Mengi’robi Lafadz Basmalah Dengan Tarkib Lengkap Sesuai Kaidah Pada Nahwiyyah

Mengi'robi Lafadz Basmalah Dengan Tarkib Lengkap Sesuai Kaidah Pada Nahwiyyah

Almunawwar.or.id – Salah satu landasan penting yang berlaku dalam kalam arab adalah adanya kedudukan kalimah sesuai dengan kosakata dan tarkibnya (rangkaian kalimah tersebut) Sehingga tidak serta merta bisa di baca dan di rangkaikan tanpa mengandung faidah dan makna tertentu.

Dalam hal ini adalah ilmu nahwu dan shorof sebagai ilmu yang bisa menjelaskan soal kedudukan dan i’rob pada sebuah kalimah yang memiliki makna dan faidah sesuai dengan tujuannya, bahkan bisa menaqdirkan arti yang sesungguhnya berdasarkan makna yang ada pada kalimah tersebut.

Seperti contoh yang terdapat pada lapadz Basmalah, Dimana secara ilmiyah nahwiyyah itu memiliki susunan yang indah sesuai dengan hakikat arti yang sesungguhnya, meskipun secara global dari penjelasan susunan atau tarkibnya ada perbedaan dari Para Ulama ahli Nahwu.

Namun dari perbedaan itulah bisa menghasilkan luasnya penjelasan tentang kedudukan lapdz basmalah tersebut yang memiliki cakupan luas, baik dari segi lapadz maupun dari maknanya itu sendiri, Berikut cara mengi’robi lapadz basmalah sesuai dengan kaidah ilmu nahwu.

إِعْرَابُ ( بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ )

A. I’rob Lapadz Bismillahi

الْبَاءُ فِي : بِسْمِ مُتَعَلِّقَةٌ بِمَحْذُوفٍ ; فَعِنْدَ الْبَصْرِيِّينَ الْمَحْذُوفُ مُبْتَدَأٌ وَالْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ خَبَرُهُ ، وَالتَّقْدِيرُ ابْتِدَائِي بِسْمِ اللَّهِ ; أَيْ كَائِنٌ بِاسْمِ اللَّهِ ; فَالْبَاءُ مُتَعَلِّقَةٌ بِالْكَوْنِ وَالِاسْتِقْرَارِ .

Hurup Ba pada lapadz bsamalah tersebut itu di kaitkan di tautkan pada kalimah isim yang di buang menurut Ulama Basrah, yaitu jadi Mubtada yang di buang sedangkan untuk khobarnya itu adalah sekumpulan jar Majrur, Sehingga bisa di taqdirkan Ay Kainun Bismillahi ” Hurup Ba nya di kaiktan pada lapadz kainan secara tetap”

وَقَالَ الْكُوفِيُّونَ : الْمَحْذُوفُ فِعْلٌ تَقْدِيرُهُ ابْتَدَأْتُ ، أَوْ أَبْدَأُ ، فَالْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ فِي مَوْضِعِ نَصْبٍ بِالْمَحْذُوفِ ، وَحُذِفَتِ الْأَلِفُ مِنَ الْخَطِّ لِكَثْرَةِ الِاسْتِعْمَالِ ، فَلَوْ قُلْتَ لِاسْمِ اللَّهِ بَرَكَةٌ أَوْ بِاسْمِ رَبِّكَ ، أَثْبَتَّ الْأَلِفَ فِي الْخَطِّ .

Sedangkan menurut Ulama Kufah ” lapadz basmalah itu di kaitkan pada sejumlah kalimah fi’il yang di buang sekira menaqdirkan Ibtada’tu (Aku memulai) atau Abda’u, yang di mana jar majrur nya di buang dan berada pada kedudukan nashab. Sekira cara meng’irobinya itu adalah hurup alif di buang dengan alasan karena sudah banyak di gunakan pada kalam arab. Sekira bisa membca Lismillahi barokatun Ao Bismi Robbika dengan di tetapkannya hurup alif pada penulisannya.

