Mengenal Hati Dari Dampak Energi Berkumpulnya Delapan Golongan Dan 8 Perkara

Mengenal Hati Dari Dampak Energi Berkumpulnya Delapan Golongan Dan 8 Perkara

Almunawwar.or.id – Banyak hal yang bisa berpengaruh pada diri seseorang ketika harus berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain di sekitarnya, Sehingga mampu merubah karakter dan pendirian dari orang tersebut karena memang itu adalah bagian dari pada resiko dalam sebuah pergaulan.

Bermacam corak status sosial seseorang baik dari pangkat, jabatan, kekayaan dan juga kedudukan ataupun yang lainnya itu setidaknya bisa memberikan dampak yang ada terhadap orang yang menggaulinya, entah itu sedikit ataupun banyak, namun setidaknya ada sisi positif dan negatif dari hasil bergaulnya tersebut.

Tidak di salahkan memang bergaul ataupun berinteraksi dengan siapa saja, bahkan tidak di syaratkan pula untuk memilih mana yang layak dan pantas untuk di jadikan sebagai sahabat dan lainnya, namun sejauh dan sekuat mana kita mampu mengambil hikmah di balik adanya pergaulan tersebut.

Sebab dalam hal ini tentu ada sisi baiknya dan ada pula sisi buruknya, meskipun kecenderungan terhadap dampak dari orang yan di gaulinya tersebut bisa di katakan signifikan sekali di banding dengan caranya seseorang tersebut mampu menjembatani ataupun memfilterisasi dari interaksi dengan liingkungan di sekitarnya.

Sehingga dalam definisi menyinggung dan menyoroti permasalahan seperti ini, Para Ulama ahli hikmah memberikan penjabaran tentang adanya efek besar terhadap diri perubahan karakter seseorang dalam ruang dan nuansa cara berkehidupan bersama orang-orang di sekitar.

Seperti redaksi dari keterangan yang termuat dari salah satu kitab para ahli hukum dalam kitab Salwah al-Akhzaan Lil Ijtinaab an Mujaalasah al-Ahdaats wan Niswaan I/40.yang menerangkan bahwa :

سلوة الأحزان للاجتناب عن مجالسة الأحداث والنسوان I/40
وقال بعض الحكماء: من جلس مع ثمانية أصناف زاد فيه ثمانية أشياء:
من جلس مع الأغنياء زاده قلة الشكر والرضا بقسمة الله تعالى أو عكسها ومن جلس مع السلطان زاده الكبر، وقساوة القلب. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوة.
ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح ومن جلس مع الفساق زاده الله الجراءة على الذنوب وتسويف التوبة ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات ومن جلس مع العلماء زاده الله العلم والورع

Artinya : “Berkata sebagian Ahli Hikamah “Seseorang yang berkumpul dengan delapan golongan maka akan tertambahkan dalam dirinya delapan macam perkara :

1. Barang siapa sering berkumpul dengan orang-orang kaya, maka akan tertambahkan dalam dirinya kurangnya rasa syukur dan kurang ridho atas bagian Allah padanya.
2. Barang siapa yang sering berkumpul dengan fakir miskin, maka akan tertambahkan dalam dirinya sifat pandai bersyukur dan rela dengan apa yang telah Allah berikan.
3. Barang siapa sering berkumpul dengan penguasa, maka akan tertambahkan dalam dirinya sifat sombong dan kerasnya hati.
4. Barang siapa laki-laki suka berkumpul dengan wanita, maka akan tertambahkan kebodohan dan syahwat dalam dirinya.
5. Barang siapa sering berkumpul dengan anak-anak, maka akan tertambahkan suka bermain-main dan canda tawa dalam dirinya.
6. Barang siapa sering berkumpul dengan para pendosa besar, maka akan tertambahkan dalam dirinya berani berbuat dosa dan maksyiat serta suka menunda-nunda Taubat.
7. Barang siapa sering berkumpul dengan para sholihin maka akan tertambahkan dalam dirinya ketaatan pada Tuhannya.
8. Barang siapa sering berkumpul dengan para ulama maka akan tertambahkan dalam dirinya ilmu dan sifat wara’i”.

Mengenal Hati
Tiga terma yang dimuat teks-teks al-Qur`an yang selalu diartikan hati. Tiga term tersebut adalah “fu`âd, lubb/al-bâb, dan qalb”. Sebenarnya apa kepahaman yang dapat diambil darinya. Yang pasti tiga terma ini menunjukkan fungsi atau prilaku yang berbeda namun sesungunya ontologinya hanya satu.

Signifikansi tulisan ini oleh karena nyaris semua amal ibadah yang diajarkan Islam menyangkut dan harus menjadi kinerja hati. Signifikansi pada konteks akhir ramadhan ini ialah berkaitan dengan ‘id al-fithri, kembali kepada fitrah. Jika ‘id berarti kembali, maka pertanyaannya, siapa yang kembali, kembali dari mana dan ke mana, mengapa harus kembali, kapan waktu kembali itu. Itu semua sangat terkait dengan dan harus berbicara hati.

Ada ungkapan dalam keseharian, ketika seorang anak hendak berpergian orang tuanya selalu memesankan “hati-hati ya nak”. Pesan ini menunjuk kepada supaya sang anak mesti menengok kepada suara hati, bertindak dengan kenerja hati.

