Niat Bayar Qadha Mengganti Puasa Dan Bacaan Tata Cara Doa Buka

Niat Bayar Qadha Mengganti Puasa Dan Bacaan Tata Cara Doa Buka

Almunawwar.or.id – Bagi mereka umat muslim yang memiliki tanggungan puasa ramadhan yang harus di bayar secepatnya itu ada rukhsoh tersendiri dari rincian kepastian penerangan-penerangan kajian agama yang mengulas secara lengkap dan terperinci tentang bagaimana pelaksanaan ibadah puasa qadha tersebut.

Karena selain sudah menjadi kewajiban yang sesegera mungkin untuk di laksnakannya, puasa qadha atau niat puasa ganti ini merupakan bentuk dari pada tanggung jawab dari seorang muslim terhadap hak dan tanggungan dari tertinggalnya amalan wajib seperti puasa ramadhan yang tentunya sesuai dengan sarat dan ketentuan di dalamnya.

Sehingga akan penting kiranya apabila mengetahui lebih jauh dan lebih luas tenatng bagaimana cara melaksanakan niat puasa ganti tersebut juga dari perkara-perkara yang berhubungan di dalamnya, seperti bayar fidyah, masalah jumlah puasa yang di tinggalkan sampai keterkaitan dengan masalah meninggal yang masih mempunyai qadha.

Dan adapun tentang illat ataupun alasan dari tertinggalnya sebuah amalan wajib seperti puasa di bulan ramadhan itu haruslah sesuai dengan ketentuan yang ada dala kaidah agama, di antaranya karena sakit, dalam perjalanan (Musafir), masalah kewanitaan (haid, nifas dan lainnya).

Karena ini bersangkutan dengan masalah pertanggungjawaban seorang muslim terhadap kewajiban yang semestinya di lakukan ketika sudah datang waktunya, Sehingga layak dan patut untuk lebih di ketahui pasti tentang masalah yang berkaitan dengan puasa qadha ataupun puasa ganti ini.

Dalam hal ini salah satu rujukan dalil dan ketreangan yang memuat seputar masalah kewajiban ibadah puasa qadha itu terdapat pada sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Daruquthni, dari Ibnu ‘Umar dengan redaksinya sebagai berikut :

قَضَاءُ رَمَضَانَ إنْ شَاءَ فَرَّقَ وَإنْ شَاءَ تَابَعَ

Artinya : “Qadha’ (puasa) Ramadhan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan. ” (HR. Daruquthni, dari Ibnu ‘Umar).

Sehingga dari adanya ketetapan hadits yang termuat tersebut, Para ulama menerangkan kajian masalah qadha puasa itu dengan menjadikan sebuah qiyas ataupun ibarat sebagaimana yang termaktub pada dua keterangan berikut ini sebagai lanjutan dari pada dasar hukum kewajiban seorang muslim untuk secepatnya mengqodho puasa ramadhan yang tertinggal.

عبارة الزواجر الحادي عشر أي من شروط التوبة التدارك فيما إذا كانت المعصية بترك عبادة ففي ترك نحو الصلاة والصوم تتوقف صحة توبته على قضائها لوجوبها عليه فورا وفسقه بتركه كما مر فإن لم يعرف مقدار ما عليه من الصلوات مثلا قال الغزالي تحرى وقضى ما تحقق أنه تركه من حين بلوغه

Penjelasannya, dari syarat-syaratnya taubat adalah menyusul dan membenarkan kesalahan/maksiat yang telah ia perbuat akibat meninggalkan ibadah dimasa silam, dalam meninggalkan semacam shalat dan puasa misalnya, untuk dapat mengabsahkan taubatnya harus diqadha terlebih dahulu karena mengqadhanya diwajibkan sesegera mungkin dan dihukumi fasik bila ditinggalkan seperti keterangan yang telah lewat.