وَقِيلَ حَذَفُوا الْأَلِفَ ; لِأَنَّهُمْ حَمَلُوهُ عَلَى سِمٍ ، وَهِيَ لُغَةٌ فِي اسْمٍ

Ada pula yang menyebutkan Ulama lainnya bahwa huruf alip nya itu di buang karena telah di sandarkan atau terpikulkan pada kalimah Simin yaitu lughot dari lapadz Ismin.

وَلُغَاتُهُ خَمْسٌ : سِمٌ بِكَسْرِ السِّينِ وَضَمِّهَا ، اسْمٌ بِكَسْرِ الْهَمْزَةِ وَضَمِّهَا ، وَسُمَى مِثْلُ ضُحَى

Dimana secara lughot lapadz Ismin sendiri memiliki lima cara, Satu di kasrahkan huruf sin nya, di domahkan harkat huruf hamjahnya sekira di baca Suma seperti lapadz Dhuha.

وَالْأَصْلُ فِي اسْمٍ : سُمُوٌ فَالْمَحْذُوفُ مِنْهُ لَامُهُ يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ قَوْلُهُمْ فِي جَمْعِهِ أَسْمَاءُ وَأَسَامِي وَفِي تَصْغِيرِهِ ” سُمَيٌّ ” وَبَنَوْا مِنْهُ فَعِيلًا ، فَقَالُوا فُلَانٌ سَمِيُّكَ : أَيِ [ ص: 10 ] اسْمُهُ كَاسْمِكَ ، وَالْفِعْلُ مِنْهُ سَمَّيْتُ وَأَسْمَيْتُ ; فَقَدْ رَأَيْتَ كَيْفَ رَجَعَ الْمَحْذُوفُ إِلَى آخِرِهِ

Adapun Asal dari lapadz Ismi itu Sumuwun, terus di buang huruf lam nya dengan dalil sesuai pada ketentuan kaul Ulama saat menjamakan lapadz Ismun. dan lapadz usaimi saat di tasghirnya sekira di baca Sumayyun yang selanjutnya kalimah tersebut di mabni kan pda Fi’il sekira di baca Samyyuka yakni Ismuhu kaismika. Adapun kalimah fi’il dari pda Ismun itu adalah Sammaitu dan Asmaitu.

وَقَالَ الْكُوفِيُّونَ : أَصْلُهُ وَسَمَ لِأَنَّهُ مِنَ الْوَسْمِ ، وَهُوَ الْعَلَامَةُ وَهَذَا صَحِيحٌ فِي الْمَعْنَى فَاسِدٌ اشْتِقَاقًا

Dan menurut Ulama Kuffah, Asal dari pada ismun itu di ambil dari pada wasama yaitu di cetak dari pada lapadz wasmi yang memiliki maksud Al alamah atau ciri. Dan ini merupakan qaul shahih pada makna yang ruksak secara istiqoq.

فَإِنْ قِيلَ : كَيْفَ أُضِيفَ الِاسْمُ إِلَى اللَّهِ ، وَاللَّهُ هُوَ الِاسْمُ ؟

Dan apabila di tanyakan “Bagaimana di idhofatkan atau di sandarkannya lapadz Ismu kepada lapadz Allah, Maka jawabnya adalah Wallohu Huwa Ismu. Artinya Lapadz Ismi pada Basmalah itu hakikat maknanya teruju pada Allah S.W.T.

