Nasib Seorang Istri Yang Kufur Nikmat Berdasarkan Keterangan Al Hadits

Nasib Seorang Istri Yang Kufur Nikmat Berdasarkan Keterangan Al Hadits

Almunawwar.or.id – Masalah yang memang sering di alami oleh para istri terutama yang sudah dan sedang menjalankan roda rumah tangganya salah satunya adalah tidak bisa menerima dengan apa yang sudah di berikan oleh suaminya sebagai bentuk dari pada pemberian nafkah dalam mencukupi kebutuhan sehari-harinya.

Sehingga terasa gunjing dan cukup mendasar bagi mereka para istri yang tidak mampu meneriman segala hal yang telah di terimanya melalui perantara sang suami, atau dalam istilah agama di sebut denga kufur nikmat yang artinya orang yang tidak bisa merasakan adanya syukur terhadap nikmat yang telah di terimanya.

Terutama bagi sang istri yang memang sejatinya merupakan mahluq spesial baik untuk tingkat kemaslahatan dengan “Sebaik-baiknya harta duni itu adalah istri yang shaolihah” maupun dari segi kemadharatannya seperti banyaknya penghuni neraka itu adalah istri.

Dan termasuk bagi mereka sendiri seorang istri yang tidak mampu menjadikan kepercayaan sang suami lewat pemberian nafkahnya itu sebagai dari pada hal yang wajib untuk di syukuri, jangan sampai di kufuri semua pemberian dari seorang pemimpin rumah tangga itu.

Karena yaqinilah apa yang sudah di berikan oleh seorang suami terhadap istrinya itu adalah daya ikhtyar yang maksimal dan menjadi bagian dari pada pelaksanaan sebuah kewajibannya demi istri tercinta. Sebagaimana yang di terangkan dalam sebuah hadits tentang kedudukan seorang istri yang kufur nikmat, berikut redaksinya.

Hadits riwayat Imam Nasai :

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ مَالِكٍ قَالَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا قَرَأَ نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ قَالَ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتْ الشَّمْسُ فَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي مَقَامِكَ هَذَا ثُمَّ رَأَيْنَاكَ تَكَعْكَعْتَ قَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ أَوْ أُرِيتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Salamah] dia berkata : Telah menceritakan kepada kami (Ibnul Qasim) dari (Malik) dia berkata : Telah menceritakan kepadaku (Zaid bin Aslam) dari (‘Atha bin Yasar) dari (‘Abdullah bin ‘Abbas) dia berkata : “Telah terjadi gerhana matahari, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama orang-orang. Beliau berdiri lama dengan membaca surat yang sepadan dengan surah Al Baqarah.”

Kemudian Abdullah berkata lagi : ‘Kemudian beliau ruku’ dengan ruku’ yang lama, lalu mengangkat kepalanya dan berdiri (lagi), tapi lebih singkat dari yang pertama. Kemudian ruku’ dengan ruku’ yang lama tapi lebih singkat dari ruku’ yang pertama.

Lalu beliau mengangkat (kepalanya) dan berdiri lagi dengan lama, namun lebih singkat dari yang pertama. Kemudian beliau ruku’ dengan ruku’ yang lama, namun lebih singkat dari ruku’ yang pertama. Lalu beliau sujud dan pergi sedangkan matahari telah terang.

Setelah itu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Matahari dan Bulan adalah dua tanda diantara tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka berdzikirlah kepada Allah Azza Wa Jalla.’

Para sahabat berkata : ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami melihat engkau menggapai sesuatu pada posisimu ini, kemudian kami melihatmu juga mundur? ‘ Beliau bersabda : ‘Aku melihat surga -atau diperlihatkan kepadaku surga. Seandainya aku mengambil sesuatu dari surga, maka kamu pasti akan memakannya, lalu tak akan tersisa lagi dunia ini. Aku juga melihat neraka. Aku belum melihat pandangan yang lebih menakutkan dari ini dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.’

Para sahabat berkata : ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kenapa bisa begitu? ‘ Beliau menjawab : ‘Karena kekufuran mereka’. -Dalam riwayat lain : Karena mereka kufur kepada Allah?- Beliau meneruskan lagi : ‘Mereka juga kufur terhadap kebaikan suami dan kufur terhadap kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka (wanita) sepanjang masa, Lalu dia melihat suatu (keburukan) pada dirimu’, Maka dia akan berkata : ‘Aku tidak melihat suatu kebaikanpun pada dirimu!,

Keterangan lainnya bisa di tela’ah kembali dari dua sumber berikut ini:

