Muktamar NU Ke 34 Diselenggarakan di Lampung, Berikut Sejarah, Rute dan Makna Logonya

Muktamar NU Ke 34 Diselenggarakan di Lampung, Berikut Sejarah, Rute dan Makna Logonya

Almunawwar.or.id – Pada setiap lima tahun sekali organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar di Indonesia yaitu NU selalu menyelenggarakan Muktamar, Hajatan akbar warga nahddiyyah ini merupakan forum permusyawaratan tertinggi yang ada pada tubuh organisasi tersebut untuk kepentingan semua agenda penting mulai dari mengevaluasi kinerja kepengurusan PCNU di berbagai daerah, menyusun agenda baru dan adanya pemilihan kepengurusan baru untuk periode selanjutnya.

Hadirnya Muktamar NU tentu ada manfaat dan keberkahan tersendiri yang tidak hanya bisa di rasakan oleh warga nahdiyyah saja, namun semua orang juga dapat merasakan hikmah dan manfaat dari adanya penyelenggaraan ini. Karena memang tidak hanya soal evaluasi namun dalam muktamar ini juga membahas semua permasalahan yang berkembang di banyak publik, sehingga di bentuk beberapa komisi yaitu Komisi Waqi’iyah, Qanuniyah, dan Maudluiyyah sesuai tema yang di angkatnya.

Muktamar NU sendiri di ikuti oleh seluruh kepengurusan pusat yakni Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), kepengurusan tingkat provinsi yakni Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), dan kepengurusan tingkat kabupaten yakni Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) untuk membahas semua agenda yang sudah di kerjakan pada periode sebelumya dan di evaluais kembali pada penyelenggaraaan hajatan tersebut.

Adapun untuk tempat terselenggaranya Muktamar tersebut itu di tunjuk sesuai dengan hasil musyawarah para pengurus NU tentu dalam hal ini sesuai dengan penyeleksian yang kooperatif dari mulai kelayakan tempat, akses jalan dan tentunya kesiapan sebuah lembaga pendidikan yang di percaya untuk menyelenggarakan kegiatan muktamar. Sehingga semuanya bisa berjalan lancar dan sukses sesuai dengan apa yang telah di agendakan.

Sejarah panjang Muktamar NU ini berawal dari pertemuan para ulama pesantren pada tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 Hijriyah di Bubutan Surabaya yang menghasilkan sebuah keputusan yang penting, yakni berdirinya ormas keagamaan terbesar di Indonesia saat ini, yakni Nahdlatul Ulama.

Pertemuan yang diprakarsai oleh KH Abd Wahab Chasbullah dihadiri oleh ulama terkemuka dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, diantara ulama yang hadir yaitu: KH Asnawi (Kudus), KH Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), KH Nakhrawi (Malang), KH Darumuntaha (Bangkalan Madura), KH Abdul Aziz, dan Haji Nawai (Pasuruan), KH Hambali (Kudus), KH Ridwan (Semarang), KH Kholil (Lasem), KH Hamid bin Faqih.

Sampai saat ini Muktamar NU masuk pada era ke 34 yang akan di selenggarakan di Pesantren Darussa’adah, di Lingkungan III Dusun Celikah, Kelurahan Seputih Jaya, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah. dan untuk menuju ke tempat tersebut bisa di tempuh baik dari jalur darat maupun udara. Berikut rute jalur menuju lokasi Muktamar NU yang ke 34 tersebut.

Jalur Darat
Dari arah pulau Jawa, peserta muktamar (muktamirin) bisa menggunakan jasa transportasi kapal pelabuhan Merak menuju Bakauheni. Setelah itu muktamirin bisa menggunakan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni – Terbanggi Besar (Bakter) yang berjarak kurang lebih 131 km. Dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, muktamirin keluar melalui Pintu Tol Gunung Sugih dengan biaya tol lebih kurang Rp.110.000. Setelah keluar Pintu Tol Gunung Sugih, muktamirin mengambil jalur kiri memasuki Jalan Lintas Sumatera.

Berjarak sekitar lebih kurang 200 meter, muktamirin akan menemukan plang Pesantren Darussaadah di sebelah kanan. Inilah jalan akses masuk ke pesantren yang berjarak sekitar 2 km dari Jalan Lintas Sumatera. Setelah keluar Pintu Tol Gunung Sugih, muktamirin mengambil jalur kiri memasuki Jalan Lintas Sumatera. Berjarak sekitar lebih kurang 200 meter, muktamirin akan menemukan plang Pesantren Darussaadah di sebelah kanan. Inilah jalan akses masuk ke pesantren yang berjarak sekitar 2 km dari Jalan Lintas Sumatera.

Jalur Udara
Semua peserta bisa mengambil jalur pendaratan pesawat di Bandara Raden Intan beranti Lampung Selatan. Dari bandara ini, peserta membutuhkan waktu 40 menit menggunakan akses jalan tol dan 60 menit menggunakan jalan non tol untuk sampai ke lokasi pembukaan muktamar. Dan berikut hasil Muktamar NU dari pertama sampai dengan sekarang dengan tempat, kepengurusan Rais Akbar dan ketua Tanfidziyah.

