Mengenang Dan Mengenal Imam Al-Bushiri Lewat Sebuah Karya Sholawat Burdahnya

Mengenang Dan Mengenal Imam Al-Bushiri Lewat Sebuah Karya Sholawat Burdahnya

Almunawwar.or.id – Kecintaan seseorang terhadap sosok panutan memang bisa di gambarkan dan di wujudkan melalui berbagai media, salah satu di antaranya lewat baitan syair seroang pujangga yang mengkiaskan dan menggambarkan fujian-fujian terhadap baginda Rasulullah S.A.W.

Hal ini tertuliskan pada hadirnya sebuah karya cipta terbaik yang sudah menjadi kajian dan bacaan penting di dunia pesantren ahlu sunnah waljamaah, dimana saat momen-momen penting terutama di bulan kelahiran baginda Rasullullah S.A.W karya berbentuk shalawat itu selalu di bacakan oleh para Santri.

Adalah shalawat burdah yang sudah begitu di kenali oleh para kalangan pondok-pondok pesantren, bahkan hampir semua umat islam sudah mengenal apa itu shalawat burdah yang mengandung hikmah-hikmah tertentu yang menceritakan kisah baginda Rasulullah S.A.W selama masih hidup.

Kalangan pesantren, masyarakat tradisional dan kaum Ahlussunnah wal Jamaah tentu sangat karib-akrab dan bahkan mendarahdaging dengan syair/qashidah ini. Sekurang-kurangnya sudah delapan abad bergulir tradisi Burdahan dilestarikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Syair Burdah yang berjumlah 163 bait ditulis oleh seorang pujangga yaitu Imam al-Bushiri, ia adalah seorang imam para penyair pujian untuk para kekasih Tuhan semesta alam, penyusun al-Burdah yang mulia yg merupakan qasidah paling terkenal dalam pujian kepada Nabi SAW dalam bahasa arab. Namanya Imam Muhammad bin Sa’id al-Bushiri.

Al-Bushiri memulai hidupnya dengan menghafal Al-Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama dan bahasa arab. Lalu menempuh jalan tasawuf dengan bimbingan gurunya Abu al-Abbas al-Mursi. Kepenyairannya telah begitu detas mengilhamkan banyak qasidah puji-pujian untuk manusi termulia- semoga rahmat termulia dan salam paling sempurna tercurah kepada Rasulullah.

Ia wafat di Iskandariah tahun 696 H. Makamnya di Masjidnya disebuah pantai berhadapan dengan Masjid Abu al-Mursi. Banyak pecinta menziarahinya.

Kala itu al-Bushiri terkena penyakit lumpuh setengah badan. Tubuhnya yg kurus menanggung rasa sakit tak terkira. Para dokter tak mampu mengobatinya. Ketika penyakitnya ini amat memberatkan, ia bertekad menyusun qasidah pujia-pujian untuk Rasulullah SAW. Dengan qasidah ini ia berniat untuk memohon (kesembuhan) kepada Allah melalui syafaat Rasulullah SAW. Ia pun mulai menyusun qasidah itu yang dikenal sebagai “Burdah” (selimut).
Inilah bait pertama pada qasidah itu:

‎أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيْرَانٍ بِذِيْ سَلَمِ * مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ

Ah, adakah aku mengenang seorang teman (Rasulullah SAW) di Dzi salami
Engkau cucurkan air mata bercampur darah!

Ia menyanyikan dan melantunkan bait ini berulang-ulang, dan ia bertawasul kepada Allah melalui Nabi kita Muhammad SAW. Dalam upaya mengangkat penyakitnya. Ia banyak menangis dan berdoa. Ketika tidur, ia bermimpi berjumpa Rasulullah SAW. Denga tangan sucinya, Rasulullah mengusap bagian tubuh al-Bushiri yang amat sakit. Lalu beliau menyelimutkan kalimat kepada al-Bushiri.

Ketika bangun, al-Bushiri sudah sembuh dari penyakitnya, qasidahnya dinamai “Burdah” (selimut), karena qasidah ini dinisbahkan pada selimut Nabi Muhammad SAW, yg beliu lepaskan dari beliau dan beliau kenakan kepada al-Bushiri karena beliau kagum dengan qasidah al-Bushiri.

