Menghayati Empat Hikmah dari Disyariatkannya Bersuci dalam Islam

Menghayati Empat Hikmah dari Disyariatkannya Bersuci dalam Islam

Almunawwar.or.id – Islam sangat memperhatikan segala aspek kehidupan bagi umat manusia, mulai dari hal yang terkecil bermakna besar seperti melakukan aktivitas bersuci baik dari hadas kecil maupun dari hadas besar sampai dengan sesuatu yang bersifat universal.

Terutama dalam bagian bagaimana cara kita semua menyucikan diri dari hal-hal yang memang seharusnya di bersihkan dalam hal ini bagian dhohir tentunya. Sebab jika tidak melakukan apa yang di sudah menjadi syarat dan ketentuan dalam sebuah kaidah, maka yang di syaratkannya tersebut tidak akan bernilai.

Selain itu juga cara bersuci seperti Wudhu maupun mandi besar itu adalah awal yang baik dan sempurna untuk bisa meraih keabsahan dalam sebuah ibadah sebagaimana yang sudah di atur dalam ilmu Fiqih. Untuk itu makna dan hikmah dari aktivitas bersuci tersebut sangat besar sekali terhadap sisi kepribadian seorang Muslim.

Sebagai peranannya maka bersuci dalam Islam itu sangatlah penting terhadap semua bentuk ibadah, termasuk ketika akan melaksankana ibadah tadarus misalnya, sebagaimana yang sudah menjadi ketentuan dalam Islam bahwa janganlah kamu sentuh Al quran kecuali dalam keadaan Suci.

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Nah, Kaidah tersebut rupanya menyimpan sebuah hikmah yang sangat berarti bagi prospek kehambaan seorang muslim, Sebagaimana yang disarikan dari kitab al-Fiqh al-Manhajî ‘ala Madzhabil Imâm asy-Syâfi‘î karya Musthafa al-Khan, Musthafa al-Bugha, dan ‘Ali asy-Asyarbaji.

Setidaknya dari adanya aktivitas kewajiban bersuci tersebut terdapat empat hikmah yang bisa di ambil di dalamnya diantaranya:

Pertama menjaga kesehatan
Kebersihan merupakan bagian paling penting yang memelihara seseorang dari terserang penyakit. Ragam penyakit yang tersebar umumnya disebabkan oleh lingkungan yang kotor. Karena itu tidak salah pepatah mengungkapkan, “kebersihan adalah pangkal kesehatan”.

النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَانِ

Artinya :“Kebersihan adalah Sebagian dari Iman”

Hadis ini tercantum dalam kitab-kitab hadis. Al-‘Iraqi dalam takhrij Ahadits al-Ihya’ 1/73 menginformasikan hadis dengan lafadz semacam di atas diriwayatkan oleh Imam at-Thobrany dalam Al-Ausath dengan sanad yang dho’if jiddan (sanagt lemah) dari jalur periwayatan melalui Ibnu Mas’ud ra.

Adapun lafaz lain yang semakna dengan hadis tersebut adalah:

بني الدين على النظافة

Artinya :“Agama dibangun di atas kebersihan”.

Anjuran untuk membersihkan badan, membasih wajah, kedua tangan, hidung, dan kedua kaki, berkali-kali saban hari relevan dengan kondisi dan aktivitas manusia. Sebab, anggota-anggota tubuh itu termasuk yang paling sering terpapar kotoran.

Kedua bersuci merupakan bentuk pengakuan Islam terhadap fitrah manusia
Manusia memiliki kecenderungan alamiah untuk hidup bersih dan menghindari sesuatu yang kotor dan jorok. Karena Islam adalah agama fitrah maka ia pun memerintahkan hal-hal yang selaras dengan fitrah manusia.

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

Artinya :“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Ketiga menjaga kemulian dan wibawa umat Islam
Orang Islam mencintai kehidupan bermasyarakat yang aman dan nyaman. Islam tidak menginginkan umatnya tersingkir atau dijauhi dari pergaulan lantaran persoalan kerbersihan. Seriusnya Islam soal perintah bersuci ini menunjukkan komitmennya yang tinggi akan kemuliaan para pemeluknya.

Keempat menyiapkan diri dengan kondisi terbaik saat menghadap Allah
Tidak hanya bersih tapi juga suci. Dalam shalat, doa, dan munajatnya, seorang hamba memang seyogianya suci secara lahir dan batin, bersih jasmani dan rohani, karena Allah yuhhibbut tawwâbîna yayuhibbul mutathahhirîna (mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri).

Dari himah yang terdapat pada amalan bersuci tersebut tentunya makna yang paling besar dan berarti adalah bisanya kita mengembalikan secara luas khususnya pada diri kita sendiri baik dari dzahir maupun bathinnya, sehingga dapat mengetahui bahwa Islam itu benar-benar Indah dan Rahmatan Lil’alamiin.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id