Dalam sebuah hadis diingatkan “inna Allah lâ yanzhuru ilâ shuwarikum walâ ilâ a’mâlikum walâkin yanzhuru ilâ qulûbikum wa niyyatikum, Allah tidak menilik rupa dan amalmu tetapi Allah menilik hati dan niyatmu”. Di sini letak signifikannya hadis yang lain bahwa “ segala amal sebagaimana niyat”.

Tinggal kita secara akurat dan maksimal menunujuk dan mengerti ontologi dari niyat yang sesungguhnya dia adalah sangat tersangut dengan hati.

Term “hati” sebenarnya bukan sebagai arti langsung dari ketiga kata di atas. Kata “hati” masih sangat abstrak dan memang hanya sebagai ungkapan umum. Teks-teks al-Qur`an di antaranya mengungkapkan:

Hati diungkap dengan kata fu`âd/af`idah sebanyak 16 kali. Kata ini sebenarnya berarti fungsi dari kata fâ`dah. Jika kata “fu`âd” diusung memiliki arti hati, maka artinya fu`âd itu adalah hati yang berfungsi tertentu pada bagian tertentu pada diri kita.

Apa fungsi yang ditunjuk dengan kata “fu`âd” itu? Teks-teks al-Qur`an menerangkan bahwa kata “fu`âd” dengak kepada makna rasa, yang fungsinya lebih menyentuk fisik. menunjuk fungsi berbentuk pendengaran, penglihatan, dan rasa, bisa di lihat dari keterangan Al quran d bawah ini.

ثُمَّ سَوّٰىہُ وَ نَفَخَ فِیۡہِ مِنۡ رُّوۡحِہٖ وَ جَعَلَ لَکُمُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَشۡکُرُوۡنَ

Artinya : “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

Artinya : “Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”.

Rasa (af`idah) ini mewakili bau pada hidung, rasa pada lidah, dan rasa pada kulit. Jadi af`idah ini ternyata makna hati yang menunjuk dan mengarah kepada wujud panca indra. Oleh karena itu “fu`ad” nanti menunjik pada kinerja manusia kategori “insân”, yaitu manusia berkategori substansi kiri (Q.s. 14:37).

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.

Bentuknya fu`âd ini berindikasi manusia yang memperturutkan hawa (Q.s. 14:43)

مُہۡطِعِیۡنَ مُقۡنِعِیۡ رُءُوۡسِہِمۡ لَا یَرۡتَدُّ اِلَیۡہِمۡ طَرۡفُہُمۡ ۚ وَ اَفۡـِٕدَتُہُمۡ ہَوَآءٌ

Artinya : “Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.

Atau sifat yang mensuport sifat iri dengki, hasud. Ini tidak mengherankan oleh karena panca indra ini memang sifanya fisikly, maka di natar pintunya adalah dengan angan-angan (Q.s. 15:2) yang erat dengan sifat dunia yang selalu kekurangan terutama dalam hal harta.

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الأمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3)

Artinya : “Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Al-Hijr: 2-3)

Adapun wujud panca indra ini pada ungkapan tiga terma “al-sam’a, seperti dapat kita simak dari keterangan teks Q.s. 17:36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

“lâ taqfu mâ laisa laka bihî ‘ilmu inna al-sam’a wa al-abshâra wa al-af`idata kullu ulâ`ika kâna ‘anhu mas`ulâ, janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Ada tiga kata dimuat teks di atas yaitu “al-sam`a, al-abshâr, dan al-af`idah”. Secara bahasa tiga itu adalah jama’, maka kata berikutnya ada kata “kullun, ulâ`ika” menandakan jamak.

Tetapi kata berikutnya yang menggambarkan siapa yang bertanggung jawab, muncul kata “kâna, ‘anhu, mas`ûlan” menandakan bahwa yang bertanggungjawab itu adalah mufrad atau satu saja. Siapa yang satu itu?

Sebelum menjawab siapa yang satu itu, harus dijawab dulu pertanyaan “dari apa jadinya pendenganran, penglihatan, dan rasa itu”. Ternyata panca indra yang diwakili oleh tiga terma di atas adalah wujud jadi atau wujud nyata dari rûh.

Teks Q.s. 32:9 misalnya menggambarkan “kemudian Dia menyempurnakan (kejadian) manusia dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan [ruh itu] bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, sedikit sekali kamu yang sedang bersyukur.

Jadi sang satu dan dia yang bertanggungjawab atas perilaku panca infdra itu adalah rûh oleh karena, rûhlah yang membuat panca indra itu berfungsi. Artinya tanpa rûh panca indra tidak bisa apa-apa, pada orang tidur misalnya atau bahkan orang mati.

Pengungkapan kata “af`dah” ini terkait langsung dengan kata “syukur” dalam teks-teks al-Qur`an, artinya kata “af`idah” menujuk bahwa yang harus disyukuri adalah satu-satu pemberian atau anugrah Allah kepada manusia adalah rûh. Oleh karena itu syukur yang ditilik oleh Allah adalah syukurnya orang-orang yang mengerti rûh, dan itu sangat sedikit (Q.s. 32:9 berkorelasi langsung dengan 17:85)

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com