Beliau juga di kenal memiliki sebuah karya sastra terbaiknya yang di dedikasikan melalui bacaan shalawat yang di kenal dengan Sholawat Mudhoriyah yang dibuat oleh Imam Bushiri. Beliau telah banyak menggubah syair, sebagian di antaranya telah dicetak.

Dan yang paling kenal qashidah Burdah yang disambut baik oleh para ahli syair ulung dari Maghribi sampai ketanah air kita. Shalawat Mudhoriyah adalah salah satu syair karya Imam Al-Bushiri yang sangat besar keutamaanya. Dinamakan Mudhoriyah karena salah satu Datuk Nabi Muhammad yang bernama Mudhor.

Salah satu keistimewaan shalawat ini disebutjan dalam kitab Bughya Ahl Al-‘ibadah wa Al-Aurad Syar Ratib Qutb Zamanih Al-Haddad karya Al-Habib ALwi bin Ahmad Al-Haddad dikisahkan Imam Al Bushiri menyusun shalawat ini di pinggir pantai.

Ketika sampai pada syair no.34 yang berbunyi : “Tsummash-sholatu’alal-mukhtarima thala’at, syamsun-nahari wa ma qad sya’sya’al qamaru, tiba-tiba dari tengah laut datang seorang laki-laki yang berlari di atas air menghampirinya sambil berdiri di hadapannya sambil berkata “Cukup, akhirilah shalawatmu sampai bait ini, karena kamu telah membuat lelah para malaikat yang mencatat keutamaan pahala shalawat ini.

Dan Berikut Sya’ir Sholawat Mudhoriyah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Bismillahir-rahmanir-rahim

 

يَارَبِّ صَلِّ عَلَى الْمُخْتَارِمِنْ مُضَرِوَاْلأَنْبِيَاوَجَمِيْعِ الرُّسُلِ مَادُكِرُوْا

Ya rabbi shalli’alal-mukhtari min mudharin. Wal-anbiya wa jami’irusli madzu-kiru.
“Tuhanku, limpahkanlah rahmatMu untuk nabi pilihan dari suku Muhdar, juga untuk seluruh nabi dan rasul yang telah lalu.”

 

وَصَلِّ رَبِّ عَلَى الْهَادِي وَشِيْعَتِهِ وَصَحْبِهِ مَنْ لِطَيِّ الدِّيْنِ قَدْ نَشَرُوْا

Wa shalli rabbi’alal-hadi wa syi’atihi, Wa shabihi man lithayyid-dini qad nasyaru.
“Shalawat-Mu, wahai Tuhanku,atas nabi pembawa hidayah beserta seluruh pengikut dan shabatnya yang telah berjasa menyebarluaskan agama ini”

 

وَجَاهَدُوْا مَعَهُ فِي اللهِ وَاجْتَهَدُوْا وَهَاجَرُوْاوَلَهُ اَوَوْاوَقَدْنَصَرُوْا

Wa jahadu ma’ahu fillahi waj-tahadu. Wa hajaru wa lahu awaw wa qad nasharu.
“Yang telah ikut berjihad dan berijtihad bersama beliau, juga yang ikut hijrah bersama Beliau, dan yang memberi tempat singgah serta memenangkan misi Beliau.’

 

وَبَيَّنُواالْفَرْضَ وَالْمَسْنُوْنَ وَاعْتَصَبُوْا لِلهِ وَاعْتَصَمُوْابِاللهِ فَانْتَصَرُوْا

Wa bayyanul-fardha wal-masnuna wa’tashabu. Lillahi wa’tashamu billahi fantasharu.
“Yang telah menerangkan hukum wajib dan sunah secara bersatu padu, berupaya tanpa pamrih, dan berpegang teguh pada agama Allah hingga mereka mendapatkan kemenangan.”

 

أَزْكَى صَلَاةٍ وَأَنْمَاهَاوَأَشْرَفَهَا يُعَطِّرُالْكَوْنَ رَيًّانَشْرِهَاالعَطِرُ

Azka shalatin wa anmaha wa asyrafaha. Yu’athirul-kauna rayyan nasyrihal-‘athiru.
“Yaitu shalawat-Mu yang suci sesuci-sucinya,sebanyak-banyaknya, dan semulia-mulianya, yang menebarkan harum semerbak di seluruh alam semesta”.

