Mengkaji Hasil Hisab Dan Pengaruh Hukumnya Bagi Kebutuhan Islam

Mengkaji Hasil Hisab Dan Pengaruh Hukumnya Bagi Kebutuhan Islam

Almunawwar.or.id – Dalam menentukan ketetapan tanggal satu setiap bulan Hijriah terdapat dua metode ilmu yang bisa dikembangkan dan di jadikan salah satu berometernya, yakni ilmu Rukyat dan Ilmu Hisab.

Terlebih bagi ilmu hisab sendiri yang memang sudah ada sejak zaman Rosululoh S.A.W. keberadaan dan pengaruhnya sangat besar sekali terhadap ketetapan dalam memutuskan penggalan setiap bulan Hijriah.

Terutama saat-saat penting seperti sekarang ini dalam menentukan kapan jatuhnya tanggal satu bulan ramadhan dan tanggal satu bulan Syawal, yang biasanya menjadi sebuah fenomena tersendiri khusunya bagi umat islam yang ada di Indonesia ini.

Menilik hal itu, maka penting sekali mengkaji seberapa besar dan pentingkah pengaruh ilmu hisab tersebut terhadap kebutuhan umat islam khususnya dalam mengetahui perjalan penanggalan.

Dan tentunya ini menarik untuk lebih jauh di bahas agar tidak adanya salah faham dalam mengartikan dan meposisikan hikmah dan pentingnya ilmu Hisab tersebut.

Sebab pada dasarnya pengkajian ilmu Hisab itu adalah untuk mengetahui awal bulan menjadi salah satu pembahasan penting dikalangan ulama fiqh. Menurut sebagian ulama, khususnya ulama madzhab syafi’i, hasil hisab untuk mengetahui awal bulan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan awal bulan, termasuk untuk memulai berpuasa dan mengakhiri puasa.

Sebagaimana pendapat Imam Muthorrif bin ‘Abdullah, Abu al-‘Abbas bin Surayj dalam mengartikan hadits Rasulullah SAW:

إذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Artinya :“Jika kalian melihat hilal – Ramadan – maka berpuasalah, dan jika melihat hilal – Syawal – maka berbukalah, dan jika terlihat mendung diatas kalian, maka kira-kirakanlah.” HR.Bukhori dan Muslim.

Beliau berkata: “Makna kalimat فَاقْدُرُوا لَهُ yang dimaksud adalah mengira-ngirakan keberadaan hilal dengan metode hisab”.

Dan tentunya metode Hisab yang dimaksud disini adalah, metode hisab yang dapat menguraikan secara jelas tentang posisi hilal diatas ufuk dengan menggunakan metode yang pasti (qoth’i) dan telah teruji hasilnya .

Keluar dari mafhum tersebut maka metode hisab yang memang menggunakan cara yang tidak dapat menunjukkan posisi hilal sebenarnya, seperti metode Aboge atau yang lainnya itu hasilnya diabaikan sama sekali .

Ulama lain berpendapat bahwa kalimat melihat dalam Hadits diatas “فَاقْدُرُوا لَهُ” bisa berarti wujudnya hilal di ufuk yang memungkinkan untuk terlihat, meskipun pada kenyataannya tidak terlihat karena terhalang mendung misalnya.

Lalu bagaimana bagi kaum awwam?

Bagi yang tidak memilki keahlian ilmu hisab, tetapi membenarkan kepada pendapat ulama hasibin (mushaddiqul hasib), dan mengikuti pendapat tersebut dalam menentukan awal syawal, juga diperkenankan mengamalkan hasil perhitungan hisab yang dipercayainya.

Dengan syarat ia harus meyakini kebenaran hasil hisab ulama’ ahlul hisab, bukan hanya sekadar ikut-ikutan kepada orang lain yang bukan ahli hisab, dan bukan pula mengikuti lembaga seperti pondok pesantren, jam’iyyah atau mengikuti takbiran di masjid-masjid.

Sedangkan menilik pada konsekuensi Ru’yatul Hilal dan pengaruh hukumnya memang menjadi metode yang umum digunakan dalam menentukan awal bulan adalah ru’yatul hilal, yakni terlihat bulan diatas ufuk setelah ijtima’/konjungsi. Metode ini mempunyai pengaruh yang lebih kuat dibanding metode hisab.

Hal ini berdasar hadis Nabi Muhammad SAW :

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَاِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا

Artinya : “Berpuasalah kalian apabila melihat bulan, dan berbukalah (berhari raya-lah) kalian, apabila telah melihat bulan. Namun jika pandanganmu terhalang oleh awan, maka sempurnakan bulan sya’ban itu sampai dengan 30 hari”. (HR. Bukhori)

Dalam keyakinan kita, Ru’yah adalah Pegangan dan Pedoman yang diyakini untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, seseorang dilarang memulai puasa ataupun mengakhirinya sebelum ada keputusan hasil Ru’yah, sebagai mana sabda Rasulullah SAW :

عَنْ عَبْدِاللهِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوا الهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ فَاءِنْ غَمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ (صحيح البخارى)

Artinya : “Dari Abdullah Bin Umar RA. Bahwa suatu ketika Rosululloh bercerita tentang bulan Ramadhan. Rosul bersabda : janganlah kalian berpuasa sehingga kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka (hari raya) sampai kamu melihat bulan, namun jika pandanganmu tertutup mendung, maka perkirakanlah jumlah harinya” (HR. Bukhari)

Para ulama bahkan bersepakat bahwa penentuan awal bulan yang didapat melalui ru’yatul hilal dapat diamalkan untuk memulai puasa ramadlan serta mengakhirinya. Dan sekira hasil hisab bertentangan dengan hasil ru’yatul hilal, maka yang lebih didahulukan adalah hasil ru’yatul hilal.

Kecuali jika sekurang-kurangnya lima hasil perhitungan hisab dari kitab yang berbeda, menyimpulkan hilal tidak akan terlihat, maka laporan seseorang kepada hakim setempat perihal terlihatnya bulan harus di tolak karena berlawanan dengan yang didapat melalui metode hisab. Demikian menurut pendapat Imam As-Subki .

Dari adanya penjelasan tersebut memang sangat penting sekali untuk menjaga dan memelihara juga menghormati hasil dari kedua ilmu itu, baik Hisab maupun Rukyat. Karena memang kedua-duanya sesuai dengan kajian dan kaidah ilmu yang sudah ada sejak zaman Rasulullah S.A.W.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Seemoga Bermanfaat.

Sumber : Almunawwar.or.id
Piss-KTB