قِيلَ فِي ذَلِكَ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ : أَحَدُهَا : أَنَّ الِاسْمَ هُنَا بِمَعْنَى التَّسْمِيَةِ ، وَالتَّسْمِيَةُ غَيْرُ الِاسْمِ ; لِأَنَّ الِاسْمَ هُوَ اللَّازِمُ لِلْمُسَمَّى ، وَالتَّسْمِيَةُ هُوَ التَّلَفُّظُ بِالِاسْمِ . وَالثَّانِي : أَنَّ فِي الْكَلَامِ حَذْفُ مُضَافٍ ، تَقْدِيرُهُ بِاسْمِ مُسَمَّى اللَّهِ . وَالثَّالِثُ أَنَّ اسْمًا زِيَادَةٌ ; وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُهُ : إِلَى الْحَوْلِ ثُمَّ اسْمُ السَّلَامِ عَلَيْكُمَا وَقَوْلُ الْآخَرِ : دَاعٍ يُنَادِيهِ بِاسْمِ الْمَاءِ أَيِ السَّلَامُ عَلَيْكُمَا ، وَنُنَادِيهِ بِالْمَاءِ .

Bahkan menurut qaul qil (Sebagian Ulama) pada tarkib lapadz Basmalah itu terdapat tiga gambaran:
1. Sesungguhnya lapadz ismu pada kedudukannya adalah bimkna tasmiyyah, yang di maksud dengan Tasmiyyah itu adalah bukan Ismu atau nama. Karena sesunnguhnya Isim itu perkara yang pasti bagi yang di berikan namanya. Sedangkan Tasmiyyah adalah cuman pengucapan pada isim tersebut.

2. Sesungguhnya pada kalam itu hadzfu Mudhof atau membuang kalimah yang di sandarkan, Sekira taqdirnya Bismi Musamma alloh. artinya Isim yang memiliki nama Allah.

3. Sesungguhnya lapadz Isim itu adlah Ziyadah atau kalimah penambah, seperti yang ada dalam contoh Ilal hauli Tsummasmussalaami ‘Alaikumaa. Pada contoh tersebut seseorang memanggil dengan panggilan bismil mai yaitu salam atau keselmatan bagi dua orang.

B. A. I’rob Lapadz Alloh

وَالْأَصْلُ فِي اللَّهِ الْإِلَاءُ ، فَأُلْقِيَتْ حَرَكَةُ الْهَمْزَةِ عَلَى لَامِ الْمَعْرِفَةِ ثُمَّ سُكِّنَتْ وَأُدْغِمَتْ فِي اللَّامِ الثَّانِيَةِ ، ثُمَّ فُخِّمَتْ إِذَا لَمْ يَكُنْ قَبْلَهَا كَسْرَةٌ ، [ وَرُقِّقَتْ إِذَا كَانَتْ قَبْلَهَا كَسْرَةٌ ] وَمِنْهُمْ مَنْ يُرَقِّقُهَا فِي كُلِّ حَالٍ ، وَالتَّفْخِيمُ فِي هَذَا الِاسْمِ مِنْ خَوَاصِّهِ .

Asal dari pada lapadz Alloh itu Al ilaa’u , Selanjutnya di pindahkan harkatnya hamjah pada hurup Lam ma’rofat terus di sukunkan dan di idghomkan pada huruf lam yang kedua, Selanjutnya di tafhimkan (dibaca besar) dimana terbukti sebelum lapadz alloh itu tidak ada harkat kasrah. dalam artian di tarqiq kan pembcaan lapadz Allaoh jika sebelumnya ada harkat kasrah. Dan membaca tafhim itu adalah sebuah ketentuan pada kedudukan ini.

وَقَالَ أَبُو عَلِيٍّ : هَمْزَةُ إِلَاهٍ حُذِفَتْ حَذْفًا مِنْ غَيْرِ إِلْقَاءٍ ، وَهَمْزَةُ إِلَاهٍ أَصْلٌ ; وَهُوَ مِنْ أَلِهَ يَأْلَهُ إِذَا عُبِدَ ، فَالْإِلَهُ مَصْدَرٌ فِي مَوْضِعِ الْمَفْعُولِ أَيِ الْمَأْلُوهِ ، وَهُوَ الْمَعْبُودُ

Dan menurut Abu ‘Ali ” Huruf Hamjah pada lapadz Ilaah itu di buang dengan tidak di tibakna pada huruf selanjutnya, Dan hamjah pada lapadz Ilah itu adalah asal bukan Ziyadah atau huruf penambah. yaitu berasal dari pada tashrif Aliha -Ya’lahu. Dan lapadz Ilahu itu kedudukannya menjadi Masdar yang berada pada tarikb manf’ul atau makmul, yaitu yang di maksud dengan hakikat dari pada Al ilahu itu sendiri yaitu Tuhan yang di sembah.