 

مَعْبُوْقَةً بِعَبِيْقِ الْمِسْكِ زَاكِيَةً مِنْ طِيْبِهَاأَرَجُ الرِّضْوَانِ يَنْتَشِرُ

Ma’buqatan bi’abiqil-miski zakiya-tan. Min thibiha arajur-ridwani yantasyiru.
“Keharuman yang bercampur dengan misik kesturi yang mahal, yang aromanya tersebar luaslah keridloan-Mu”.

 

عَدَّالْحَصَى وَالشَّرَى وَالرَّمْلِ يَتْبَعُهَا نَجْمُ السَّمَاوَنَبَاتُ اْلأَرْضِ وَالْمَدَرُ

‘Addal-hasha wats-tsara war-ramli yatba’uha. Najmus-sama wa nabatul-ardhi wal-madaru.
“Sebanyak jumlah batuan,pasir beserta debunya, juga sebanyak bintang gemintang dilangit, tanaman, dan kerikil di bumi”.

 

وَعَدَّوَزْنِ مَثَاقِيْلِ الْجِبَالِ كَمَا يَلِيْهِ قَطْرُجَمِيْعِ الْمَاءِوَالْمَطَرُ

Wa’adda wazni matsaqilil-jibali kama. Yalihi qathru jami’il-ma’i wal matharu.
“Dan sejumlah beratnya timbangan gunung-gunung, sejumlah seluruh tetesan air yang mengalir dan air hujan”.

 

وَعَدَّمَاحَوَتِ الْأَشْجَارُمِنْ وَرَقٍ وَكُلِّ حَرْفٍ غَدَايُتْلَى وَيُسْتَطَرُ

Wa’adda ma hawatil-asyjaru min waraqin. Wa kulli harfin ghada yutla wa yus-tatharu.
“Juga sejumlah dedaunan yang terdapat di pepohonan,sebanyak semua huruf yang terbaca oleh lisan dan tertulis oleh pena”.

 

وَالْوَحْشِ وَالطَّيْرِوَاْلأَسْمَاكِ مَعْ نَعَمٍ يَلِيْهِمُ الْجِنُّ وَاْلأَمْلَاكَ وَاْلبَشَرُ

Wal-wahsyi wath-thairi wal-asmaki ma’ na’amin. Yalihimul-jinnu wal-amlaku wal-basyaru.
“Sebanyak jenis dan jumlah biantang liar, burung-burung, ikan dan hewan ternak. Juga sejumlah jin, malaikat dan manusia”.

 

وَالدَّرُّوَالنَّمْلُ مَعْ جَمْعِ الْحُبُوْبِ كَدَا وَالشَّعْرُوَالصُّوْفُ وَاْلأَرْيَاشُ وَالْوَبَرُ

Wadz-dzaru wan-namlu ma’jam’il hububi kadza. Wasy-sya’ru wash-shufu wal-arya-syu wal-wabaru.
“Sebanyak jumlah atom,semut dan semua jenis biji-bijian, juga sejumlah helai rambut manusia,hewan, dan bulu segala jenis binatang”.

 

وَمَاأَحَاطَ بِهِ الْعِلْمُ الْمُحِيْطُ وَمَاجَرَى بِهِ الْقَلَمُ الْمَأْمُوْرُوَالْقَدَرُ

Wa ma ahatha bihil-ilmul-muhithu wa ma. Jara bihil-qalamul-ma’muru wal-qadaru.
“Seluas kandungan ilmu Allah tentang makhluk dan apa yang ditulis qalam (pena) yang memuat suratan takdir”.

 

وَعَدَّنَعْمَائِكَ اللَّاتِي مَنَنْتَ بِهَاعَلَى الْخَلَائِقِ مُدْكَانُوْاوَمُدْحُشِرُوْا

Wa’adda na’ma-ikal lati mananta biha. ‘ALal-khala-iqi mudz kanu wa mudz husyiru.
“Sebanyak nikmat-nikmat-Mu, yang telah Engkau karuniakan kepada semua makhluk-Mu yang dahulu dan yang akan datang”.

