Meningkatnya Pengetahuan Tentang Islam di Balik Adanya Hegemoni di Dunia Barat

Meningkatnya Pengetahuan Tentang Islam di Balik Adanya Hegemoni di Dunia Barat

Almunawwar.or.id – Keniscayaan bagi seorang manusia adalah hidup yang tentu sangat membutuhkan sebuah interkasi dengan yang lainnya, dan hal inilah yang sangat memungkinkan adanya pergerakan dan perubahan baru di dalam kontek peradaban hidup dan kehidupan ini.

Dan keniscayaan itu rupanya kini sudah terlihat dari semakin menyenbar luasnya pemahaman dari nilai-nilai luhur agama islam yang memang sejak berabad-abad lalu sudah mulai dari kekuasaan dunia barat yang memonitoring semua bentuk dan kebutuhan hidupa banyak orang.

Percaya atau tidak meningkatnya alur dari pada nilai interkasi itu memang tidak bisa lepas dari peran yang sangat besar yang di bawa dan di timbulkan oleh semua golongan, dan rupanya hal ini berjalan sampai sekarang dimana konteksual tentang dunia islam kini mulai bisa di terima oleh sebagian bangsa barat.

Yang notabane nya adalah para penguasa yang mampu mengendalikan apa yang menjadi sebuah kebutuhan terutama bagi umat islam itu sendiri, mencakup pada beberapa titik dan area dari nilai kehidupan ini misal dari penguasaan dunia teknologi, informasi dan semua yang mengakar pada dan dalam sisi realita kehidupan ini.

Karena memang arus globalisasi sangat identik dengan mudahnya dan cepatnya transmisi informasi dari suatu daerah ke daerah lain, seakan-akan suatu peristiwa yang terjadi di suatu daerah juga terjadi dalam daerah lain. Di sisi lain, globalisasi bisa jadi merupakan dampak dari kemajuan IPTEK.

Kemajuan komunikasi misalnya, meniscayakan adanya komunikasi secara audio visual antar negara yang tentu saja meniscayakan adanya pertukaran informasi seperti yang saat ini sudah menjadi bagian penting dalam sendi-sendi kehidupan suatu bangsa.

Termasuk umat islam sendiri yang memang seolah menjadi sorotan penting bagi banyak orang terutama hegemoni yang di lakukan oleh bangsa barat sampai dengan saat ini, sejatinya semua sistem hegemoni tersebut sudah merambah pada sendi dan pundi-pundi nilai kulturisasi umat islam sebenarnya.

Kontrol dan dominasi Barat itulah yang disebut dengan hegemoni. Bentuk dominasi tersebut tidak lagi dalam bentuk fisik seperti peperangan. Ia telah bertransformasi dalam bentuk penguasaan pikiran, ide, dan pengetahuan. Hal itu lebih mudah dilakukan dengan telah dikuasainya media dan informasi oleh Barat.

Lantas bagaimana naba tindakan dan reaksi yang ssungguhnya dari umat islam itu sendiri terhadap penguasaan sistem hegemoni tersebut, apakah hanya mengikuti saja atau malah justru melawaan keniscayaan tersebut dengan menyebarkan nilai-nilai agama islam yang menjadi fondasi kehdiupan tersebut.

Dominasi diupayakan melalui cara non-fisik/kekerasan namun efektif dalam mengkontrol. Dalam hegemoni, kelompok yang mendominasi berhasil mempengaruhi kelompok yang didominasi untuk menerima nilai-nilai moral, politik, dan budaya dari kelompok dominan (The ruling party, kelompok yang berkuasa).

Hegemoni diterima sebagai sesuatu yang wajar, sehingga ideologi kelompok dominan dapat menyebar dan dipraktekkan. Nilai-nilai dan ideologi hegemoni ini diperjuangkan dan dipertahankan oleh pihak dominan sedemikian sehingga pihak yang didominasi tetap diam dan taat terhadap kepemimpinan kelompok penguasa.

Hegemoni bisa dilihat sebagai strategi untuk mempertahankan kekuasaan “ the practices of a capitalist class or its representatives to gain state power and maintain it later .“(Simon, 1982: 23). Jika dilihat sebagai strategi, maka konsep hegemoni bukanlah strategi eksklusif milik penguasa.

Dan puncak dari ideologi dan cara berfikir mereka khususnya tentang islam sendiri kini sudah mulai berbalik arah dengan semakin di terima ideologi islam itu sendiri, khususnya di negara-negara yang memiliki ketidakharmonisan hubungan dengan kebijakan dari kritis terhadap negara-negara islam yang berhadapan (Paradox).

Sehingga bisa di katakan akhir daasawarsa ini sistem hegemoni barat tersebut yang mampu menguasai sistem dunia islam atau bisa dikatakan lebih menjajah terhadap nilai kulturs islam itu sendiri yang di karenakan oleh beberapa faktor sebagaimana yang telah di ungkapkan oleh para analisis di antaranya faktor tersebut adalah :

1.Jatuhnya kekuasaan Turki Usmani
Fenomena ini yang diakibatkan kelelahan dalam mempertahankan wilayah kekuasaannya yang sangat luas senantiasa mendapat rongrongan dari Barat yang berambisi menguasai kembali wilayah mereka yang pernah diraih Islam, mulai dari Asia tengah sampai Eropa Timur (Balkan).

Sementara itu dalam kekuasaan Turki Usmani terjadi perpecahan yang berakibat makin melemahnya kekuasaannya di dunia Islam, bahkan sama sekali hilang dengan berdirinya Turki baru yang berbentuk republik sekuler di bawah kepemimpinan Mustafa Kamal Attaturk.