Maka dari itu apabila menela’ah kembali tentang bagaimana puasa qadha itu terjadi dan di alami oleh seorang muslim itu termasuk pada bagian keterangan yang ada pada ibarat ataupun qiyas tersebut, demikian halnya dengan keterangan lain yang tercantum pada Hawaasyi as-Syarwaani juz 3 halaman 396 :

ولو علم أنه صام بعض الليالي وبعض الأيام ولم يعلم مقدار الأيام التي صامها فظاهر أنه يأخذ باليقين فما تيقنه من صوم الأيام أجزأه وقضى ما زاد عليه سم

Artinya : “Jika seseorang lupa terhadap jumlah puasa yang di kerjakan apakah itu setengah malam ataupun setengah hari dan tidak mengetahui jumlah dari pada hari tersebut (hari yang di kerjakan puasa), Maka jelas keputusannya itu ambillah salah satu hal yang membuatnya yaqin, dan berpuasa qadha lah sesuai dengan jumlah hari yang di yaqininya tersebut.

1. Masalah penggabungan niat puasa qadha dan puasa lainnya
Lalu bagaimana jika dalam pelaksanaan pembacaan lapadz niatnya di gabungkan atau di satukan dengan amalan puasa lainnya baik itu fardhu maupun sunat? berikut uraian penjelasannya.

Dalam kitab I’anatutholibin juz 2 halaman 271 di sebutkan sebuah penjelasan ibaraoh yang menerangkan tentang permasalahn penggabungan niat puasa, apakah boleh dan tidaknya dengan redaksi :

تنبيه) إعلم أنه قد يوجد للصوم سببان كوقوع عرفة أو عاشوراء يوم اثنين أو خميس أو وقوع اثنين أو خميس في ستة شوال فيزداد تأكده رعاية لوجود السببين فإن نواهما حصلا كالصدقة على القريب صدقة وصلة وكذا لو نوى أحدهما فيما يظهر. إعانة الطالبين٢/٢٧١

Penjelasannya : ” Hukumnya itu diperbolehkan dan mendapat pahala kedua puasa tersebut. Karena menggabungkan niat beberapa puasa sunnah seperti puasa arofah dan puasa senin atau puasa kamis adalah boleh dan dinyatakan mendapatkan pahala keduanya. Sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Kurdi.

Bahkan menurut Imam Al-Barizi puasa sunnah seperti hari ‘Asyuro, jika diniati puasa lain seperti qadha ramadhan tanpa meniatkan pauasa Asyura’ tetap mendapatkan pahala keduanya.

Adapun puasa 6 hari bulan syawal jika digabung dengan qadha ramadhan, maka menurut imam Romli mendapatkan pahala keduanya. Sedangkan menurut Abu Makhromah tidak mendapatkan pahala keduanya bahkan tidak sah.

2. Kewajiban yang harus di lakukan jika meninggal namun masih memiliki Qadha
Dalam masalah ini tentu perlu pencermatan secara khusus tentang bagaimana jika kewajiban qadha tersebut belum terbayar namun keburu meninggal dunia, Maka penjelasannya adalah sebagai pendapat qaol ashoh (qaul Shahih) yang terdapat pada kitab As-Siraaj al-Wahhaaj juz I halaman 145 dengan redaksi :

و الأصح أنه لو أخر القضاء مع امكانه حتى دخل رمضان آخر فمات أخرج من تركته لكل يوم مدان مد للفوات ومد للتأخير للقضاء فان صام عنه وليه وجبت فدية التأخير فقط ومقابل الأصح يكفى مد واحد ومصرف الفدية الفقراء والمساكين دون بقية الأصناف

Artinya : ” Jika sesorang mengakhirlan qadha dan ada waktu untuk bisa melaksanakannya namun tidak dikerjakan juga sampai datang ramadhan berikutnya dan orang tersebut keburu meninggal, Maka kewajibannya itu mengeluarkan dua mud yaitu (satu mud untuk hal yang masih kurang dan satu mud lagi untuk karena mengahkirkan qadha) setiap hari dari harta yang di tinggalkannya itu. Dan jika seorang wali membayar qadha atau puasa qadha yang di peruntukan untuk yang di walyanna tersebut maka itu wajib bayar fidyah saja yakni satu mud untuk faqir dan miskin tidak untuk azmaf lainnya.

