Napak Tilas KH Shoheh Bunikasih Sahabat Syekh Nawawi dan Murid Syekh Al Baijuri

Napak Tilas KH Shoheh Bunikasih Sahabat Syekh Nawawi dan Murid Syekh Al Baijuri

Almunawwar.or.id – Peranan penting Ulama baik yang terdahulu maupun masa kini bagi kemaslahatan dan kemanfaatan berbangsa daan bernegara itu sangat besar dan berpengaruh sekali, Terutama dari sisi perjuangan dan nilai pemikirannya yang lahir sebagai semangat perjuangan dalam memerdekakan dari semua bentuk penjajahan, baik penjajahan secara fisik maupun yang berkenaan dengan penjajahan psikis atau cara berjiwa dan berpikir seseorang.

Munculnya sebuah gagasan untuk lebih memakmurkan dan mensejahterakan umat atau banyak orang itu tidak lepas dari buah pemikiran seorang Ulama, terutama ulama-ulama terdahulu yang sangat berjasa sekali dalam mewujudkan harapan dan cita-cita bangsa. Gagasan tersebut tersirat dalam sepak terjang perjalanan semasa para Ulama tersebut masih hidup yang meninggalkan jejak dan dampak manfaat besar kepada masa selanjutnya.

Setidaknya ada dan banyak karya-karya penting yang di cetuskan oleh Ulama tersebut sebagai buah pemikiran dari kedudukannya sebagai tauladan yang baik bagi masyarakat luas, Sehingga napak tilasnya selama mereka (Para Ulama) masih ada itu menelur dan berkembang ke setiap elemen masyarakat luas. Tentunya dalam hal ini dari segi menuntut ilmu satu sama lain, belajar dan berguru lewat lembaga non formal yang di dirikannya seperti Madrasah dan Pesantren.

Kemakmuran Ilmu para Ulama pada saat itu tersebar melalui muridnya di beberapa daerah atau wilayah di Indonesia, Salah satu di antaranya banyak para Ulama di masa perjuangan dulu yang lahir di daerah Jawa Barat seperti KH Shoheh Bunikasih yaitu seorang ulama besar yang lahir di Cianjur Jawa Barat beliau merupakan sahabat karib Syeikh Nawani Al bantani dan murid dari Syekh Ibrahim Al-Baijuri.

Dari nama guru dan shahabat karibnya tersebut sudah terlihat bahwa beliau KH Shoheh Bunikasih merupakan Ulama yang bersahaja, kharismatik dan tentunya Istiqomah dalam mensyiarkan agama Islam di Nusantara khususnya di daerah Jawa Barat. Mengingat Syeikh Nawani Al bantani dan Syekh Ibrahim Al-Baijuri terlahir karya-karya ilmu mereka yang tertuang pada sebuah karangan kitab kuning seperti kitab Safinatunnaja dan Khasiah Al Baijuri dan masih banyak karya lainnya. Berikut Napak Tilas Perjuangan KH Shoheh bin KH Nuruddin.

Di Desa Bunikasih (Warungkondang), Cianjur, Jawa Barat, ternyata terdapat makam seorang ulama besar Sunda yang hidup di abad ke-19 M, yaitu KH Shoheh bin KH Nuruddin. KH Shoheh tercatat wafat pada 24 Rajab tahun 1302 Hijri (bertepatan dengan 10 Mei 1885 Masehi).

Dalam kitab Fawa’id al-Muhtaj yang mengisahkan riwayat hidup KH Ahmad Syathibi (Mama Gentur, w. 1947 M), ulama sentral di Tatar Pasundan pada paruh pertama abad ke-20 M, disebutkan bahwa KH Syathibi Gentur pernah belajar dan menjadi santri dari KH Shoheh Bunikasih.Jarak antara Gentur (Jambudipa) dengan Bunikasih memang tidak terlalu jauh, terpaut sekitar 3 kilo meter.

Kitab Fawa’id al-Muhtaj merupakan karangan KH Dahyatullah bin KH Rahmatullah, yang tak lain adalah cucu dari KH Ahmad Syathibi Gentur.

Dikisahkan dalam kitab tersebut bahwa KH Shoheh Bunikasih adalah murid dari syekh Ibrahim al-Baijuri (w. 1860 M), ulama besar Mesir yang pernah menjabat sebagai Grand Syekh Al-Azhar Kairo sekaligus pengarang banyak kitab-kitab rujukan, di antaranya adalah kitab Hasyiah al-Baijuri ‘ala Fath al-Qarib (dalam bidang fikih atau yurisprudens), Hasyiah Tuhfah al-Murid ‘ala Jauharah al-Tauhid (dalam bidang teologi), termasuk nazham (puisi) Masa’il al-Baijuri fi al-‘Aqa’id (nazhaman ini yang kemudian di-syarah oleh Syekh Nawawi Banten).

KH Shoheh Bunikasih juga ternyata merupakan kawan dari Syekh Nawawi Banten (w. 1897 M), ulama besar Makkah abad ke-19 M yang banyak menulis karya keilmuan Islam dan berasal dari Nusantara.

Informasi penting lainnya yang didapati dari kitab tersebut adalah keberadaan KH Shohehlah yang ternyata yang memotivasi Syekh Nawawi Banten untuk menulis kitab Tijan al-Darari yang merupakan syarah atau penjelasan atas teks (matan) kitab Masa’il al-Baijuri [fi al-‘Aqa’id” karangan Syekh Ibrahim al-Baijuri yang merupakan guru keduanya.

Sosok yang dimaksud oleh Syekh Nawawi Banten dalam redaksi (طلب مني بعض الإخوان) “telah meminta kepadaku seorang sahabatku untuk menulis kitab Tijan al-Darari, tak lain dan tak bukan adalah KH Shoheh Bunikasih ini.

Selain KH Shoheh Bunikasih, dalam kitab itu juga disebutkan seorang ulama Priangan lainnya yang menjadi murid dari Syekh Ibrahim al-Baijuri ini, yaitu KH Adzro’i Bojong, Garut (w. ?). Sayangnya saya belum mendapatkan informasi dan data yang cukup memadai terkait sosok KH Adzro’i Bojong Garut ini.

Selain dipertalikan oleh sanad keguruan kepada Syekh Ibrahim al-Baijuri, antara Syekh Nawawi Banten, KH Adzro’i Garut, dan KH Shoheh Bunikasih, ketiganya juga dipertemukan sanad keilmuannya sebagai sama-sama murid dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (w. 1886), pengarang kitab Syarah Mukhtashar Jiddan ‘ala al-Ajurumiyyah sekaligus mufti mazhab Syafi’i di Makkah pada masanya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
jabar.nu.or.id