 

وَعَدَّمِقْدَارِهِ السَّامِي الَّدِي شَرُفَتْ بِهِ النَّبِيُّوْنَ وَالأَمْلَاكُ وَافْتَخَرُوا

Wa ‘adda miqdarihis-samil-ladzi syarufat. Bihin-nabiyyuna wal-amlaku wafta-kharu.
“Setinggi jumlah derajat yang di capai oleh masing-masing nabi dan malaikat yang mulia, dengan maqam tersebut”.

 

وَعَدَّمَاكَانَ فِي اْلأَكْوَانِ يَاسَنَدِي وَمَايَكُوْنُ إِلَى أَنْ تُبْعَثَ الصُّوَرُ

Wa ‘adda ma kanna fil-akwani ya sanadi. Wa ma yakunu ila an tub’atsash-shuwaru.
“Sebanyak apa yang pernah ada kemudian tiada di alam jagat raya, dan apa yang masih ada maupun yang akan ada sampai kiamat”.

 

فِي كُلِّ طَرْفَةِ عَيْنٍ يَطْرِفُوْنَ بِهَاأَهْلُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِيْنَ أَوْيَدَرُ

Fi kulli tharfati ‘ainin yathrifuna biha. Ahlus-samawati wal-ardhina au yadzaru
“Sebanyak tiap kedipan mata yang di gerakan setiap penduduk langit dan bumi.”

 

مِلْءَالسَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِيْنَ مَعَ جَبَلٍ وَالْفَرْشِ وَالْعَرْشِ وَالْكُرْسِي وَمَاحَصَرُوْا

Mil-as-samawati wal-ardhina ma’a-jabalin. Wal-farsyi wal-‘arsyi wal-kursiy wa ma hasharu.
“Sepenuh isi langit dan bumi, gunung dan hamparan, dan seluas arsy, kursy, dan semua yang terdapat di dalamnya.”

 

مَاأَعْدَمَ اللهُ مَوْجُوْدًاوَأَوْجَدَمَعْ دُوْمًاصَلَاةًدَوَامًالَيْسَ تَنْحَصِرُ

Ma-a’damallahu maujuda wa auja-da ma’. Duman shalatan dawaman laisa tan hashiru
“Yang terus-menerus tiada henti selama Allah meniadakan yang ada dan mengadakan yang tiada, dengan berkelanjutan tanpa batas.”

 

تَسْتَغْرِقُ الْعَدَّمَعْ جَمْعِ الدُّهُوْرِكَمَا تُحِيْطُ بِالْحَدِّلاَتُبْقِيْ وَلاَتَدَرُ

Tastaghriqul-‘adda ma’ jam’id-duhuri kama. Tuhithu bil-haddi la tubqi wa la tadzaru.
“Yang melampai batas tanpa hitungan, dan menembus seluruh zaman, yang terus berjalan menjangkau apapun tanpa menyisakan.”

 

لَاغَايَةً وَانْتِهَاءًيَاعَظِيْمُ لَهَاوَلَالَهَاأَمَدٌيُقْضَى فَيُعْتَبَرُ

La ghayatan wantiha’an ya ‘azhimu laha. Wa la laha amadun yuqdha fayu’tabaru
“Yang tak berujung, tak berpangkal dan tak kenal habis, wahai Dzat Yang Maha Agung, Yang tak mengenal batas waktu hingga tak bisa di kira-kira.”

 

وَعَدَّأَضَعَافِ مَاقَدْمَرَّمِنْ عَدَدٍمَعْ ضِعْفِ أَضْعَافِهِ يَامَنْ لَهُ الْقَدَرُ

Wa ‘adda adh’afi ma qad marra min ‘adadin. Ma’ dhi’fi adh’afihi ya man lahul-qadaru
“Sebanyak jumlah kelipatan jumlah yang telah tersebut, ditambah kelipatan dari kelipatan tersebut, Wahai Dzat Yang Maha Kuasa melakukan segala sesuatu.”

