Mengetahui Hukum Sholat Memakai Minyak Wangi Yang Beralkohol

Mengetahui Hukum Sholat Memakai Minyak Wangi Yang Beralkohol

Almunawwar.or.id – Dalam kajian fiqih terdapat ketentuan yang memang sangat di syaatkan untuk suci dalam melakukan sebuah amalan seperti sholat miasalnya. Dimana tidak hanya sebatas melaksanakan syarat dan rukunnya saja, akann tetapi secara kesucian dan kebersihan dari tiga hal haruslah menjadi perhatian.

Yang di maksud dari ketiga hal tersebut adalah badan musholli (orang yang melakukan sholat), tempat sholat dan juga pakaian yang dipakai pada sholat tersebut. Dari ketiga-tiganya itu meski terhidar dari hal yang bisa membatalkan sholat seperti tercampur atau membawa najis.

Lalu bagaimana jika sholat dengan menggunakan wewangian yang sudah tercampur dengan berbahan alkohol, yang biasanya sudah barang tentu di zaman sekarang ini sudah banyak orang yang memakai wewangian ataupun obat yang didalamnya terkadnung zat Alkohol, berikut penerangannya?

Untuk mentralisir pertanyaan seperti itu maka terlebih dahulu harus diketahui kadar alkohol yang dicampurkan pada wewangian ataupun obat. Sebagaimana yang sudah menjadi kebijakan pada proses pembuatan yang ada di industri minyak wangi yaitu Kadar alcohol ini bermacam-macam :

1. Jika untuk Minuman Keras maka itu kadarnya 25-50%
2. Jika untuk Obat-obatan kadarnya itu 4 atau 5%
3. Jika untuk Spiritus kadarnya mencapai 70-96%

Spriritus merupakan larutan alcohol dalam air yang dibubuhi suatu zat yang beracun supaya tidak dipakai untuk minuman keras maka diberi warna biru untuk menandainya”.

Sementara untuk definisi alkohol sendiri dalam bidang kimia adalah nama kumpulan senyawa organik yang mengandung gugus OH yang biasanya terikat pada rantai yang bersifat paraffin. Ada juga Etil alkohol yang disebut Etanol (CH3,CH2,OH) yaitu zat cair yang tak berwarna namun baunya menyengatkan. Dalam teknik sangat banyak dipergunakan, baik sebagai bahan pelarut maupun sebagai bahan pangkal untuk sintesa-sintesa selanjutnya.

Adapun bahan ataupun proses dalam membuat Alkohol itu terdiri dari:

1. Bahan yang mengandung gula : seperti gula tebu, gula bit , melasa n berbagai buah-buahan
2. Bahan yang banyak mengandung zat pati (amilum): seperti kentang, jagung dan lain-lain.
3. Umbi yang mengandung fruktosa dan lignin.
4. Bahan yang mengandung selulosa: ampas kayu (yang bisa menggula jika diolah dengan asam chlorida dan dimampatkan).

Pertanyaannya adalah bagaimana hukum daripada memakai pakaian yang wewangiannya mengadnung zat alkohol? Apakah sholatnya itu syah atau tidak?

Maka jawabannya sebagaimana yang diterangkan dalam kajian yang terdapat pada kitab Fiqih ‘ala Madzahibil Arba’ah 1 (kalau di kitab ana hal.21)

ومنها المائعات النجسة التي … تضاف إلى الأدوية والروائح العطرية لإصلاحها فإنه يعفى عن القدر الذي به الإصلاح قياسا على الأنفحة المصلحة للجبن

Artinya : “Termasuk bagian najis yang di ma’fu (dimaafkan) adalah najis yang terdapat pada obat-obatan dan wewangian harum dengan tujuan untuk memperbaikinya, maka di ma’fu sekedar takaran yang dipakai untuk memperbaikinya dengan dianalogkan pada aroma yang memperbaiki pada keju. Kalau minuman keras maka itu najis muthlak karena al-Qur’an mensifatkannya dengan “rijsun”(najis). Sedangkan alcohol bukanlah minuman pada ‘urf. Adapun jika digunakan untuk obat jika kadarnya kurang dari 4 atau 5% saja yang tidak sampai banyaknya membuat mabuk maka boleh. ( Hasyiyatus Syarqowy ‘alat Tahrir juz 2 : 449).

Namun untuk kehati-hatian lebih baik hal semacam itu dihindari memakai parfum beralkohol. Akan tetapi jika penggunaan alcohol itu hanya sekedar untuk menghilangkan bau badan atau bajunya (bukan untuk mewangikan dirinya), jika najis maka termasuk Ma’fuw ( najis yang dima’afkan ).

Sebagaimana yang dijelaskan dari qowaid ushul Fiqih yang menyebutkan

يجب تعليم ما يتعلق بالتصور علي ما يتعلق بالتصديق

Artinya : “Wajib mendahulukan sesuatu yang berhubungan dengan tashowwur (mengenal hakikat sesuatu) atas sesuatu yang berhubungan dengan tasdiq (hukum).”

Sementara alkohol yang dicampurkan pada bahan obat dengan keterangan redaksinya sebagai berikut

و اما لو استهلكت الخمرة في الدواء بان لم يبق لها وصف فلا يحرم استعمالها كصرف باقي النجاسات هذا ان عرف او اخبره طبيب عدل

Artinya : “Adapun jika arak dilarutkan di dalam obat, dengan tidak tinggal baginya sifat arak, maka tidaklah haram mempergunakannya, seperti najis lain yang murni. Hal ini jika diketahui atau diberitakan oleh seorang dokter yang adil”.

Walhasil hukum daripada sholat dengan memakai pakaian yang wewangiannya terdapat kadnungan Alkohol itu hukumnya syah karena termasuk pada najis yang di maafkan sebagaimana yang telah dijelaskan tadi.

Wallohu A’lamu bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id