Menilik dan Memahami Istilah Islam Nusantara Dari Bingkai Ilmu Nahwu

Menilik dan Memahami Istilah Islam Nusantara Dari Bingkai Ilmu Nahwu

Almunawwar.or.id – Akhir-akhir ini kita sering mendengar sebuah istilah islam nusantara yang dimana pada sebutan istilah tersebut merupakan sebuah rumusan dari beberapa pendapat dari para ulama indonesia atau lebih tepatnya ulama dari kalangan nahdiyyin dalam memberikan sebuah apresiasi penting terhadap perkembangan islam di bumi nusantara tercinta ini.

Sebagai seorang yang awam tentunya mendengar istilah islam nusantara masih begitu kurang tahu dan memahami secara betul tujuan dari pada lahirnya gagasan dan pandangan islam nusantara tersebut, dimana akhir-akhir ini banyak perdebatan muncul tentang “islam nusantara” yang jadi tema besar Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, pada 1 – 5 Agustus beberapa waktu lalu.

Sebagian pakar setuju dengan konsep tersebut, namun tidak sedikit yang meragukan (baca : sinis) dengan gagasan itu karena dianggap bagian dari rangkaian proses sekularisasi, liberisasi pemikiran Islam yang memang selama ini menjadi bola panas bagi umat islam terlebih khusus dari kalangan nahdiyyah.

Konsep tersebut seolah mengakar pada sebuah pemikiran yang memunculkan pandangan yang berbeda-beda tentang bagaimana kedudukan islam yang ada di indonesia ini saat ini, terutama semenjak bermunculan berbagai faham-faham yang jsutru akan menodai dari pada kesucian islam itu sendiri.

Seperti pemahaman dari sekularisme, liberalisme dan yang lainnya, yang tentunya perlu pemahaman dan penjelasan secara jelas dan pasti agar kaum awam ataupun umat islam tidak salah menerima dan mengartikan dari lahirnya gagasan islam nusantara tersebut, terutama dari para penggagas dan pemikirnya.

Dan sebagai bagian dari pada sebuah pemersatuan umat, dalam hal ini para santri yang nantinya merupakan cikal bakal penerus perjuangan para Ulama dan sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tentu memilik pandangan dan argumennya tentang dasar penilikan dari istilah islam nusantara tersebut jika di kaji dalam sebuah ilmu nahwu atau lebih tepatnya ilmu Alfiyyah.

Imam ibnu malik, pakar nahwu dari Andalusia berkebangsaan spanyol menyatakan dan menerangkan dari bait Alfiyyah nya:

نُوناً تَلِي الإعْرَابَ أو تَنْوِينَا # ممّا تُضِيفُ احْذِفْ كَطُورِ سِينَا
وَالثَّانِيَ اجْرُرْ وانو من أَوْ فِي إذا # لَمْ يَصْلُحِ الّا ذَاكَ وَالّلامَ خُذَا
لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ واخصص أولا # أو أعطه التعريف بالذي تلا

Terhadap Nun yang mengiringi tanda i’rob atau Tanwin dari pada kalimah yg dijadikan Mudhaf, maka buanglah! demikian seperti contoh: thuuri siinaa’

Jar-kanlah! lafazh yg kedua (Mudhof Ilaih). Dan mengiralah! makna MIN atau FI bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah! makna LAM

pada selain keduanya (selain mengira makna Min atau Fi). Hukumi Takhshish bagi lafazh yg pertama (Mudhaf) atau berilah ia hukum Ta’rif sebab lafazh yg mengiringinya (Mudhaf Ilaih

Dari teori di atas dapat dipahami bahwa istilah islam nusantara merupakan gabungan kata islam yang berarti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad serta kata nusantara yang dalam KBBI merupakan nama bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia, penggabungan ini bertujuan untuk mencapai makna yang spesifik.

Namun penggabungan kata ini masih menyisakan berbagai pemahaman, karena sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Malik diatas, bahwa penggabungan (idhafah) harus menyimpan Huruf Jar (harf al-hafd) yg ditempatkan antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih untuk memperjelas hubungan pertalian makna antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih-nya. Huruf-huruf simpanan tersebut berupa MIN, FI dan LAM.

Peng-Idhafah-an dengan menyimpan makna huruf “MIN” memberi faidah Lil-Bayan (penjelasan) apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa jenis dari Mudhaf. Teori ini tidak bisa di aplikasikan pada susunan Islam nusantara karena nusantara bukan jenis dari kata islam, jika dipaksakan akan memunculkan pemahaman bahwa islam nusantara merupakan islam min (dari) Nusantara, toh pada kenyataannya Islam hanya satu yaitu agama yang dibawa oleh Rasul akhir zaman.

Peng-Idhafah-an dengan menyimpan makna huruf “LAM” berfaidah Kepemilikan atau Kekhususan (Li-Milki, Li-Ikhtishash). Memahami dengan teori ini akan memunculkan takhsis dalam terhadap islam, islam untuk orang nusantara, realitanya islam agama yang universal, bukan agama yang khusus golongan atau bangsa tertentu.

Sedangkan Idhafah dengan menyimpan makna huruf “FI” berfaidah Li-Dzarfi apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa Dzaraf bagi lafazh Mudhaf. Teori ini merupakan yang paling tepat digunakan dalam memahami term islam nusantara, karena sebagaimana disebut di atas kata nusantara merupakan nama bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

Artinya Islam Fi Nusantara, agama islam yang berada dinusantara, yaitu agama islam yang dibawa oleh Nabi yang diimani oleh orang-orang nusantara. Makna kata islam disini tidak tereduksi karena di-idhafah-kan dengan kata nusantara, karena hubungan antara Mudhaf-Mudhaf ilaih disini sebatas menunjukan spesifikasi tempat atas Mudhaf ilaih.

Dari uraian singkat diatas, dapat dipahami bahwa term Islam Nusantara bukan merupakan upaya me-lokal-kan islam, atau bahkan membuat “agama” Islam Nusantara akan tetapi usaha dalam memahami dan menerapkan islam tanpa mengesampingkan tempat islam di imani dan dipeluk.

Semoga kita bisa jauh lebih memahami sebuah istilah ilmu nahwu yang telah di beberkan dan di jelaskan sesuai dengan pemaknaan yang terdapat dalam kalimah-kalimahnya yang tidak jauh berbeda dengan penggunaan istilah islam nusantara tersebut yang selanjutnya adalah hanya kepada Alloh S.W.T kita selalu senantiasa memohon pengampunan dan ridhonya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id