 

كَمَاتُحِبُّ وَتَرْضَى سَيِّدِي وَكَمَاأَمَرْتَنَاأَنْ نُصَلِىَّ أَنْتَ مُقْتَدِرُ

Kama tuhibbu wa tardha sayyidi wa kama. Amartana an nushalliya anta muqtadiru
“Seperti yang Engkau sukai dan ridloi, seperti Shalawat yang Engkau perintahkan kepada kami, Engkaulah Yang Maha Kuasa.”

 

مَعَ السَّلَامِ كَمَاقَدْمَرَّمِنْ عَدَدٍرَبِّي وَضَاعِفْهُمَاوَالْفَضْلُ مُنْتَشِرُ

Ma’as-salami kama qad marra min ‘adadin. Rabbi wa dha’ifhuma wal-fardhlu muntasyiru.
“Beserta salam yang jumlahnya juga sebanyak bilangan di atas, ya Rabbi. Bahkan lipat gandakan nilai bilangan shalawat dan salam kami terus-menerus. Anugerah-Mu tak terbatas.”

 

وَكُلُّ دَلِكَ مَضْرُوْبٌ بِحَقِّكَ فِي أَنْفَاسِ خَلْقِكَ إِنْ قَلُّوْاوَإِنْ كَثُرُوْا

Wa kullu dzalika madhrubun bihaqqika fi. Anfasi khalqika in qallu wa in katsuru.
“Dan setiap shalawat serta salam tersebut di kalikan dengan jumlah seluruh napas makhluk-Mu, baik yang sedikit maupun yang banyak.”

 

يَارَبِّ وَاغْفِرْلِقَارِيْهَاوَسَامِعِهَاوَالْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًاأَيْنَمَاحَضَرُوْا

Ya Rabbi waghfir liqariha wa sami’iha. Wal-muslimina jami’an ainama hadharu.
“Dan,Tuhanku, hapuskanlah dosa-dosa orang yang membaca shalawat ini, juga yang mendengarnya dan semua muslimin dimanapun mereka berada.”

 

وَوَالِدِيْنَاوَأَهْلِيْنَاوَجِيْرَتِنَاوَكُلُّنَاسَيِّدِي لِلْعَفْوِمُفْتَقِرُ

Wa walidina wa ahlina wa jiritana. Wa kulluna sayyidi lil-afwi muftaqiru.
“Juga kedua orang tua kami,tetangga kami. Dan kami semua, oh Tuhan, sangat membutuhkan ampunan-Mu.”

 

وَقَدْأَتَيْتُ دُنُوْبًالَاعِدَادَلَهَالَكِنَّ عَفْوَكَ لَايُبْقِي وَلَايَدَرُ

Wa qad ataitu dzunuban la ‘idada laha. Lakinna ‘afwaka la yubqi wa la yadzaru.
“Sungguh, aku telah melakukan dosa-dosa yang tak terhitung jumlahnya,namun luasnya ampunan-Mu dapat menghapuskan dosa-dosa tersebut sampai tak tersisa.”

 

وَالْهَمُّ عَنْ كُلِّ مَاأَبْغِيْهِ أَشْغَلَنِيْ وَقَدْأَتَى خَاضِعًاوَالْقَلْبُ مُنْكَسِرُ

Wal-hammu ‘an kulli ma abghihi asyghalani. Wa qad ata khadi’an wal-qalbu munkasiru.
“Kepayahan dalam usaha mencari apa yang kuharapkan telah menyita banyak waktuku, sekarang aku datang bersimpuh di hadapan-Mu dalam kehinaan.”

 

أَرْجُوْكَ يَارَبِّ فِي الدَّارَيْنِ تَرْحَمُنَابِجَاهِ مَنْ فِي يَدَيْهِ سَبَّحَ الْحَجَرُ

Arjuka ya Rabbi fid-daraini tarhamuna. Bijahi man fi yadaihi sabbahal-hajaru.
“Tuhanku,aku memohon agar Engkau mengasihi kali didunia dan akhirat dengan kemuliaan orang yang batupun bertasbih di tangannya (Nabi Muhammad SAW).”

