Al-Hafizh al-Munawi, penulis kitab Faidh al-Qadir
14. Qadhi Iyadh, penulis asy-Syifa’ bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa
15. Syaikh Ibni Khaldun, penulis al-Muqaddimah
16. Abu Ishaq al-Isfirayini
17. Imam Abu Bakar al-Baqillani
18. Sa’duddin at-Taftazani, penulis kitab Syarah al-Maqashid
19. Sulthan al-Ulama, Izziddin bin Abdissalam
20. Imam Ibnu Asakir
21. Imam as-Sirazi
22. Al-Hafizh al-Kirmani, penulis Syarah Shahih al-Bukhari
23. Ibnu Hajar al-Asqalani (seorang ahli hadits yang tanpa disangsikan lagi bahwa pengarang kitab Fath al-Bari syarah Shahih al-Bukhari tersebut adalah bermadzhab Asy’ari dan kitabnya tersebut adalah kitab yang tidak bisa di tinggalkan ulama).
24. Imam an-Nawawi (guru besar Ahlussunnah dan pengarang kitab Syarah Shahih Muslim).
25. Imam al-Qurthubi (guru besar tafsir dan pengarang kitab tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an)
26. Imam al-Hafizh al-Mufassir Ibnu Katsir
27. Imam Mufassir Fakhruddin ar-Razi
28. Imam al-Hafizh al-Baghawi, penulis kitab Syarah as-Sunnah
29. Imam az-Zarkasyi
30. Imam Mufassir Abu Laits as-Samarqandi
31. Imam Mufassir Ibnu Athiyyah al-Andalusi
32. Imam Mufassir Abul Hasan an-Naisaburi
33. Ibnu Hajar al-Haitami (pengarang kitab az-Zawajir dan lain-lain)
34. Zakariyya al-Anshari (guru besar fiqh dan hadits)
35. Abu Bakar al-Baqillani
36. Al-Qusthalani (penulis Irsyad as-Sari Syarah Shaih al-Bukhari)
37. An-Nasafi (ahli tafsi dan penulis tafsir an-Nasafi)
38. Imam asy-Syirbini
39. Abu Hayyan an-Nahwi
40. Imam al-Juwaini
41. Imam al-Haramain
42. Imam al-Ghazali
43. Imam al-Qarafi, murid Izziddin bin Abdissalam
44. Imam az-Zabidi, pengarang kitab Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin
45. Imam as-Sathibi (ulama’ qira’at)
46. Imam Dhiya’uddin al-Maqdisi
47. Imam Ibnu Hajib
48. Imam Ibnu Abidin
49. Imam al-Qari’ Ibnu Jazri
50. Imam al-Hafizh Ahmad Ash-Shiddiq al-Ghumari
51. Imam al-Bajuri, penulis kitab al-Bajuri Ibni Qasim
52. Al-Habib al-Quthb Abdullah bin Alawi al-Haddad.
53. Imam ar-Rafi’I asy-Syafi’i
54. Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki
55. Syaikh Yusuf an-Nabhani
56. Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi (Mesir)
57. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Mekkah
58. Sayyid Abbas al-Maliki
59. Sulthan Shalahuddin al-Ayyubi (Dinasti Abbasiyyah)
60. Sulthan Muhammad al-Fatih
61. Dan lain-lain.

Dari itu semua, jika pengikut madzhab Asy’ariyyah di anggap sebagai orang sesat, maka berapa ribu ulama Asy’ariyyah dan berapa juta muslimin yang menjadi korban penyesatan dan pengkufuran? Lalu kenapa, mereka selalu mengutip pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Katsir, al-Qurthubi, ar-Razi, Ibnu Hibban dan lain-lain, yang padahal mereka semua dianggp sesat? Naudzubillahi Min dzalik.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com