وَقِيلَ أَصْلُ الْهَمْزَةِ وَاوٌ ; لِأَنَّهُ مِنَ الْوَلَهِ ، فَالْإِلَهُ تَوَلَّهُ إِلَيْهِ الْقُلُوبُ ; أَيْ تَتَحَيَّرُ

Ada juga yang menyebutkan bahwa asal hamjah pada lapadz al ilahu itu adalh huruf wawu karena di ambil dari pada lapadz Walahu. Falilahu Tawallahu Ilaihil Qulub yaitu tatahayyaru.

وَقِيلَ أَصْلُهُ لَاهُ عَلَى فَعِلَ ، وَأَصْلُ الْأَلِفِ يَاءٌ ; لِأَنَّهُمْ قَالُوا فِي مَقْلُوبِهِ لَهِيَ أَبُوكَ ثُمَّ أُدْخِلَتْ عَلَيْهِ الْأَلِفُ وَاللَّامُ

Ada juga yang menyebutkan asalnya itu dari lapadz Laahu anut pada wajan Fa’ila yang di mana asal alif pada kalimah Lahu itu adalah Laahu, karena para Ulama kebanyakan membacanya itu adalah “Fii maqluubihi Lahiya Abuuka” selanjutnya di idghimkan atau di masukan terhadapnya itu alif dan lam.

B. A. I’rob Lapadz Arrohman Arrohiim

( الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) صِفَتَانِ مُشْتَقَّتَانِ مِنَ الرَّحْمَةِ

Yaitu dua sifat yang di ambil dari pada Arrohmat (Arrohman dan Arrohiim)

وَالرَّحْمَنُ مِنْ أَبْنِيَةِ الْمُبَالَغَةِ . وَفِي الرَّحِيمِ مُبَالَغَةٌ أَيْضًا ; إِلَّا أَنَّ فَعْلَانًا أَبْلَغُ مِنْ فَعِيلٍ

Adapun lapadz Arrohman termasuk pada kalimah Mabni Muballaghoh sedngkan lapdz Arrahiim itu termasuk pada mubalaghoh doang, terkecuali sesungguhnya dua-duanya itu di jadikan fi’il yang lebih dapat dari pada lapadz Fu’ailun.

وَجَرُّهُمَا عَلَى الصِّفَةِ ; وَالْعَامِلُ فِي الصِّفَةِ هُوَ الْعَامِلُ فِي الْمَوْصُوفِ

Adapun jarnya pada dua kalimah tersebut itu sesuai dengan sifatnya, dan amil pada shifat itu menjadi Amil pada kalimah yang di berikan shifat.

وَقَالَ الْأَخْفَشُ : الْعَامِلُ فِيهَا مَعْنَوِيٌّ وَهُوَ كَوْنُهَا تَبَعًا وَيَجُوزُ نَصْبُهُمَا عَلَى إِضْمَارِ أَعْنِي ، وَرَفْعُهُمَا عَلَى تَقْدِيرِ هُوَ

Sedangkan menurut Imam Akhfas itu memberikan pendapatnya ” Dan amil pada kalimah itu merupakan maknawi yaitu terbuktinya amil tersebut anut, sekira bisa di nashabkan harkatnya yang menyembunyikan pada dhomir, dan jika di beri harkat dhimah maka itu menaqdirkan lapadz Huwa.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com