 

يَارَبِّ أَعْظِمْ لَنَاأَجْرًاوَمَغْفِرَةً فَإِنَّ جُوْدَكَ بَحْرٌلَيْسَ يَنْحَصِرُ

Ya Rabbi a’zhim lana ajran wa magh-firatan. Fa inna judaka bahrun laisa yanhashiru.
“Ya Tuhanku, besarkan dan limpahkan untuk kami pahala serta ampunan-Mu, karena kemurahan-Mu bagai lautan tak bertepi.”

 

وَاقْضِ دُيُوْنًالَهَااْلأَخْلَاقُ ضَائِقَةٌ وَفَرِّجِ الْكَرْبَ عَنَّاأَنْتَ مُقْتَدِرُ

Waqdhi duyunan lahal-akhlaqu dha-iqatun. Wa farrijil-karba ‘anna anta muqtadiru.
“Dan lunaskanlah hutang-hutang kami, yang membuat ruang gerak kami seakan menjadi sempit, dan bebaskan kami dari kesulitan yang menimpa kami, Engkau Maha kuasa.”

 

وَكُنْ لَطِيْفًابِنَافِي كُلِّ نَازِلَةٍ لُطْفًاجَمِيْلًا بِهِ اْلأَهْوَالُ تَنْحَسِرُ

Wa kun lathifan bina fi kulli nazilatin. Luthfan jamilan bihil-ahwalu tanhasiru.
“Dan kasihanilah kami pada setiap bencana yang melanda kami, karena dengan kasih-Mu segala yang menakutkan itu akan sirna.”

 

بِالْمُصْطَفَى الْمُجْتَبَى خَيْرِاْلأَنَامِ وَمَنْ جَلَالَةً نَزَلَتْ فِي مَدْحِهِ السُّوَرُ

Bil-mushthafal-mujtaba kahiril-anami waman. Jalalatam nazalat fi madhihis-suwaru.
“Dengan kemuliaan Al-Mushthafa Al-Mujtaba (Rasulullah), sebaik-baik manusia, yang telah turun ayat-ayat suci berisi pujian dan sanjungan terhadap Rasulullah.”

 

ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَى الْمُخْتَارِمَاطَلَعَتْ النَّهَارِوَمَاقَدْشَعْشَعَ اْلقَمَرُ

Tsummash-shalatu ‘alal-mukhtari ma thala’at. Syamsun-nahari wama qad sya’sya’al qamaru.
“Kemudian sebagai penutup,semoga kasih sayang-Mu selalu terlimpah untuk Al Mukhtar (Yang Terpilih,Rasulullah), selama matahari masih terbit dan rembulan masih memancarkan sinarnya.”

 

ثُمَّ الرِّضَاعَنْ أَبِى بَكْرٍخَلِيْفَتِهِ مَنْ قَامَ مِنْ بَعْدِهِ لِلَّدِيْنِ يَنْتَصِرُ

Tsummar-ridha ‘an abi bakrin khalifatihi. Man qama min ba’dihi liddini yantashiru.
“Kami memohon pula ridho-Mu untuk Khalifah Abu Bakar, yang telah berjasa mengemban misi agama ini setelah Beliau tiada hingga berhasil.”

 

وَعَنْ أَبِيْ حَفْصٍ الْفَارُوْقِ صَاحِبِهِ مَنْ قَوْلُهُ الْفَصْلُ فِي أَحْكَامِهِ عُمَرُ

Wa ‘an abi hafshil-faruqi shahibihi. Man qauluhul-fashlu fi ahkamihi ‘umaru.
“Begitu pula untuk Abu Hafsh Al-Faruq Umar bin Khathab, orang yang perkataannya terkenal selalu benar dan yang tegas dalam berhukum.”

 

وَجُدْلِعُثْمَانَ دِيْ النُّورَيْنِ مَنْ كَمُلَتْ لَهُ الْمَحَاسِنُ فِي الدَّارَيْنِ وَالظَّفَرُ

Wa jud li ‘utsmana dzin-nuraini man kamulat. Lahul-mahasinu fid-daraini wazh-zhafaru.
“Juga untuk Utsman bin Affan Dzun-Nurain (orang yg memiliki dua cahaya), yang memiliki kebaikan dan kemenangan sempurna dunia dan akhirat.”