2. Pemimpin-pemimpin yang berkuasa kemudian tidak mewarisi kecakapan
Dalam hal ini seperti yang dimiliki oleh pendahulunya seperti Muhammad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel dan Salahuddin al-Ayyubi yang dikenal gagah berani melawan tentara Salib. Tidak dapat disangkal bahwa kuatnya kekuasaan Turki Usmani di wilayah Islam pada masa lalu karena sosok pemimpinnya yang hebat, kesatria dan berpengaruh. Sementara pemimpin yang belakangan tidak lagi bisa mewarisi pendahulunya tersebut.

3. Tidak adanya idiologi etnik pemersatu antar muslim
Dimana pemersatuan tersebut yang berasal dari Turki dengan Arab dan bangsa muslim lainnya yang tersebar di berbagai belahan dunia, yang muncul saat itu adalah sentimen antar etnik. Masing-masing etnik saat itu saling membanggakan kelebihan masing-masing, tidak lagi bisa disatukan di bawah idiologi Islam atau bendera
ukhuwwah Islamiyyah yang tanpa melihat golongan, kelompok, atau etnis tertentu.

4. Tidak adanya jalinan komuniksi intensif antara muslim di Asia
Misalnya dengan muslim di Afrika, karena islam memang terpencar-pencar melintasi batas benua dan kultur yang sangat berbeda satu sama lain.

5. Tidak adanya persatuan
Dalam hal ini adalah yang kuat yang mampu menjadi pengikat untuk semua umat Islam yang terdiri dari berbagai kultur dan tradisi yang tersebar di berbagai kawasan.

6. Hampir sebagian besar masyarakat Islam berada dalam kemiskinan dan tergantung pada Barat
Karena kemiskinannnya sangat mudah dipengaruhi dan di adu domba. Hanya sebagian kawasan Timur Tengah yang secara ekonomi maju, tapi secara politis tetap saja banyak bergantung pada Barat dalam rangka mengamankan aset mereka dari lawan-lawan politik regional.

7. Umat islam sudah terbiasa dengan gaya hidup konsumtif
sehingga kurang inisiatif untuk tidak tergantung pada bangsa lain. Berbeda bila di bandingkan pada abad pertengahan, islam mampu melahirkan ilmuan berkaliber Internasional seperti ahli kesehatan Ibn Sina, sosiolog Ibn Khaldun, Filosof Ibn Rusyd, dan banyak lainnya. Menurut Antonio Gramsci, hegemoni merupakan sebuah upaya pihak elite penguasa yang mendominasi untuk menggiring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar sesuai kehendaknya. Di sini “hegemoni” berlangsung secara smooth.

Sehingga tanpa terasa, tetapi masyarakat dengan sukarela mengikuti/menjalaninya. Lebih lanjut Gramsci menyatakan bahwa “hegemoni” ini dapat terjadi melalui media massa, sekolah-sekolah, bahkan melalui khotbah atau dakwah kaum religius, yang melakukan indoktrinasi terhadap orang banyak yang tentunya menimbulkan sebauh pemahaman baru bagi semua golongan.

Dan rupanya itu sudah menjadi bagian penting terhadap penilaian dan kebijakan sendiri dari para penguasa yang berada di negara-negara islam untuk bisa meraih kembali kejayaan islam di masa lampau sekaligus memutus dominasi sistem hegemoni yang di berlakukan oleh negara-negara barat.

Sebagai bentuk jawaban dari semua itu adalah dapat di terimanya ajaran dan pemahaman islam di beberapa negara-negara barat dengan semakin meningkatya kesadaran mereka terhadap nilai keluhuran ajaran yang terdapat pada islam tersebut seperti lewat pengajian Alquran dan yang lainnya.

Meningkatnya studi Islam ini, di antaranya, akibat dari ledakan penduduk Muslim yang hidup dan bekerja di Barat. Tak heran, pemahaman para sarjana Barat tentang Islam dan Alquran meningkat secara tajam. Meskipun ada semacam kesenjangan antara Barat dan dunia Islam perihal cara dan pendekatan dalam studi Islam.

Di dunia Islam sendiri, pendekatan tradisional lebih banyak diutamakan, sementara di Barat, mereka lebih menekankan pada pendekatan sosial-humaniora dalam studi Islam. Fakta ini justru makin menjadikan studi Islam lebih kolaboratif dan berkembang, baik di dunia Islam sendiri maupun di Barat.

Yang lebih penting dari semua itu, adanya semacam kesadaran intelektual yang dibangun oleh orang-orang Barat tentang pentingnya mengkaji dan memahami agama-agama lain. Jane Dammen McAuliffe, misalnya, seorang editor Ensiklopedi Alquran, mengajak umat Islam dan orang-orang Barat yang non-Islam, untuk berpikir bersama tentang Alquran.

Hal yang amat tak bisa diabaikan juga adalah, mereka sangat menghargai setiap kekayaan tradisi dan keilmuan dalam Islam. Di Barat, secara kuantitatif, ilmu pengetahuan meningkat secara tajam, mereka lalu menjadikan studi Islam sebagai sesuatu yang sangat penting secara akademis dan studi Islam menjadi bidang keilmuan yang indendepden.

Akibatnya, berbagai macam hasil penelitian tentang Islam menjadi mengemuka. Adanya publikasi besar-besaran di bidang sejarah Islam, budaya, bahasa Arab, politik dan kajian Islam menjadi semakin luas dan dikenal. Sarjana-sarjana Barat menjadi makin banyak yang ahli di bidang keislaman.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
Almunawwar.or.id
bangkitmedia.com