Nilai Filosofi Dari Implementasi Ketupat di Hari Lebaran, Berikut Penjelasannya

Nilai Filosofi Dari Implementasi Ketupat di Hari Lebaran, Berikut Penjelasannya

Almunawwar.or.id – Meski tidak ada kaitannya secara hukum agama, namun kehadiran sebuah makna yang terlahirkan dari satu ikon itu seolah menunjukan akan identitas pasti yang di miliki oleh momen tersebut, Seperti kehadiran ketupat yang sudah menjadi tradisi ketika datang hari raya idul fitri.

Perlu di apresiasi pasti ketika hal yang sudah menjadi tradisi tersebut sudah menjadi bagian penting bahkan mengandung makna-makna tertentu bagi sebagaian kalangan, khususnya bagi masyarakat jawa, sunda dan indonesia tentunya.

Selain menambah akan keceriaan dan kebahagiaan di hari kemenangan, hadirnya kuliner yang menjadi ciri khas seperti ketupat tentu akan lebih menghangatkan indahnya kebersamaan dan berbagi di hari raya idul fitri, Laksana penyempunra untuk lebih menghadirkan suasana.

Begitu pula ketika nilai dari filosofi tersebut berbuah sebagai pelengkap dan penyempurna, layaknya doa mandi hari raya idul fitri sebagai wujud dari pada nilai ibadah untuk menyempurnakan nilai-nilai sunnah di hari berkah.

Bisa dikatakan adanya sebuah tradisi yang tergambar dari ucapan idul fitir bersimbol ketupat ini adalah sebuah penghormatan yang tiada tara atas kebahagiaan yang sempurna dalam momen hari raya.

وإن من التحية المشروعة يوم العيد والتي تكون سببا قويا من أسباب تأليف القلوب وتحابها التهنئة بالعيد التي كان الصحابة يقولها بعضهم لبعض ،

Di antara penghormatan yang dituntunkan pada hari ied yang merupakan faktor yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan dan kedekatan hati adalah ucapan selamat hari raya yang diucapkan oleh para sahabat ketika bersua dengan sesama mereka.

Sehingga semuanya bisa berbuah indah, bisa berbagi, pererat shilaturahmi, berkunjung dan berziarah ke para ahli dan terhubung pada satu ikatan pasti, indahnya kebersamaan di hari fitri sebagai momen paling tepat dalam mengapresiasi kemenangan di hari lebaran dari implementasi hadirnya sebuah ketupat, Lalu apa hubungannya dengan filosofi tersebut? berikut ulasan menarik akan nilai implementasi dari sebuah tradisi.

Dalam filosofi Jawa dan lainnya, adanya ketupat Lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya Lebaran. Ketupat juga mempunyai makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa dan sunda itu merupakan kependekan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).

Dan tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa dan lainnya. Dimana prosesi sungkeman, yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, masih membudaya hingga kini. Dan sungkeman juga mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, serta memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khsusnya ridho orang tua.

Sementara, laku papat (empat tindakan) dalam perayaan Lebaran yang dimaksud adalah lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Dimana selama sebulan penuh umat muslim berpuasa, Lebaran menjadi ajang di tutupnya Ramadhan. Lebaran juga berakar dari kata lebar dan maknanya itu bahwa di hari Lebaran ini pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan bermakna meluber atau melimpah, yakni sebagai simbol anjuran bersedekah bagi kaum miskin. Pengeluaran zakat fitrah menjelang Lebaran pun selain menjadi ritual wajib umat muslim, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia. Khususnya dalam mengangkat derajat saudara-saudara kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Leburan berarti habis dan melebur.

Maksudnya pada momen Lebaran ini dosa dan kesalahan kita akan melebur habis. Karena setiap umat dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang biasa digunakan sebagai penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain. Hati nan putih pertanda hati nan suci. Di hari nan fitri ini, mari kita putihkan hati, sucikan diri, dan gapai ridho Ilahi.

Dari uraian tentang makna fitri di balik filosofi tentu akan semakin membukakan wacana dan wawasan keilmuan islam yang rahmatan lilalamin bisa menyentuh untuk semua orang tanpa memandang suku bangsa dan perbedaan lainnya, Semuanya bisa lebih berasa ketika lebaran sudah menyatukan kita.

Layaknya kebahagiaan yang selama ini di nantikan oleh umat islam setelah sekian lama rindu akan kebersamaan, persaudaran dan juga saling menguatkan di semua aspek kehidupan, yang selanjutnya setelah lebaran mari kita sambut amalan terbaik, layaknya amalan sunat doa iftitah yang menjadi pembuka pada pelaksanaan shalat fardhu dalam kehidupan sehari-hari.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id