 

كَدَاعَلِيٌ مَعَ ابْنَيْهِ وَأُمِّهِمَاأَهْلُ الْعَبَاءِ كَمَا قَدْجَاءَنَاالْخَبَرُ

Kadza ‘aliyyun ma’abnaihi wa ummihima. Ahlul-‘aba’i kama qad ja’anal-khabaru
“Juga untuk Ali serta kedua putranya dan ibu kedua putranya (Sayidah Fatimah), mereka itu adalah Ahlul-Aba (keluarga dalam pelukan kasih sayang Nabi) sebagaimana di sebutkan dalam hadist.”

 

كَدَاخَدِيْجَتُنَاالْكُبْرَى الَّتِي بَدَلَتْ أَمْوَالَهَالِرَسُوْلِ اللهِ يَنْتَصِرُ

Khadza khadijatunal-kubrallati badzalat. Amwalaha lirasulollahi yantashiru
“Begitu pula untuk Khodijah Al Kubra, wanita yang mengorbankan hartanya untuk dakwah Rasulullah hingga Beliau meraih kemenangan.”

 

وَاللطَّاهِرَاتُ نِسَاءُالْمُصْطَفَى وَكَدَابَنَاتُهُ وَبَنُوْهُ كُلَّمَادُكِرُوْا

Wath-thahiratu nisa-ul-musthafa wa kadza. Banatuhu wa banuhu kullama dzukiru.
“Dan para wanita suci, istri-istri Nabi Al Musthafa, juga untuk putra dan putri beliau selama mereka dikenang.”

 

سَعْدٌسَعِيْدُابْنُ عَوْفٍ طَلْحَةٌ وَأَبُوْ عُبَيْدَةً وَزُبَيْرٌسَادَةٌ غُرَرُ

Sa’dun sa’idubnu ‘sufin thalhstun wa abu. ‘Ubaidata wa zubairun sadatun ghuraru.
“Juga untuk para sahabat Nabi, Sa’ad bin Abi Waqas, Sa’id bin Jubair, Abdurahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah dan Zubair bin Awwam, pemimpin-pemimpin yang berwibawa.”

 

وَحَمْزَةٌ وَكَدَاالْعَبَّاسُ سَيِّدُنَاوَنَجْلُهُ الْحَبْرُمَنْ زَالَتْ بِهِ الْغِيَرُ

Wa Hamzatun wa kadzal-‘abbasu sayyiduna. Wanajluhul-habru man zalat bihil-ghiyaru
“Begitu juga untuk Hamzah dan Abbas beserta putranya (Abdullah bin Abbas), seorang ulama yang dapat menyelesaikan berbagai masalah sesulit apapun.”

 

وَاْلاَلُ وَالصَّحْبُ وَاْلأَتْبَاعُ قَاطِبَةً مَاجَنَّ لَيْلُ الدَّيَا جِيْ أَوْبَدَاالسَّحَرُ

Wal-alu wash-shahbu wal-atba’u qathi-batan. Ma janna lailud-dayaji au badas-saharu
“Dan untuk keluarga, sahabat, dan pengikutnya selama malam masih beredar, atau selama fajar masih menyingsing.”

 

مَعَ الرِّضَامِنْكَ فِيْ عَفْوٍوَعَافِيَةٍ وَحُسْنِ خَاتِمَةٍ إِنْ يَنْقَضِي الْعُمْرُ

Ma’ar-ridha minka fi ‘afwin wa ‘afiatin. Wa husni khatimatin in yanqadhil-‘umru.
“(Semua itu) beserta keridhaan, ampunan serta kesejahteraan dari-Mu, dan semoga khusnul khatimah dapat tercapai menjelang ajal nanti”.

Imam Bushiri pun segera menutup shalawatnya dengan permohonan ridho Allah untuk keluarga Rasulullah dan para Sahabatnya. Imam Bushiri menghembuskan nafas terakhir di kota Iskandariyah, Mesir, pada tahun 696 H atau 1296 M. Ia dimakamkan di samping sebuah masjid besar yang bersambung dengan makamnya, tak jauh dari masjid dan makam sang guru, Syaikh Imam Abu Al-Abbas Al-Mursi.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
santrionline.net
piss-ktb.com
almunawwar.or.id