Doa Buka Dan Manfaat Sunnah Keutamaan Niat Puasa Bulan Syawal

Doa Buka Dan Manfaat Sunnah Keutamaan Niat Puasa Bulan Syawal

Almunawwar.or.id – Dalam pelaksanaannya ada ketentuan dari mulai syarat, waktu sampai dengan tata cara pengamalannya seperti yang ada di bulan puasa syawal tentunya. Karena terdapat hikmah dan pahal yang begitu luar biasa di balik pengamalannya tersebut.

Sehingga sangat pantas apabila puasa syawal sendiri memiliki nilai kultur yang begitu istimewa bagi setiap muslim, meskipun pada segi pengamalannya tersebut terdapat hal-hal yang memang harus di ketahui secara pasti bagi mereka yang ingin melaksanakannya agar sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh agama.

Nilai tinggi dari ibadah niat puasa syawal ini tentunya bisa di jadikan sebuah amalan yang paripurna untuk lebih memberikan satu kesungguhan bagi setiap muslim ketika sudah selesa melaksanakan ibadah fardhu yaitu puasa ramadhan. Untuk itu memahami akan hal ikhwal mengenai puasa di bulan syawal itu teramat penting sekali.

Terdapat pula keterangan – keterangan yang menjelaskan seputar keunggulan dan hikmah di puasa syawal tersebut, Salah satu di antaranya adalah perkataan Syekh Ibrahim Al-Baijuri dalam Hasyiyatul Baijuri ‘alâ Syarhil ‘Allâmah Ibni Qasim sebagai berikut.

(وستة من شوال) أي لخبر من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر فإن صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام الستة من شوال بشهرين فذلك كصيام السنة والمراد أنه كصيامها فرضا والا فلا خصوصية لذلك لأن الحسنة بعشرة أمثالها

Artinya: “Salah satu puasa sunah adalah (puasa enam hari di bulan Syawal) berdasarkan hadits Rasulullah SAW, ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, ia seakan berpuasa setahun penuh. Karena, puasa Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa setahun penuh”.

Tentu hadirnya dalil yang menguatkan terhadap pelaksanaannya tersebut menjadi landasan kuat bagi kita yang ingin melaksanakan 6 hari puasa di bulan syawal tersebut atau satu hari setelah hari raya idul fitri dari tanggal 2 sampai dengan 7 syawal dengan ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya.

Dalam hal ini ada qaul ulama yang menjelaskan tentang bagaimana cara terbaik dan terafdhol dalam pelaksanaan ibadah puasa di bulan syawal tersebut, seperti yang banyak di terangkan di beberapa kajian kitab fiqih tentang hal ikhwal yang berkaitan dengan erat dengan puasa syawal itu sendiri.

Dan semestinya dari sinilah kita harus memahami betul arti penting dari pada kehadiran amala-amalan sunah terhadap sisi pelaksanaan dari amalan fardhu, oleh sebab itulah ada yang berpendapat bahwa 6 hari puasa di bulan syawal itu adalah bentuk penyempurna dan tandanya di terima amalan fardhu sebelumnya yaitu puasa ramadhan.

1. Keutamaan puasa syawal
Merujuk pada keterangan Alhadits yang berbunyi :

من صام رمضان ثم أتبعه بست من شوال كان كصيام الدهر” رواه مسلم

Artinya : “Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama 6 (enam) hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun.

Sehingga bisa di ketahui pasti tentang keafdholan yang di miliki oleh puasa syawal tersebut yang seyogyanya dapat kita mampu untuk melaksanakannya, terlebih ada tujuan tersendiri yaitu untuk lebih menyempurnakan semua ketidaksempurnaan selama melaksanakan puasa di bulan ramadhan.

2. Hukum Puasa Syawal
Hukum berpuasa enam hari di bulan Syawal adalah sunah yang boleh dilaksanakan mulai tanggal dua Syawal. Apabila melaksanakan puasa sunah Enam hari ini pada tanggal satu Syawal maka hukumnya tidak sah dan haram. Dalam hadits disebutkan, dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata,

عن عمر بن الخطاب وأبي هريرة وأبي سعيد رضي الله عنهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن صوم يوم الفطر ويوم الأضحى

Artinya : “Nabi Muhammad Saw., melarang berpuasa pada dua hari raya; idul fitri dan idul adha.(maksudnya tanggal satu Syawal atau sepuluh bulan Dzulhijjah .

Meskipun sunnah untuk di kerjakannya, akan tetapi jika melihat pengaruh besar dari keafdholan, manfaat dan juga hikmahnya itu teramat sangat unggul sekali untuk di jadikan sebagai amalan penting di awal-awal bulan syawal sebagaimana yang selama ini di anjurkan oleh Agama.

3. Waktu dan Praktek Puasa Syawal
Dalam pelaksanaannya itu tidak jauh berbeda dengan puasa di bulan ramadhan, hanya saja di puasa syawal tersebut di perbolehkan untuk tidak berturut-turut dalam prakteknya atau berselang hari yang penting masih di bulan Syawal. Namun jika di kembalikan pada firman Alloh S.W.T yaitu :

سارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين

Artinya : “Allah berfirman, “Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”.

Maka bersegeralah untuk melaksanakan puasa syawal itu dengan secara berurutan, hal ini bertujuan agar kesempurnaa dari makna pelaksanann ibadah puasa syawal tersebut bisa di raih dengan sempurna sebagaimana maksuda dan tujuan terhadap amalan yang ada di puasa syawal itu sendiri.

4. Bacaan Niat Puasa Syawal

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَةِ سِتَةٍ مِنْ شَوَالٍ للَه تَعَالَي

“Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati sittatin min syawwâlin lillâhi ta‘ala”.

