Mengenal Sosok Nyai Djuaesih, Pelopor Kebangkitan Perempuan NU

Mengenal Sosok Nyai Djuaesih, Pelopor Kebangkitan Perempuan NU

Almunawwar.or.id – Salah satu hal yang mendorong terhadap majunya dan meningkatnya sebuah wadah orgnisasai islam seperti NU ini adalah tidak lepasnya peran besar yang di tunjukan dan di berikan oleh orang-orang didalamnya. Termasuk ketika pemikiran dan gagasan tersebut datang dari seorang perempuan.

Adalah Nyai Djuaesih yang merupakan tokoh wanita yang berperan besar terhadap lahirnya kebangkitan perempuan di organisasi NU itu. Sosoknya yang sangat sederhana serta mempunyai pemikiran yang cerdas adalah bagian dari sisi kepribadiannya yang menjadi suri tauladan bagi kaum-kaum wanita pada umumnya.

Meskipun adanya pandangan dan gagasan secara matang tentang peningkatan dan perkembangan yang didapatkannya itu tidak langsung ia dapatkan, Namun berkat kegigihan beliau dalam menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak perempuan untuk turut andil dalam meningkatkan sangatlah mendapat respon positif dari semua kelangan terutama bagi tokoh-tokoh Nahlotul Ulama itu sendiri.

Atas keteguhan dan cita-citanya yang kuat ini untuk lebih memberikan kesempatan bagi perempuan dalam mendaptkan haknya, Maka gagasan yang telah dikembangkannya tersebut mampu memberikan mandat dan kepercayaan baginya sebagai salah satu tokoh penggerak kebangkitan perempuan khususnya yang ada pada organisasi NU tersebut.

Berbekal pengalaman yang didapatnya karena kerap kali diajak suaminya dalam kegiatan organisasi, Nyai Djuaesih memiliki keberanian lebih dibandingkan perempuan sebayanya kala itu. Dia dengan lantang dan berapi-api menyuarakan suara hatinya terkait kesetaraan perempuan NU.

Sorot matanya tajam, dan dengan gaya retorika yang elegan istri dari Danuatmadja alias H.Bustomi itu menguraikan pandangannya. Dalam persidangan khusus bagian wanita Muktamar ke-13 NU di Menes, Nyai Djuaesih mengobarkan semangat kaumnya dan menyadarkan bahwa perempuan Nahdliyin memiliki tanggung jawab yang sama dengan kaum laki-laki NU.

“Di dalam Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita pun wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu, kami wanita yang tergabung dalam NU mesti bangkit,” pidatonya di atas mimbar mantap.

Sontak, pidatonya membuat para hadirin terpesona. Dia akhirnya dikenal sebagai sosok perempuan NU yang pertama kali naik mimbar dalam forum resmi organisasi. Isi pidatonya terkait tanggung jawab yang sama dalam organisasi menjadi rintisan pandangan dan cikal bakal lahirnya Muslimat NU.

Awalnya, Nyai Djuaesih mengusulkan agar perempuan turut andil dan aktif menjadi anggota NU. Hal itu sebagai pembelajaran sebelum perempuan NU mandiri dan memiliki organisasi sendiri.

Meski menjadi sosok perintis Muslimat NU, Nyai Djuaesih tak begitu menonjol sebagai organisator dalam kepengurusan Muslimat. Dia lebih populer sebagai mubalighat dalam kepengurusan Muslimat NU Jawa Barat. Sehingga, saat kepengurusan awal Muslimat tahun 1946, Nyai Djuaesih belum masuk susunan pengurus pusat yang saat itu ketua Muslimat NU dijabat Nyai Saodah Natsir. Baru pada periode 1950-1952, Nyai Djuaesih tampil sebagai ketua.

Seperti umumnya masyarakat pribumi zaman Hindia Belanda, peremuan yang dikaruniai tiga orang putra dan dua putri ini tidak mengenyam pendidikan formal. Sejak kecil ia dalam didikan kedua orang tuanya sendiri, R.O. Abbas dan R. Omara S. Selebihnya ia belajar dari pengalaman dan pergaulan dengan lingkungan sosialnya. Ayahnya yang seorang ustadz banyak membekali Djuaesih dengan ilmu agama, sedangkan ibunya mendidik dan mengajari budi pekerti dan tata cara hidup berumah tangga.

Meskipun tak pernah mengenyam pendidikan formal, Nyai Djuaesih menyadari betul pentingnya pendidikan bagi masa depan. Karenanya, begitu ada kesempatan ia pun menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan formal yang dibuka pemerintahan Hindia Belanda saat itu.

Tiga anaknya berhasil menamatkan pendidikan di MULO, sedangkan lainnya di HIS. Untuk ukuran zaman itu, apa yang dilakukan Djuaesih tergolong langka di tengah kehidupan pribumi yang serbasulit, tak hanya di bidang ekonomi dan politik tapi juga pendidikan.

Setidaknya dari segempalan tentang kisah yang di muat tadi bisa jauh lebih bermakna lagi terlebih khusus bagi semua perempuan yang turut aktiv dalam organisasi NU tersebut.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id