Mengenang Penggagas Resolusi Jihad dan Momentum Lahirnya Hari Santri Nasional

Mengenang Penggagas Resolusi Jihad dan Momentum Lahirnya Hari Santri Nasional

Almunawwar.or.id – Peran aktif yang di suguhkan dan di kukuhkan oleh beberapa tokoh pergerakan kemerdekaan nasional adalah salah satu bagian penting terhadap terwujudnya sebuah kemerdekaan yang hakiki, Dimana nilai perjuangan yang kokoh menjadi pelopor dasar dari perjuangan dan pergerakan kemerdekaan tersebut.

Adalah satu peran penting yang selalu di gelorakan dan di kobarkan oleh para pejuang nasional termasuk di dalamnya peran aktif yang di kukuhkan oleh beberapa tokoh Ulama nasional dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan serta menjaga sekaligus mengusir dan membebaskan penjajahan di bumi Nusantara tercinta ini.

Dan sosok itu adalah seorang kyai masyhur akan kesehajaan dan keluhungan ilmunya, juga semangat jihad dan nilai juang patriotisme yang di tumbuhkan kepada santri-santri dan rakyat semua sebagai bentuk dari pada salah satu bagian penting terhadap tercetus panji reklamasi kemerdekaan.

Yang tertuangkan pada sebuah rumusan dalam bentuk pendedikasian seorang tokoh ulama terhadap terciptanya peran tersebut lewat pengenangan jasa-jasanya yang besar, Sehingga lahirlah proklamir hari santri se-indonesia yang tidak lepas dari nilai perjuangannya itu, berikut sekilas tentang perjuangan sosok seorang Hadratussyaikh KH.Hayim Asy’ari

Hasyim Asyari yang akrab disapa dengan gelar Hadratussyaikh merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dari keluarga Hasyim Asyari pula lahir cendekiawan dan generasi cemerlang setelahnya yang juga meneruskan perjuangan beliau, Wahid Hasyim hingga Abdurrahman Wahid salah satu buktinya.

Kelahiran organisasi keagamaan Islam terbesar di nusantara ini Nahdhatul Ulama (NU) adalah hasil nyata perjuangan beliau beserta rekannya dalam usahanya memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara yang selaras dengan keagamaan.

Sepak terjang NU sebagai organisasi keagamaan besar di Indonesia tidaklah sedikit, dari bidang keagamaan hingga partisipasinya dalam menyokong perjuangan merebut kemerdekaan. Resolusi Jihad adalah salah satu buah pemikiran Sang Hadratussyaikh bersama para ulama NU kala itu dalam usahanya meraih kemerdekaan.

Usaha NU dalam Mencapai Kemerdekaan melalui Jalur Politik
Sebagaimana dikemukakan oleh Andree Fielard dalam NU vis-a-vis Negara : Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, keterlibatan NU sebagai organisasi keagamaan dalam menentukan garis politik melawan penjajah Belanda menjelang Perang Dunia II terjadi ketika NU bersama organisasi Islam lainnya membentuk sebuah konfederasi.

Konfederasi organisasi Islam tersebut selanjutnya dikenal dengan Majlis Islam A’laa Indonesia (MIAI) pada tahun 1937. Saat Jepang menduduki Indonesia pada Februari 1942 MIAI dibubarkan dan kemudian digantikan oleh Majlis Sjuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang siap membantu segala kepentingan Jepang.

Pada tahun 1942 pula Jepang yang bertindak sewenang-wenang mulai mendapat reaksi keras dari para ulama, termasuk KH. Hasyim Asyari. Adapun tindakan sewenang-wenang tersebut adalah penghormatan terhadap kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan (Sikerei).

Atas reaksinya, KH. Hasyim Asyari kemudian dijebloskan ke penjara pada tahun yang sama selama beberapa bulan. Atas tindakan ini pihak Jepang meminta maaf kepada masyarakat muslim, dan memberikan status terhormat kepada para ulama. Dengan demikian terciptalah kerjasama antara NU dengan Jepang.

Baru pada tahun 1944, KH.Hasyim Asyari diangkat menjadi ketua Shumubu atau Kantor Urusan Agama bentukan Jepang. Hal ini membuat NU mulai masuk dalam urusan pemerintahan untuk pertama kalinya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh NU dalam upayanya ikut berpartisipasi mencapai kemerdekaan Indonesia.

