Meraih Cuan Bagi Konsumen Dari Kebijakan Kartel Digital Perbankan

Meraih Cuan Bagi Konsumen Dari Kebijakan Kartel Digital Perbankan

Almunawwar.or.id – Perkembangan inovasi di dunia digital yang berimbas pada sisi pola perekonomian masyarakat banyak saat ini memang begitu pesat, Para pelaku bisnis baik itu kartel maupun konsumen seolah sudah menjadi sebuah haluan perbankan untuk lebih menggairahkan jalur perekonomian di masa sekarang dan mendatang, Bermunculannya inovasi ekonomi tersebut rupanya menjadi warna tersendiri di balik kecanggihan tekologi saat ini.

Tak ayal apabila sekarang begitu banyaknya para pegiat dunia ekonomi digital, mulai dari pasar jual beli online atau marketplace, penyediaan layanan keuangan dengan berbasis pada sebuah aplikasi dan lai sebagainya, itu semuanya tentunya sangat membutuhkan sebuah manajemen khusus dalam menjalanakn setiap transaksi yang berjalan, Sehingga bisa menempatkan adaya keuntungan baik untuk konsumen maupun bagi para kartel-kartel bisnis.

Bisa di katakan untuk meraih atau mendapatkan cuan dalam hal ini adalah keuntungan sangat di perlukan sebuah kecermatan dalam menjalankan sebuah peran bagi kedua pihak tersebut, Dan seolah nampaknya pemandangan itu sudah berlaku bagi semua element masyarakat saat ini. Karena bagaimanapun juga lewat adanya revolusi digital semuanya terasa mudah dan gampang, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya resiko yang tidak di harapkan.

Dan sebuah keniscayaan kian terbuka lewat adanya inovasi digital, Masyarakat luas seolah di iringkan dengan berkehendak sendiri untuk bisa terlibat langsung dalam perputaran ekonomi berbasis digital saat ini. Ada sisi manfaat ketika hal ini berlangsung yaitu tersentralisasi keuangan masyarakat di perbankan dengan sistem yang valid sekaligus secara tidak langsung hal tersebut bisa mengurangi peredaran uang publik.

Setidaknya ada beberapa poin penting yang harus di perhatikan dan di cermati bagi para pelaku dunia ekonomi digital, terutama bagi para konsumen yang notabane nya mereka masyarakat luas yang memang sebelumnya belum tersentuh oleh sistem dunia eknomoi digital tersebut, Meskipun dalam proses transaksinya itu begitu sangat di mudahkan dan dapat dipercaya, akan tetapi setidaknya ketiga hal di bawah ini bisa menjadi referensi tepat agar cuan bisa di dapat.

1. Untuk bisa mengikuti dampak inovasi digital, uang masyarakat menjadi terpecah di beberapa kantung-kantung keuangan. Kantung yang paling pokok dalam ruang ini adalah perbankan dan industri jasa layanan, seperti provider internet dan produk layanan pembayaran OVO, Dana, Link, dan sejenisnya. Provider internet merupakan basis utama untuk akses produk digital. Tanpa internet masyarakat tidak bisa mengaksesnya. Alhasil, dana masyarakat menjadi terkonsentrasi di produk layanan tersebut, dan menjadi pengeluaran rutin setiap bulannya. Dengan demikian, gaji mereka menghendaki disisihkan ke wilayah tersebut. Paling tidak, adalah 10% dari pendapatan yang dimilikinya seiring produk smartphone dengan teknologi 4G dan 5Gnya membutuhkan konsumsi data internet yang tidak murah.

2. Mengakses produk hasil inovasi digital juga bukan berarti bebas biaya. Biaya admin, biaya transfer antarbank, adalah bagian dari pengeluaran-pengeluaran (spread) yang terkadang kurang diperhatikan namun itu riil dan mengurangi saldo tabungan masyarakat yang memakainya. Padahal, di satu sisi, pihak jasa perbankan sudah meraih cuan dengan keberadaan terkonsentrasinya uang nasabah penggunanya dalam kantung-kantung keuangan mereka. Mereka terkadang menggunakannya tanpa seizin dari pihak nasabah (ghashab) di jalur-jalur produktif yang memberikan cuan buat penyelenggara, namun tidak dengan konsumennya. Tentu ini adalah bagian dari hal yang merugikan konsumen.

3. Ketergantungan sistemik pada satu atau sedikit pihak penyelenggara layanan digital memang semakin berkurang. Namun, ini secara tidak langsung juga mengajarkan kepada masyarakat agar mendeferensiasikan pendapatan rutin mereka ke beberapa jasa layanan sekaligus. Ibarat kartu smartphone, tidak cukup dengan hanya satu kartu SIM, melainkan harus 2 kartu dengan berbeda provider. Tidak cukup dengan OVO, melainkan harus pula menyediakan uang elektronik Link atau Dana. Padahal, tiap-tiap kartu juga membutuhkan pengeluaran, bukan? Belum lagi, setiap kartu hanya bisa dipergunakan di tempat-tempat tertentu saja sehingga tidak berlangsung universal.

Dari ketiga imbas tersebut tentunya sangat di butuhkan sebuah kebijakan dari pelaku bisnis usaha digital dalam hal ini mereka The First Hand yang memegang kendali terhadap keberlangsungan sebuah transaksi digital agar cuan bisa di dapatkan oleh semua pihak, Saling menguntungkan dan tentunya tidak ada pihak yang di rugikan terlebih harus sesuai dengan kaidah aqad menuut fiqh Islam agar tuntutan ekonomi bisa berbuah menjadi tuntunan jalan perekonomian yang syar’i.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id