Mengenal Ketua Fatayat Tasikmalaya “Inspirasi Perempuan Muslim Indonesia”

Mengenal Ketua Fatayat Tasikmalaya Inspirasi Perempuan Muslim Indonesia

Almunawwar.or.id – Peranan seorang wanita pada sebuah struktural baik untuk keluarganya maupun bagi organisasi yang menjadi bagian penting di dalamnya itu sangat besar dan berharga sekali, mengingat terkadang lewat aya pemikirannya itu mampu merubah dan menemukan sesuatu gagasan yang baru dalam mengembangkan dan memajukan organisasi tersebut.

Meskipun berangkat dari pemikiran dan gaya pandang seorang wanita, tetapi itu tidak menutup kemungkinan lewat inspirasinya tersebut dalam menempatkan kedudukan dan peran seorang wanita pada sebuah organisasi itu akan lebih fleksibel lagi sesuai dengan apa yang di cita-citakan pada sebuah organisasi itu.

Setidaknya hal inilah yang di buat dan di perankan sendiri oleh beberapa tokoh Fatayat Nahdhotul Ulama termasuk di dalamnya seorang Hj. Enung Nursaidah Ilyas tercatat sebagai salah satu “Tokoh Inspirasi” pada buku “Dari Inspirasi Menjadi Harapan, Perempuan Muslim Indonesia dan Kontribusinya Kepada Islam yang Pluralis dan Damai.”

Peranan seperti inilah yang menjadi cikal bakal masa depan daya pemikiran para wniat muslimah untuk ke depannya, sebagaimana yang di lansir pada karya cipta beliau yang tertuangkan lewat sebuah bukunya dengan menginspirasi hebat cara pandang seorang wanita dalam berperan pada sebuah organisasi khusunya di wadah Nahdhotul Ulama itu sendiri.

Buku yang diterbitkan oleh LBH APIK Jakarta tersebut diluncurkan dan dibedah di Gedung Ukhuwah Islamiyah di Jalan Muktamar NU XXIX Cipasung pada Kamis, 8 Oktober 2015. Pada peluncuran, hadir penulisnya, Nusyahbani Katjasungkana, Ratna Batara Munti sebagai Narasumber. Serta Enung sendiri.

Menurut Ratna Batara Munti, putri ketiga KH Ilyas Ruhiat tersebut adalah sosok hebat dari pesantren dalam memperjuangkan hak hak perempuan pesantren. ia mampu memberikan manfaat ke masyarakat umum dengan PUAN Amal Hayati Cipasung yang dipimpinnya.

Enung, kata dia, mendirikan Pusat Krisis Untuk Perempuan Korban Kekerasan (PUSPITA) sebagai divisi PUAN Amal Hayati yang dipimpin Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. PUSPITA berhasil menangani masyarakat korban KDRT. Datanya menjadi rujukan pemerintah Tasikmalaya di bidang tersebut.

Dan, sambung dia, Enung ini salah seorang aktivis dari Tasik yang terus menyuarakan hak perempuan dan terus mengawalnya. ”Jadi, menurut saya, ia adalah tokoh luar biasa,” tegasnya.

Ratna meneruskan, sebagai Fatayat NU, Enung aktif dalam Kelompok Kerja Pemerintah Kabupaten yang dibentuk untuk memberantas kekerasan terhadap perempuan dan juga bekerja di Komisi Kesehatan Reproduksi Kabupaten Tasikmalaya.

Ia menyimpulkan, semua itu menunjukan putri KH Ilyas Ruhiat (Rais Aam PBNU 1994-1999) sungguh-sungguh bekerja untuk kemanusiaan di wilayah Tasikmalaya. Apalagi ketika ia mendirikan PUSPITA pada tahun 2004.

Enung Nursaidah Ilyas menceritakan prosesnya. Mulanya ia didatangi Ratna Batara pada 2010 lalu. “Ia datang ke Cipasung mengadakan penilitian, mewawancarai saya. Saya terkejut, ada apa tanya saya?” ungkapnya.

Ia mengaku terkejut ketika wawancara itu untuk buku “Dari Inspirasi Menjadi Harapan” yang akan memuat 6 Tokoh Perempuan Muslim Indonesia. “Saya terkejut karena sadar kapasitas saya. Tapi ia memaksa, ya sudah, tidak baik menolak maksud baik orang,” jelasnya.

Menurut Enung, hingga kini PUSPITA telah menangani 221 kasus. Dengan mediasi, kasus-kasus dalam keretakan rumah tangga, PUSPITA berhasil mendorong mereka untuk mempertahankan keutuhan keluarga. “Dan ada juga yang kami bantu untuk penceraian jika jalan yang terbaik itu,” katanya.

PUSPITA didirikan untuk pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat dan wanita pada khususnya. “Saya juga dibantu oleh suami saya, Dokter Jajang, sehingga jika ada korban yang terluka kita bisa langsung tangani,” pungkasnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id