1. Muktamar NU ke-1 (Surabaya, 1926):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
H. Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah)

2. Muktamar NU ke-2 (Surabaya, 1927):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
H. Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah)

3. Muktamar NU ke-3 (Surabaya, 1928):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
H. Hasan Gipo (Ketua Tanfidziyah)

4. Muktamar NU ke-4 (Semarang, 1929):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

5. Muktamar NU ke-5 (Pekalongan, 1930):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

6. Muktamar NU ke-6 (Cirebon, 1931):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

7. Muktamar NU ke-7 (Bandung, 1932):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

8. Muktamar NU ke-8 (Jakarta, 1933):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

9. Muktamar NU ke-9 (Banyuwangi, 1934):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

10. Muktamar NU ke-10 (Surakarta, 1935):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

11. Muktamar NU ke-11 (Banjarmasin, 1936):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Achmad Nor (Ketua Tanfidziyah)

12. Muktamar NU ke-12 (Malang, 1937):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

13. Muktamar NU ke-13 (Menes Pandeglang Banten, 1938):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

14. Muktamar NU ke-14 (Magelang, 1939):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

15. Muktamar NU ke-15 (Surabaya, 1940):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Machfudz Siddiq (Ketua Tanfidziyah)

16. Muktamar NU ke-16 (Purwokerto, 1946):
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar)
KH. Nachrowi Tohir (Ketua Tanfidziyah)

17. Muktamar NU ke-17 (Madiun, 1947):
KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
KH. Nachrowi Tohir (Ketua Tanfidziyah)

18. Muktamar NU ke-18 (Jakarta, 1948):
KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
KH. Nachrowi Tohir (Ketua Tanfidziyah)

19. Muktamar NU ke-19 (Palembang, 1951):
KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
KH. Abdul Wahid Hasyim (Ketua Tanfidziyah)

20. Muktamar NU ke-20 (Surabaya, 1954):
KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
KH. Muhammad Dahlan (Ketua Tanfidziyah)

21. Muktamar NU ke-21 (Medan, 1956):
KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

22. Muktamar NU ke-22 (Jakarta, 1959):
KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

23. Muktamar NU ke-23 (Surakarta, 1962):
KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

24. Muktamar NU ke-24 (Bandung, 1967):
KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rais Aam)
KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

25. Muktamar NU ke-25 (Surabaya, 1971):
KH. Bisri Syansuri (Rais Aam)
KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

26. Muktamar NU ke-26 (Semarang, 1979):
KH. Bisri Syansuri (Rais Aam)
KH. Idham Chalid (Ketua Tanfidziyah)

27. Muktamar NU ke-27 (Situbondo, 1984):
KH. Achmad Siddiq (Rais Aam)
KH. Abdurrahman Wahid (Ketua Tanfidziyah)

28. Muktamar NU ke-28 (Yogyakarta, 1989):
KH. Achmad Siddiq (Rais Aam), Beliau wafat tahun 1991 kemudian diganti oleh KH. M. Ilyas Ruchiyat menjadi Pjs Rais Aam 1992-1994
KH. Abdurrahman Wahid (Ketua Tanfidziyah)

29. Muktamar NU ke-29 (Tasikmalaya, 1994):
KH. M. Ilyas Ruchiyat (Rais Aam)
KH. Abdurrahman Wahid (Ketua Tanfidziyah)

30. Muktamar NU ke-30 (Kediri, 1999):
KH. MA. Sahal Machfudh (Rais Aam)
KH. A. Hasyim Muzadi (Ketua Tanfidziyah)

31. Muktamar NU ke-31 (Surakarta, 2004):
KH. MA. Sahal Machfudh (Rais Aam)
KH. A. Hasyim Muzadi (Ketua Tanfidziyah)

32. Muktamar NU ke-32 (Makassar, 2010):
KH. MA. Sahal Machfudh (Rais Aam), Beliau wafat tahun 2014 kemudian diganti oleh KH. A. Musthofa Bisri menjadi Plt Rais Aam 2014-2015
KH. Said Aqil Siradj (Ketua Tanfidziyah)

33. Muktamar NU ke-33 (Jombang, 2015):
KH. Ma’ruf Amin (Rais Aam), Beliau dipilih menjadi Cawapres 2019 mendampingi Presiden Joko Widodo, kemudian jabatan Rais Aam diganti oleh KH. Miftachul Akhyar mulai tanggal 22 September 2018
KH. Said Aqil Siradj (Ketua Tanfidziyah)

Makna Logo Muktamar NU ke 34
Makna filosofis dari logo yang didominasi warna kuning emas dan hijau ini bisa terlihat dari gambar Siger Lampung yang melambangkan ciri khas daerah Lampung. Siger melambangkan keagungan adat budaya dan tingkat kehidupan terhormat. Angka satu dalam huruf arab yang dikombinasikan dengan siger menjadi simbol kemandirian. Logo ini mengandung makna kewibawaan orang terpilih yang dilambangkan dengan siger, dipadukan dengan warna kuning dan oranye yang berarti kesemangatan dan kehangatan. Warna hijau sendiri menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama yang berarti kesuburan dan kesejukan.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id