Artinya: “Aku niat puasa sunah Syawwal di esok hari karena Allah SWT.”

Adapun bagi orang yang di pagi harinya pada waktu bulan syawal ingin melaksanakan puasa syawal, maka bisa di lakukan niatnya saat itu juga, karena kefardhuan niat puasa di bacakan pada waktu malam hari itu puasa wajib saja, dengan catatan orang yang berpuasa tersebut belum melakukan aktifitas makan, minum dan hal lain yang menjadi pembatalan puasa.

Adapun untuk niat dalam keadaan tersebut adalah :

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.”

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal hari ini karena Allah SWT.”

5. Makalah Tentang Puasa Syawal
Perlu di ketahui pasti dari masalah “Ta’yin” (menentukan dalam niat puasa yang di maksud) terdapat perbedaan pendapat dari para Ulama ahli Fiqh di antaranya :

A. Sebagian ulama menyatakan bahwa seseorang harus mengingat ‘puasa sunah Syawwal’ saat niat di dalam batinnya.
B. Sebagian ulama lain menyatakan bahwa tidak wajib ta’yin. Hal ini sebagaimana yang telah di terangkan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai berikut.

(وْلُهُ نَعَمْ بَحَثَ إلَخْ ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالنِّهَايَةِ وَالْأَسْنَى فَإِنْ قِيلَ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ هَكَذَا أَطْلَقَهُ الْأَصْحَابُ وَيَنْبَغِي اشْتِرَاطُ التَّعْيِينِ فِي الصَّوْمِ الرَّاتِبِ كَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ وَأَيَّامِ الْبِيضِ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ كَرَوَاتِبِ الصَّلَاةِ أُجِيبُ بِأَنَّ الصَّوْمَ فِي الْأَيَّامِ الْمَذْكُورَةِ مُنْصَرِفٌ إلَيْهَا بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَ أَيْضًا كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ ؛ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ وُجُودُ صَوْمٍ فِيهَا ا هـ زَادَ شَيْخُنَا وَبِهَذَا فَارَقَتْ رَوَاتِبَ الصَّلَوَاتِ ا ه

Artinya, “Perkataan ‘Tetapi mencari…’ merupakan ungkapan yang digunakan di Mughni, Nihayah, dan Asna. Bila ditanya, Imam An-Nawawi berkata di Al-Majmu‘, ‘Ini yang disebutkan secara mutlak oleh ulama Syafi’iyyah. Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan nama puasa di niat) dalam puasa rawatib seperti puasa ‘Arafah, puasa Asyura, puasa bidh (13,14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa enam hari Syawwal seperti ta’yin dalam shalat rawatib’. Jawabnya, puasa pada hari-hari tersebut sudah diatur berdasarkan waktunya.

Adapun hal ikhwal lain yang berhubungan dengan puasa syawal itu sendiri seperti jika puasa syawal bersamaan engan qodho puasa, maka terdapat kebolehan bagi orang yang mengalami masalah seperti itu yaitu menggabungkan niat puasa 6 hari bulan syawal dengan qadha ramadhan menurut Imam Romli dan keduanya mendapatkan pahala. Meskipun tidak syah dan tidak akan dapat pahala keduanya jika menurut pendapat menurut Abu Makhromah. Keterangan bisa di lihat dan di telaah kembali dari I’aanah at-Thoolibiin juz 2 halaman 271 dengan redaksinya sebagai berikut :

(مسألة: ك): ظاهر حديث: «وأتبعه ستاً من شوّال» وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان، لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء، بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها، ما لم يصرفه عنها صارف، كأن قضى رمضان في شوّال، وقصد قضاء الست من ذي القعدة، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان اهـ. قلت: واعتمد أبو مخرمة تبعاً للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معاً، كما لو نوى الظهر وسنتها، بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقاً

Sehingga bisa di pastikan tentang bagaimana cara terbaik dalam melaksanakan ibadah puasa syawal tersebut berdasarkan keterangan-keterangan yang sudah di muat dan di jelaskan tadi, begitu juga manfaat lain yang terdapat di balik pengamalan puasa tersebut bagi orang yang melaksanakannya.

6. Manfaat Puasa Syawal
A. Meraih syafaat Rasulullah dan bersama beliau karena menghidupkan sunnah beliau. “Siapa yg menghidupkan sunnahku maka sungguh ia mencintaiku, dan siapa yang mencintaiku bersamaku di surga.” (HR At Tirmidzi)
B. Puasa Syawal merupakan tanda jelas meningkatnya iman dan takwa seorang Muslim. “Karena itulah disebut ‘Syawwal’ yang artinya bulan peningkatan.
C. Di antara tanda ikhlas, gemar dengan amal sunnah, kalau wajib ya kewajiban tetapi kalau sunnah adalah kerelaan seorang hamba mengabdi kepada Allah
D. Nilai puasanya menjadi sempurna, yakni puasa setahun penuh
E. Puasa Syawal adalah menutupi kekurangan selama puasa Ramadhan
F. Puasa Syawal adalah hamba Allah yang beriman yang cerdas itu adalah semua sunnah dihidupkan sebagai bekal di akhirat kelak
G. Puasa Syawal merupakan salah satu cara terbaik memupuk keimanan kepada Allah dan kecintaan kepada Nabi-Nya
H. Dicintai Allah dan meraih ampunan dosa seperti ditegaskan dalam Alquran Surah Ali Imron ayat 31.

Itulah salah satu makalah penting tentang bagaimana kita mengamalkan beberapa hal yang di anjurkan oleh agama seperti niat puasa syawal tersebut yang seyogyanya daat kita jadikan acuan tersendiri untuk lebih meningkatkan sekaligus menyempurnakan amala-amalan fardhu sebelumnya.