1. Shohih bukhori (lihat 4 baris terakhir) :

ﺑﺎﺏ ﻛﻔﺮﺍﻥ ﺍﻟﻌﺸﻴﺮ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺰﻭﺝ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺨﻠﻴﻂ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﺎﺷﺮﺓ ﻓﻴﻪ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
4901 ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻳﻮﺳﻒ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻣﺎﻟﻚ ﻋﻦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﺃﺳﻠﻢ ﻋﻦ
ﻋﻄﺎﺀ ﺑﻦ ﻳﺴﺎﺭ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﺧﺴﻔﺖ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺼﻠﻰ ‏
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻌﻪ ﻓﻘﺎﻡ ﻗﻴﺎﻣﺎ ﻃﻮﻳﻼ ﻧﺤﻮﺍ ﻣﻦ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ ﺛﻢ ﺭﻛﻊ ﺭﻛﻮﻋﺎ ﻃﻮﻳﻼ ﺛﻢ ﺭﻓﻊ ﻓﻘﺎﻡ ﻗﻴﺎﻣﺎ ﻃﻮﻳﻼ ﻭﻫﻮ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺍﻷﻭﻝ ﺛﻢ ﺭﻛﻊ ﺭﻛﻮﻋﺎ ﻃﻮﻳﻼ ﻭﻫﻮ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﺍﻷﻭﻝ ﺛﻢ ﺳﺠﺪ ﺛﻢ ﻗﺎﻡ ﻓﻘﺎﻡ ﻗﻴﺎﻣﺎ ﻃﻮﻳﻼ ﻭﻫﻮ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺍﻷﻭﻝ ﺛﻢ ﺭﻛﻊ ﺭﻛﻮﻋﺎ ﻃﻮﻳﻼ ﻭﻫﻮ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﺍﻷﻭﻝ ﺛﻢ ﺭﻓﻊ ﻓﻘﺎﻡ ﻗﻴﺎﻣﺎ ﻃﻮﻳﻼ ﻭﻫﻮ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺍﻷﻭﻝ ﺛﻢ ﺭﻛﻊ ﺭﻛﻮﻋﺎ ﻃﻮﻳﻼ ﻭﻫﻮ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﺍﻷﻭﻝ ﺛﻢ ﺭﻓﻊ ﺛﻢ ﺳﺠﺪ ﺛﻢ ﺍﻧﺼﺮﻑ ﻭﻗﺪ ﺗﺠﻠﺖ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻓﻘﺎﻝ
ﺇﻥ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺍﻟﻘﻤﺮ ﺁﻳﺘﺎﻥ ﻣﻦ ﺁﻳﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳﺨﺴﻔﺎﻥ ﻟﻤﻮﺕ ﺃﺣﺪ ﻭﻻ ﻟﺤﻴﺎﺗﻪ ﻓﺈﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻢ ﺫﻟﻚ ﻓﺎﺫﻛﺮﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺃﻳﻨﺎﻙ ﺗﻨﺎﻭﻟﺖ ﺷﻴﺌﺎ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﻣﻚ ﻫﺬﺍ ﺛﻢ ﺭﺃﻳﻨﺎﻙ ﺗﻜﻌﻜﻌﺖ ﻓﻘﺎﻝ ﺇﻧﻲ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺃﻭ ﺃﺭﻳﺖ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻓﺘﻨﺎﻭﻟﺖ ﻣﻨﻬﺎ ﻋﻨﻘﻮﺩﺍ ﻭﻟﻮ ﺃﺧﺬﺗﻪ ﻷﻛﻠﺘﻢ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﺑﻘﻴﺖ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻓﻠﻢ ﺃﺭ ﻛﺎﻟﻴﻮﻡ ﻣﻨﻈﺮﺍ ﻗﻂ ﻭﺭﺃﻳﺖ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻟﻢ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﺑﻜﻔﺮﻫﻦ ﻗﻴﻞ ﻳﻜﻔﺮﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﻳﻜﻔﺮﻥ ﺍﻟﻌﺸﻴﺮ ﻭﻳﻜﻔﺮﻥ ﺍﻹﺣﺴﺎﻥ ﻟﻮ ﺃﺣﺴﻨﺖ ﺇﻟﻰ ﺇﺣﺪﺍﻫﻦ ﺍﻟﺪﻫﺮ ﺛﻢ ﺭﺃﺕ ﻣﻨﻚ ﺷﻴﺌﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﻣﻨﻚ ﺧﻴﺮﺍ ﻗﻂ

2. Fathul baari :

ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻓﻴﻪ ” ﻟﻮ ﺃﺣﺴﻨﺖ ﺇﻟﻰ ﺇﺣﺪﺍﻫﻦ ﺍﻟﺪﻫﺮ ” ﻓﻴﻪ ﺇﺷﺎﺭﺓ ﺇﻟﻰ ﻭﺟﻮﺩ ﺳﺒﺐ ﺍﻟﺘﻌﺬﻳﺐ ﻷﻧﻬﺎ ﺑﺬﻟﻚ ﻛﺎﻟﻤﺼﺮﺓ ﻋﻠﻰ ﻛﻔﺮ ﺍﻟﻨﻌﻤﺔ ، ﻭﺍﻹﺻﺮﺍﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﻣﻦ ﺃﺳﺒﺎﺏ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ، ﺃﺷﺎﺭ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻬﻠﺐ

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com