Mengapa Kloning Manusia Tidak di Perbolehkan Dalam Islam? Berikut Penjelasannya

Mengapa Kloning Manusia Tidak di Perbolehkan Dalam Islam? Berikut Penjelasannya

Almunawwar.or.id – Meskipun terasa begitu janggal sekali, dimana prospek yang di kembangkan dan di buat oleh maju dan canggihnya teknologi saat ini yang mengacu pada sisi kehidupan manusia termasuk dari masalah penggandaan ataupun duplikat dari manusia itu sendiri atau yang lebih dikenal dengan sebutan kloning manusia.

Akan tetapi di sadari ataupun tidak semua itu sudah berjalan bahkan tidak sedikit yang melakukannya dengan alasan-alasan tertentu, mulai dari alasan ilmiyah, penelitian sampai dengan adanya uji coba untuk bisa menetapkan hasil dari pada survei ilmiyah dan penelitian tersebut.

Sehingga tidak sedikit dampak dari permasalahan seperti ini menunjukan kontroversi dari beberapa kalangan khususnya dari pandangan kaca mata islam, Dimana hakikat sejatinya seorang manusia adalah mahluq yang mulia dan harus di jaga semua keutuhannya.

Tentu tidak saja menjadi sebuah polemik yang mendasar bagi semua orang, masalah kloning seperti ini adalah bukti nyata dari dampak teknologi yang semakin maju dan canggih dengan presfektif dan objektifitas yang di timbulkannya itu adalah seorang manusia sendiri.

Istilah Kloning sendiri merupakan teknologi menciptakan duplikat suatu organisme melalui proses aseksual. Dimana aseksual itu menurut sumber wiki adalah sebuah definisi proses reproduksi di saat keturunan timbul dari orang tua tunggal, dan mewariskan genetika dari satu orang tua.

Dan Aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan meiosis, ploidi pengurangan, atau fertilisasi. Sebuah definisi yang lebih ketat adalah agamogenesis yang adalah reproduksi tanpa fusi gamet seperti apa yang banyak di lakukan oleh para ahli medis saat ini.

Sementara Reproduksi aseksual adalah bentuk reproduksi organisme bersel tunggal seperti archaea, bakteri, dan protista. Banyak tanaman dan jamur bereproduksi secara aseksual juga. Dan kini sudah mulai merambah ke penilitian yang menjadikan organ tubuh manusia sebagai objeknya.

Dengan melalui proses penanaman inti sel somatik (tubuh) ke dalam sel ovum yang sudah dihilangkan inti selnya. Kloning dapat dilakukan pada hewan, tumbuhan bahkan manusia.

Nah Islam dalam menghukumi pada masing-masing tipe kloning pun menjadi berbeda-beda. Untuk kloning tumbuhan dan hewan, Islam membolehkan. Akan tetapi kebolehan tersebut tidak berlaku pada kloning manusia. Mengapa bisa demikian?

Dalam Majma’ al-Fiqh al-Islami (Lembaga Fikih Islam) yang berada di Jeddah Saudi Arabia memutuskan bahwa hukum kloning manusia adalah haram. Dimana lembaga Fikih Islam beralasan bahwa bayi yang dihasilkan dari kloning manusia nasabnya tidak jelas.

Padahal dalam Islam, nasab merupakan hal penting yang dapat berkaitan dengan hukum syariat pada perwalian, perwakafan, pernikahan dan hak warisan yang semuanya berhubungan dengan nasab dan lain sebagainya termasuk dari semua hal yang berhubungan dengan hak individualnya.

Dalam sebuah ayat Alquran di terangkan Allah SWT berfirman dalam surat al-Najm ayat 45-46:

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰ

Artinya : “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. Dari air mani apabila dipancarkan”.

Selain sebab penghilangan nasab dan hukum yang berkaitan dengan pernikahan, perwalian, perwakafan dan hak waris, kloning juga menyalahi sunnatullah bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari melalui proses alami dari air mani yang dipancarkan dari gabungan pria dan wanita sebagaimana yang di jelaskan dari ayat tadi.

Senada dengan keterangan dalam sebuah hadits di riwayatkan :

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

Artinya : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil oleh Allah SWT pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian. Karenanya, perbaikilah nama kalian” (HR. al-Thabrani)

Berdasarkan Hadis tersebut Kiyai Ali Mustafa Yaqub menjelaskan bahwa Rasulullah SAW secara eksplisit memerintahkan umatnya untuk memperjelas nasab. Sehingga apapun yang dapat menyebabkan kekaburan nasab maka hukumnya tidak diperbolehkan. Sedangkan kloning manusia termasuk dalam hal yang dapat mengaburkan nasab.

Pada dasarnya Islam tidak melarang adanya inovasi dan kreativitas manusia untuk mengembangkan segala penemuan riset. Al-Qur’an mempertegas manusia untuk banyak menggunakan akal pikiran. Akan tetapi, jika suatu eksperimen dan riset tersebut melampaui ketentuan syariat maka Islam melarangnya.

Itulaha salah satu alasan penting mengapa masalah kloning manusia alam islam tidak di perbolehkan karena tidak sesuai dengan peraturan yang berjalan dalam kaidah islam itu sendiri, berdasarkan keterangan dari Al quran dan Al hadits sebagaimana yang telah di tuturkan penjelasannya tadi.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
arrahmah.co.id