Ngaliwet Adalah Sebuah Konsep Kemajemukan Santri

Ngaliwet Adalah Sebuah Konsep Kemajemukan Santri

Almunawwar.or.id – Indahnya kebersamaan bisa di raih dengan mudah dan sederhana oleh semua orang, seperti salah satunya menimba pendidikan di sebuah lembaga pondok pesantren. Karena selain melatih untuk mendiri, di pesantren juga di ajarkan bagaimana cara memupuk dan menjaga tali kebersamaan.

Dan biasanya adanya kebersamaan tersebut bisa di rasakan oleh setiap individu santri di kala sedang melakukan aktivitas sehari-harinya seperti salah satunya dengan ngaliwet atau memasak bersama. Dengan kegiatan tersebut semua santri bisa merasakan indahnya kebersamaaan yang tumbuh dari proses kemandirian. Sebagaimana kisah salah satu seorang santri yang mengisahkan pengalamannya.

Di pesantren Al munawwar saya belajar hidup mandiri, sampai makan pun mesti ada perjuangan dulu, saya bersama kawan-kawan santri Ngaliwet bersama untuk makan, dan pekerjaan ngaliwet itu dikerjakan bersama dan dibagi tugas, begitu indah ketika kebersamaan dijalankan dengan rasa ikhlas.

Dan budaya ngaliwet khas Santri ini bukan hanya sekedar masak ataupun makan, tertanam rasa duduluran (kekeluargaan) karna proses kebersamaannya yang menjadi ukuran. Masalah nikmat gak nikmat itu urusan belakangan yang terpenting kebersamaannya. karna tak bisa kita pungkiri fitrah manusia terlahir sebagai mahluk sosial.

Aristoteles menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan. Sungguh Indah rasanya kalau indonesia bisa hidup seperti analogi budaya ngaliwet khas santri gak ada ribut sana ribut sini, hujat menghujat, saling lempar fitnah.

Baru baru ini saya lihat di medsos dan siaran berita masyarakat maupun kelompok saling hujat saling menyalahkan satu sama lain entahlah itu realitas fenomenologis yang terjadi saat ini, mungkin efek dari majunya teknologi saat ini, dampak nya sampai terasa ke setiap daerah termasuk di kota saya Tasikmalaya.

Mencermati dialektika dan hubungan antara agama yang terjadi sekarang di seluruh pelosok negri termasuk Tasik, seakan kita dihadapkan pada kesimpulan ekstrim, bawha agama tidak lagi mampu melahirkan masyarakat yang harmonis seperti halnya analogi budaya ngaliwet khas santri

Hal ini sudah jelas dengan fakta realita yang makin meluasnya konflik-konflik intra agama dan sebahagian masyarakat yang meliputi pelaku. Al Qur’an mengisyaratkan dalam Surat Al-Hasyr Ayat 14 :

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

Artinya : “Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.”

Mengutip sedikit dari buku IDP karya kanda Caknur tentang Iman dan kemajmukan masyarakat antara umat muslim, bahwa tidak ada suatu masyarakatpun yang benar benar tunggal tanpa ada perbedaan didalamnya. Dan kemajmukan bukan merupakan keunikan masyarakat tapi lebih tepat menurut kanda cak nur kemajmukan merupakan satu kepastian (takdir).

Artinya setiap masyarakat harus sadar betul, menerima kemajmukan sebagai suatu kepastian atau sebagai mana adanya. Kedepannya masyarakat mampu menumbuhkan sikap persatuan sikap kebersamaan, toleransi dalam rangka kemajemukan, dan yang menarik konsep ini sudah terjadi dalam kebiasaan santri klasik yaitu ngaliwet.

Oleh : Lutfi Abdul Aziz

Wallohu’alam