Menilik Dari Asal Usul Melafadzkan Niat Puasa Menurut Tinjauan Ulama Madzhab

Menilik Dari Asal Usul Melafadzkan Niat Puasa Menurut Tinjauan Ulama Madzhab

Almunawwar.or.id – Masalah yang tidak kalah pentingh bagi setiap umat islam yang akan melaksanakan amalan ibadah itu adalah megevaluasi ataupun mengkoreksi kembali tata cara niatnya, baik itu iabdah yang sunat terlebih dari pelaksanaan ibadah yang hukumnya wajib seperti puasa di bulan suci ramadhan,

Dan masalah niat sendiri memang waktu pelaksanaannya itu berbeda-beda tergantung dari amalan ibadah yang di laksanakannya. Contoh melapadzkan atau mengucapkan niat dengan lisan yang dalam masalah ini masih banyak orang yang keliru terhadap kedudukan melapdkan niat tersebut.

Sehingga tidak sedikit dari orang yang cukup melapadzkan niat itu dan sudah termasuk pada niat, Padahal jika di tinjau kembali bahwa perspektif dari mahal atau tempat waktu niat itu tidak cukup di bacakan secara lisan saja namun harus di barengi dengan hati.

Dalam artian lisan mengucapkan lapadz niat berbarengan dan spontan hati pu nmnegikuti bahkan menghayati apa hyang di ucapkan oleh lisan tersebut, karena hukum dari pada pengucapan niat secara lisan itu adalah sunat, sedangkan yang wajibnya itu adalah hadirnya niat dalam hati ketika sedang membacakannya.

Dan meskipun masalah seperti ini sudah banyak orang yang mengetahui, akan tetapi tidak ada salahnya untuk lebih mawas dan intropeksi kembali jangan sampai salah meletakan niat itu sendiri, karena salah menempatkan niat itu akan berakibat ketidak absahannya sebuah ibadah, Jadi semua itu tergantung niatnya,

Asal-usul Susunan Lafal Niat Puasa Ramadhan
Ulama bersepakat bahwa niat terletak di dalam hati dan tidak wajib dilafalkan. Namun melafalkannya dianjurkan atau disunnahkan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dan dinukil oleh Imam Nawawi dalam al-Majmu’:

ومحل النية القلب ولا يشترط نطق اللسان بلا خلاف، ولا يكفي عن نية القلب ولكن يستحب التلفظ مع القلب

Artinya : “Semua sepakat bahwa tempat niat itu adalah hati dan tidak disyaratkan pengucapannya secara lisan. Tak cukup niat hati, namun disunnahkan untuk melafalkan (dengan lidah) bersamaan dengan niat di hati.” (Imam Nawawi, al-Majmu’, Riyadh, Dârul ‘Âlamil Kutub, juz 6, halaman 248)

Dalam kitab I’anatut Thalibin pada bab Puasa juga telah dijelaskan bahwa niat itu harus di hati, sedangkan mengucapkannya adalah sunnah atau dianjurkan:

النيات با لقلب ولا يشترط التلفظ بها بل يندب

Artinya : “Niat itu dengan hati, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena mengucapkan niat itu disunnahkan/dianjurkan.” (Sayid Bakri, I’anatut Thalibin, Surabaya, Hidayah, halaman 221)

Kadang di masyarakat masih terjadi perbedaan pendapat antara mereka yang sudah membiasakan diri talaffudh (melafalkan) niat dan mereka yang menghindari praktik tersebut. Perbedaan paham adalah hal yang lumrah dan terjadi sejak lama. Hanya saja, masing-masing harus tahu porsi masing-masing.

Bagi masyarakat yang terbiasa melafalkan niat, jangan sampai menjadikan lafal niat itu seakan-akan bagian dari rukun, padahal tidak ada ulama yang mewajibkannya. Jangan menilai bahwa tidak sah ibadah yang tidak melafalkan niat.

Fakta kondisi masyarakat di lapangan kadang unik. Ada sebagian di antara mereka yang belum mengerjakan ibadah tertentu dengan alasan belum bisa/belum hafal lafal niatnya. Atau bahkan ada sebagian jamaah meragukan keabsahan shalat imam masjid hanya karena mereka tidak mendengar imam melafalkan niat shalat lewat mikrofon kecil yang menempel di dada imam. Yang demikian agak berlebihan, karena niat hanya disyaratkan di dalam hati.

Demikian juga bagi mereka yang memakruhkan pun harus bersikap proporsional. Sebab, bagaimanapun melafalkan niat tidak mengurangi sedikitpun nilai yang ada di dalam hati. Talaffudh niat juga bermanfaat setidaknya bagi mereka yang kadang dihinggapi keraguan apakah sudah berniat atau belum—mereka baru mantap ketika niat dalam hati disertai dengan melafalkannya secara lisan. Itulah mengapa sering kita dengar pelafalan niat puasa, misalnya tiap selepas tarawih, oleh umat Islam di Tanah Air.

Lantas, bagaimana asal usul susunan lafal niat puasa yang akrab kita dengarkan sekarang?

Dalam mazhab Syafi’i, niat tak hanya menyengaja melakukan sesuatu (qashdul fi’li), tapi juga mesti disertai kejelasan jenis ibadah secara spesifik (ta”yîn), serta ketegasan status kefardhuannya (fardliyyah) bila ibadah itu memang fardhu. Praktik niat puasa adalah pada malam hari hingga terbit fajar, dan disunnahkan melafalkannya.

Untuk itu ulama Syafi’iyah menawarkan susunan redaksi niat yang sesuai dengan tata cara berniat tersebut. Disusunlah sebuah lafal niat yang kemudian sering kita dengar hingga kini di masjid-masjid atau madrasah-madrasah di Indonesia yang mayoritas pendudukanya bermazhab Syafi’i.

Imam An-Nawawi, misalnya, menuliskan bahwa:

صِفَةُ النِّيَّةِ الْكَامِلَةِ الْمُجْزِئَةِ بِلَا خِلَافٍ أَنْ يَقْصِدَ بِقَلْبِهِ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya : “Bentuk niat yang sempurna adalah dengan sengaja hati bermaksud berpuasa esok hari untuk menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah ta’ala”. (Imam Nawawi, al-Majmu’, Riyadh, Dârul ‘Âlamil Kutub, juz 6, halaman 253)

Dari sini hadirlah redaksi lafal niat puasa yang sering diucapkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لله تَعَالىَ

Artinya : “Aku sengaja berpuasa esok hari untuk menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala”.

Tradisi melafalkan niat puasa Ramadhan itu tidak lepas dari pedoman niat dalam pandangan mazhab Imam Syafi’i sebagaimana penjelasan singkat di atas. Mengapa dilaksanakan secara bersama-sama dan usai shalat tarawih?

Hal ini tak lepas dari kearifan para ulama Nusantara untuk bersikap hati-hati dari lupa melaksanakan salah satu rukun puasa tersebut. Manusia adalah tempatnya lupa, sementara keabsahan puasa Ramadhan pertama-tama dinilai dari niatnya. Tentu yang demikian tanpa mengabaikan keyakinan bahwa walaupun tidak diucapkan setelah shalat tarawih atau bahkan tidak diucapkan sama sekali—yang penting dari sejak malam dan sebelum subuh hati kita sudah berniat untuk berpuasa—puasa sudah sah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id