3. Selanjutnya Hari-Hari yang tidak di perbolehkan untuk melaksanakan puasa termasuk qadha, Yaitu :
A. Pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha
B. Pada hari Tasriq (tanggal 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah)
C. Hari-hari yang telah ia tentukan untuk puasa Nadzar
D. Hari Syak (30 Sya’ban) kecuali bagi orang yang sebelumnya telah membiasakan berpuasa semacam senin kamis

4. Bagaimana Cara Mengqadha puasa yang terlupa jumlah harinya
Maka dalam hal ini sebagaimana yang tercantum pada keterangan yang ada dala kitab I’aanah at-Thoolibiin juz 4 halaman 294 dan juga yang ada pada kitab Is’aad ar-Rofiiq Hal 143, Dimana menurut Imam al-Ghazali wajib baginya meneliti dan mengqadha yang telah nyata ia tinggalkan mulai masa balighnya. Sesuai dengan redaksi yang terdapat pada keterangan kitab lainnya yaitu kitab Hawaasyi as-Syarwaani juz III halaman 396 :

ولو علم أنه صام بعض الليالي وبعض الأيام ولم يعلم مقدار الأيام التي صامها فظاهر أنه يأخذ باليقين فما تيقنه من صوم الأيام أجزأه وقضى ما زاد عليه سم

Maka dalam masalah ini para Ulama ahli fuqoha mengeluarkan pandangan dan pendapatnya sebagaimana yang tertulis dan termaktub pada kitab Az-Zawaajir halaman 11 yang memuat tentang sebuah ibarat ataupun qiyas yaitu :

وعبارة الزواجر الحادي عشر أي من شروط التوبة التدارك فيما إذا كانت المعصية بترك عبادة ففي ترك نحو الصلاة والصوم تتوقف صحة توبته على قضائها لوجوبها عليه فورا وفسقه بتركه كما مر فإن لم يعرف مقدار ما عليه من الصلوات مثلا قال الغزالي تحرى وقضى ما تحقق أنه تركه من حين بلوغه

Penerangannya itu syarat-syaratnya taubat) adalah menyusul dan membenarkan kesalahan atau maksiat yang telah ia perbuat akibat meninggalkan ibadah dimasa silam, dalam meninggalkan semacam shalat dan puasa misalnya, untuk dapat mengabsahkan taubatnya harus diqadha terlebih dahulu karena mengqadhanya diwajibkan sesegera mungkin dan dihukumi fasik bila ditinggalkan seperti keterangan yang telah lewat.

5. Pendapat Imam madzhab dan Sahabat tentang Qadha puasa yang tertunda
A. Pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Sa’id bin Zubair
Berdasarkan Hadits Nabi : “Apabila tanggungan qadha puasa masih tetap (belum dipenuhi) hingga datangnya bulan puasa berikutnya maka dia wajib membayar kafarat (HR Baehaqi).
Dan tentunya dalam hal ini ketiga para Sahabat tersebut berpendpata bahwa : “Tanggungan qadha puasanya berubah menjadi membayar fidyah bukan qadha puasa lagi.”

B. Pendapat Imam Hanafi
Berdasarkan dalil Firman Allah : “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (QS. Albaqaarah Ayat 184).
Dimana Imam Hanafi berpendapat bahwa “Mengqadha sesuai berapa hari puasa yang ditinggalkan (baik menunda qadha’nya karena udzur/tidak)”

C. Pendapat Imam Syafi’I, Maliki dan Imam Hambali
Berdasarkan sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang memutuskan puasa dibulan ramadhan dan tidak mengqadha’nya sampai datang bulan ramadhan berikutnya maka dia wajib berpuasa untuk hari itu, kemudian baru puasa qadha dan memberi makanan setiap hari terhadap orang miskin (HR Baehaqi).
Sehingga dalam hal ini para ulama tersebut berpendapat bahwa : “Mengqadha sesuai berapa hari puasa yang ditinggalkan ditambah membayar Fidyah bila menunda qadhanya karena tanpa adanya udzur Namun pijakan Imam syafi’i dalam wajibnya mengqadha ditambah fidyah dalam masalah ini bukan berpijak pada hadits dhaif ini melainkan berdasarkan ijma ulama.

6. Bacaan Niat Puasa Qadha

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءٍ فَرْضَ رَمَضَانً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu Shouma Ghodin ‘An Shouma Ghodin ‘An Qadain Faedho Roamdhona Lillahi Ta’ala”
Artinya : “Aku niat puasa esok hari karena mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala”

Akan kiranya sangat penting sekali bagi kita untuk lebih pasti mensegerakan hal yang wajib di qadha seperti halnya dalam melakukan niat puasa qadha tersebut, terutama dari qadha ibadah wajib agar selalu senantiasa mendapat keuntungan baik itu di dunia maupun di akhirat.