Metode Amtsilati Dan Ibtidai, Dua Cara Mudah Dalam Menguasai Kitab Kuning

Metode Amtsilati Dan Ibtidai, Dua Cara Mudah Dalam Menguasai Kitab Kuning

Almunawwar.or.id – Sebuah kajian khusus yang membahas tentang bagaimana caranya mendapatkan kemudahan saat akan mempelajari bahkan menguasai ilmu-ilmu dasar yang ada pada kitab-kitab kuning sebagai bagian dari pada metode pembelajaran serta kurikulum di setiap lembaga Pondok Pesantren pada khususnya.

Terlebih khusus bagi para pelajar pemula yang memang terkadang merasa kesulitan ketika harus belajar kitab-kitab kuning dengan pemaknaan dasar yang secara umum terbilang sulit untuk di pahami dan di pelajari, meskipun bisa di atasi jika di pelajari secara terus menerus seiring dengan berjalannya waktu.

Nah dalam hal ini banyak para ulama dan kiayi saat ini terutama yang memiliki pondok pesantren yang memberikan gagasan tersendiri dalam memberikan langkah termudah dan terbaik bagi pelajar ataupun santri pemula saat mengikuti kurikulum pelajaran, salah satunya dari metode amtsilati dan ibtidai.

Dua metode tersebut di gagas oleh salah seorang kiayi di salah satu pondok pesantren di jawa tengah, beliau sangat mengkhawatirkan terhadap rasa pedulinya para pelajar saat ini yang tidak begitu tertarik untuk mempelajari kitab kuning sebagai dasar utama dalam mempelajari ilmu-ilmu agama.

Untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut, maka beliau mengeluarkan sebuah prinsip metode pembelajaran yang tertuangkan pada amtsilati tersebut, Dimana secara bahasa, kata “amtsilati” itu bermakna “contohku”, maksudnya metode yang digagasnya dituangkan dalam bentuk buku dengan banyak contoh agar mudah dipahami bagi yang ingin belajar kitab kuning.

Dan amtsilati yang digagasnya ditulis dalam buku sebanyak lima jilid satu jilid tentang Khulashah (ringkasan dan intisari kitab Alfiyah Ibnu Malik, yang kitab aslinya terdiri dari 1000 bait nazham); dua jilid Mutammimah (berarti pelengkap dari Khulashah sebelum masuk ke kaidah-kaidah, seperti pembicaraan tentang nashab, rafa’, dan lain-lain, yang merupakan penerapan dari rumus-rumus yang ada di Khulashah).

Ada beberapa alasan mengapa metode tersebut sangatlah penting untuk di pelajari dan di pahami lebih lanjut oleh para pelajar saat ini di antaranya :

1. Anggapan bahwa membaca kitab kuning itu sulit, dan memerlukan kemampuan penguasaan atas tata bahasa Arab yang dikaji dalam kitab-kitab yang berat, seperti Alfiyah Ibnu Malik, `Imrithi, dan lain-lain, sehingga perlu kitab yang mempermudah.

2. Didorong oleh penemuan metode membaca Al-Qur’an Qira’ati, sehingga sangat dibutuhkan metode semacam itu, tetapi dalam hal membaca kitab kuning.

3. Tidak semua nazhan-nazham yang dihafalkan dalam kitab kuning yang berkaitan dengan tata bahasa Arab itu digunakan ketika membaca kitab kuning, sehingga dibutuhkan yang ringkas saja.

Dan metode amtsilati sebenarnya juga menggunakan nazham tertentu untuk mudah dihafal, terutama Khulashah dan Mutammimah, dan dalam hal ini sama dengan nazham dalam kitab nahwu yang lain. Isinya juga sama dengan kitab-kitab tata bahasa Arab yang lain. Hanya saja, kekhasannya terletak pada tiga faktor berikut ini.

1. Nazham itu diberi arti Arab pegon dengan miring, seperti ngesahi dalam pesantren, sehingga dengan membaca arti Arab pegon ini, yang membaca sudah diajak belajar membaca kitab kuning.

2. Kalimat Arab pegon yang berbunyi bahasa Jawa itu, kemudian diartikan dengan bahasa latin Jawa, sehingga kalau terjadi kesulitan dalam membaca pegon dengan bunyi Jawa itu, maka bisa merujuk pada latin Jawanya. Langkah kedua ini sangat membantu untuk mengenal dan membaca kitab kuning gundul, karena diberi alat bantu dengan terjemahan latinnnya.

3. Matan nazham itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga ini juga mempermudah lagi bagi mereka yang tidak berbahasa Jawa, atau masih kesulitan dengan langkah dua dan langkah tiga. Ini masih ditambah sebagian ada deskripsi penjelasan-penjelasan, untuk memperjelas pokok pahasan, disertai dengan contoh-contoh, kadang diberi kotak-kotak, beserta kedudukan posisi kata dalam tata bahasa Arab yang memperkaya Amtsilati.

Selanjutnya adalah metode Ibtidai, Dinamakan Ibtidai karena metode ini sebagai bentuk permulaan untuk belajar ilmu nahwu baik jurumiyah, imrithi dan alfiyah. Metode ini dianggap berbeda dari yang lain. yang tertuju pada tiga hal penting dalam menguasai metode ibtidai tersebut yaitu :

Bandongan, sorogan, serta penguasaan nahwu dan shorof. Ketiga metode ini di pesantren biasanya terpisah. Tetapi dalam metode ibtidai digabungkan menjadi satu kesatuan.

Sehingga dengan metode ini tidak untuk dihafalkan melainkan tetapi lebih pada meniteni, mengingat-ingat. Bagi para penghafal al-qur’an metode ini juga tidak mengganggu konsentrasi hafalan mereka. Juga tidak menambah beban segunung materi sekolah formal.

Adapun konsep dasar yang di terapkan dari metode ibtidai ini terletak pada dua cara pembelajaran penting yakni Pertama, pasca TPQ/ Madin/SD/Mi. kedua MTs/SMP/MA/SMK. Pasca TPQ dibagi dua tingkatan fan 1 mempelajari 4 kitab Tijan Addurari (Tauhid), Safinah (Fiqih), Wasoya (Akhlak) dan Arbain (Hadits) perkitab ditempuh dua bulan.

Fan kedua dalam waktu yang sama delapan bulan dengan kitab Sulam Taufiq (Fiqih), Tafsir Al Luqman (alquran) dan Khulasoh Nurul Yaqin (Tarikh). Adapun untuk MTs dan MA dibagi dua kelompok yang di asramakan dan yang tidak diasramakan.

Layaknya metode Yanbua dan Qiroati yang bisa dipelajari dengan mudah oleh anak-anak. “Yanbua dan Qiroati saja bisa dipelajari dengan mudah oleh anak-anak. Kitab kuning juga harus bisa,” tambahnya sembari meyakinkan.

Itulah salah satu cara termudah dan tercepat dalam menguasai tehnik dasar ilmu-ilmu kitab kuning sebagaimana yang telah di kemukakan oleh beberapa kiayi saat ini, sehingga bisa di aplikasikan dalam kajian kitab kuning yang di pelajari di pesantren-pesantren.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id