Di tahun ini pula putra KH.Hasyim Asyari, Wahid Hasyim berhasil membujuk Jepang untuk memberikan latihan militer bagi para santri dan membentuk barisan pertahanan. Barisan pertahanan tersebut kemudian dikenal dengan Hizbullah dan Sabilillah.

Sementara kalangan yang netral agama yang membentuk barisan pertahanan tergabung dalam PETA yang telah terbentuk tahun sebelumnya, September 1943. Barisan Hizbullah dan Sabilillah inilah yang nantinya ikut bertempur dalam laga pertempuran di Surabaya.

Resolusi Jihad sebagai Usaha Mempertahankan Kemerdekaan
Pasukan Inggris mendarat di Jawa sejak September 1945 sebagai sekutu Belanda dalam usahanya menanamkan kembali kekuasaannya di Hindia Belanda. Sebagian kota besar telah jatuh ke tangan mereka seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Sasaran selanjutnya adalah kota Surabaya. Mendengar kabar tak enak ini, para ulama NU berkumpul pada tanggal 22 Oktober 1945 dan menyatakan Jihadnya melawan koalisi Inggris-Belanda.

Para ulama tersebut berkumpul di Jalan Bubutan VI Nomor 2, Surabaya. Sebelumnya, pada tanggal 17 September 1945 KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa jihad yang isinya hampir sama dengan Resolusi Jihad. Adapun isinya adalah mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945, dan Indonesia sebagai pemerintah yang sah harus dibela dan Jihad melawan Belanda merupakan kewajiban bagi umat Islam. Naskah lengkap resolusi Jihad tersebut dimuat dalam Aula, No.7, Tahun II.

Setelah memanggil para ulama se-Jawa dan Madura di Surabaya tersebut, teks resolusi Jihad dikirim kepada Presiden Soekarno dan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jenderal Soedirman. Sementara di Surabaya, KH.Hasyim Asyari mempercayakan pelaksanaan Resolusi Jihad kepada Bung Tomo.

Hal ini dikarenakan Bung Tomo memiliki kedekatan dan hubungan khusus dengan kelompok Islam. Kedekatan inilah yang membawanya dekat pula dengan KH.Hasyim Asyari. Sejak Jepang menduduki Indonesia, Bung Tomo sering sowan ke KH.Hasyim Asyari guna mendapatkan kekuatan hati dan keteguhan spiritual dalam masa perang.

Konon, dua hari sebelum insiden Hotel Yamato tanggal 19 September 1945, Bung Tomo mendatangi kediaman KH.Hasyim Asyari di Tebu Ireng, Jombang. KH.Hasyim Asyari kemudian memberinya bekal secarik kertas berisi fatwa jihad dalam huruf Arab Pegon. Selain itu KH.Hasyim Asyari sendiri membantu pembiayaan pasukan Hizbullah yang akan bertempur dibawah komando Bung Tomo.

Kedekatan Bung Tomo serta Jenderal Soedirman dengan KH.Hasyim Asyari berlangsung hingga menjelang akhir hayat sang kiai pada tanggal 25 Juli 1947. Sebelum Beliau wafat, Bung Tomo dan Jenderal Soedirman mengirim utusan melaporkan perkembangan soal Agresi Militer Belanda I ke Tebu Ireng. Utusan tersebut memberi laporan bertepatan dengan hari ketujuh Ramadhan seusai Tarawih.

Selepas Tarawih, biasanya KH.Hasyim Asyari memberikan ceramah di masjid. Ketika utusan tersebut tiba, Beliau menghentikan ceramahnya dan meninggalkan masjid ke rumahnya. Letak rumah Beliau bersebelahan dengan masjid tersebut. Sesampai dirumah, Sang Kiai ambruk dalam kondisi lunglai. Dalam kondisi demikian tak hentinya Hadratussyaikh berseru “Masya Allah…”. Tak lama setelah itu, Beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Sang Kiai telah menghadap sang ilahi, namun api semangat perjuangan bersama para santri dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara nan selaras dengan kehidupan agama yang Ia anjurkan senantiasa hidup dalam sanubari bangsa ini.

Guna menghormati jasa KH. Hasyim Asyari beserta para santri yang gugur di medan juang, maka ditetapkanlah tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015 beberapa waktu lalu.

Dedikasi Santri untuk Indonesia Mandiri

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
goodnewsfromindonesia.id
almunawwar.or.id