Mengkaji Lebih Dalam Perspektif Motto “Kembali Pada Alquran Dan Assunnah”

Mengkaji Lebih Dalam Perspektif Motto Kembali Pada Alquran Dan Assunnah

Almunawwar.or.id – Sebuah pedoman penting dalam hidup bagi seorang muslim adalah dengan bisa kembalinya kepada aturan Alquran dan Assunah, Sehingga semua tatanan kehidupan kepribadiannya itu tidak lepas dari koneskuensi yang ada pada kedua sumber hukum tersebut.

Namun terkadang dalam memahami dan mengkaji dari isi pedoman yang diwariskan oleh Rasululloh yaitu kembali pada alquran dan assunah tersebut sebagian orang salah mengartikannya, bahkan lebih berbahaya lagi jika sudah memberikan fatwa sesat terhadap sesama muslim lainnya karena bersumber pada pola pemikiran mereka sendiri dalam memahami kedua sumber yaitu Alquran dan Assunnah.

Padahal secara kajian itu sangatlah diperlukan sekali penafsiran-penafsiran lain yang berkaitan dan berhubungan langsung dengan masalah tersebut. Yang tujuannya tiada lain agar tidak menimbulkan keresahan apalagi kesalahfahaman antara umat islam yang justru dapat merusak tali persaudaraan.

Secara global, motto daripada ‘Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah’ ini jelas tidak akan ditentang oleh siapapun, bahkan semua umat harus mengikutinya agar selamat. Namun mengapa ada sebagian tokoh Ulama yang menyerukan pedoman tersebut yang justru di anggap salah dan sesat oleh jumhur atau Mayoritas ulama ahlu sunnah Waljama’ah.

Konsekuensinya adalah karena mereka sudah terlanjur taqlid pada sebuah sumber informasi tanpa adanya perbandingan dengan yang lainnya, sehingga melahirkan keangkuhan yang tidak bisa di tolerir secara hukum. Sebab itu justru akan memperpecah umat islam yang seharusnya di jaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.

Nah agar tidak terjerumus kepada masalah seperti itu, mari kita mengkaji secara seksama pokok daripada permasalahan yang menyerukan pada “kembali pada Alquran dan Assunah”. Yang tentunya dengan keikhlasan dan kelapangan dada dan pemikiran agar mendapatkan jawaban kebenaran yang sesungguhnya, bukan ‘pembenaran’ yang menuruti hawa nafsu semata. Berikut penjelasan daripada isi dan pemahaman dari motto tersebut.

1. Prinsip”Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”adalah benar secara teoritis, dan sangat ideal bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam. Tetapi yang harus diperhatikan adalah, apa yang benar secara teoritis belum tentu benar secara praktis, menimbang kapasitas dan kapabilitas (kemampuan) tiap orang dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah sangat berbeda-beda.

Maka bisa dipastikan, kesimpulan pemahaman terhadap al-Qur’an atau Sunnah yang dihasilkan oleh seorang’alim yang menguasai Bahasa Arab dan segala ilmu yang menyangkut perangkat penafsiran atau ijtihad, akan jauh berbeda dengan kesimpulan pemahaman yang dihasilkan oleh orang awam yang mengandalkan buku-buku ‘terjemah’ al-Qur’an atau Sunnah. Itulah kenapa di zaman ini banyak sekali bermunculan aliran sesat.

2. Al-Qur’an dan Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh para ulama terdahulu yang memiliki keahlian yang sangat mumpuni untuk melakukan hal itu, sebut saja: Ulama mazhab yang empat, para mufassiriin (ulama tafsir), muhadditsiin (ulama hadis), fuqahaa'(ulama fiqih), ulama aqidah ahus-sunnah wal-Jama’ah, dan mutashawwifiin (ulama tasawuf/akhlaq).

Hasilnya, telah ditulis beribu-ribu jilid kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Qur’an dan Sunnah secara gamblang dan terperinci, sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap umat yang hidup dikemudian hari. Karya-karya besar itu merupakan pemahaman para ulama yang disebut di dalam al-Qur’an sebagai ‘ahludz-dzikr’, yang kemudian disampaikan kepada umat Islam secara turun-temurun dari generasi ke generasi secara berantai sampai saat ini.

3. Para ulama telah menghidangkan penjelasan tentang al-Qur’an dan Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai sebuah ‘hasil jadi’. Para ulama itu bukan saja telah memberi kemudahan kepada umat untuk dapat memahami agama dengan baik tanpa proses pengkajian atau penelitan yang rumit.

Akan tetapi juga telah menyediakan jalan keselamatan bagi umat agar terhindar dari pemahaman yang keliru terhadap al-Qur’an dan Sunnah yang sangat mungkin terjadi jika mereka lakukan pengkajian tanpa bekal yang mumpuni seperti yang dimiliki para ulama tersebut.

Walhasil makna terpenting dalam memahami motto atau pedoman kembali pada Alquran dan Assunnah itu jangalah di fahami secara satu arah saja, akan tetapi harus di fahami dengan arti yang sangatlah luas yang dihasilkan dari adanya perbandingan untuk menemukan jawaban yang sesungguhnya. Bukan karena pemahaman yang mementingkan sebuah organisasi atau golongan berdasarkan hawa nafsu, akan tetapi haruslah perspektif menurut kemasalahatan dan kemanfaatan bagi Umat.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id