Nilai Urgensi Ilmu Nahwu dalam Wacana Publik Keislaman

Nilai Urgensi Ilmu Nahwu dalam Wacana Publik Keislaman

Almunawwar.or.id – Pada perkembangannya memang ilmu-ilmu yang di pelajari di setiap pondok pesantren itu merujuk pada sisi urgensi publik terutama bagi kalangan anak muda. Salah satunya daya tarik yang ada pada perkembangan ilmu nahwu yang di nilai agak sulit dan susah bagi keumuman publik saat ini.

Sehingga nilai urgensi nya itu bisa di katakan sedikit lebih menurun, terlebih khusus bagi kajian-kajian imu nahwu yang di pelajari di pondok pesantren salafiyah yang masih menggunakan metode belajar salaf.

Namun sebenarnya permasalahan seperti ini bisa di cari solusi terbaiknya salah satunya dengan menerapkan nilai urgensi tersebut sebagai acuan untuk lebih mengetahui literatur bahasa arab pada khususnya. Sebagai rujukanya kita kembali pada ayat.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“ Sesungguhnya kami menurunkannya dengan berupa al-Quran berbahasa arab agar kalian menegrti “ (QS; Yusuf : 2)

Pada ayat ini Imam Ibnu Katsir menafsirkan isi dan tujuan ayat tersebut sebagai berikut :

وذلك لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها ، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس; فلهذا أنزل أشرف الكتب بأشرف اللغات ،

“ Demikian itu karena bahasa arab adalah paling fasehnya dari seluruh bahasa, paling jelas dan luasnya. Dan paling banyak membawa makna-makna yang sesuai kalimatnya. Oleh karena itu Allah menurunkan paling mulianya kitab dengan paling mulianya bahasa “

Dalam bagian ini tentu sangat dibutuhkan penerapan-penerapan metode balajar ilmu nahwu yang bisa memberikan daya tarik dan kemudahan dalam mempelajarinya bagi publik.

Untuk itu kajian ini mungkin bisa dijadikan sebagai acuan terbaik untuk lebih meningkatkan urgensi ilmu nahwu tersebut khususnya di lingkungan pesantren. Kita merujuk kepada tujuan ataupun Mabadi ilmu Nahwu itu sendiri.

مبادي علم النحو

يَنْبَغِى لِكُلِّ شَارِعٍ فِى فنٍّ مِنْ فُنُوْنِ اثنَىْ عَشَرَ فنًّا أنْ يَعْرِفَ حَدّهُ وَمَوْضوْعَهُ وَثَمْرَتهُ إلَـى آَخِرِ المَبَادِى العَشَرَةِ الـمَشْهُوْرَةِ

Harus diakui bahwa ilmu Nahwu memang merupakan cabang yang susah selain ilmu-ilmu lain yang sejenis seperti Ṣaraf, Balaghah, dan Mantiq. Untuk tahu ilmu ini, butuh kejelian, hafalan yang kuat, dan analisa yang mendalam.

Kita tahu bahwa struktur gramatik bahasa Arab yang dipakai oleh al-Qur’an tidak akan cukup dibaca dengan kitab-kitab Nahwu yang simpel seperti al-Jurūmiyyah ataupun Nahw al-Wāḍiḥ. Penguasaan Nahwu juga menjadi parameter kadar keulamaan seseorang.

Karenanya, jangankan ketahuan membaca kitab-kitab terjemahan, karena ini tindakan pemalas, seorang santri atau bahkan ustadz kredibilitasnya bisa runtuh gara-gara hanya salah membaca harakat (tanda baca) di akhir kata (iʿrab) misalnya bagaimana misalnya membaca isim alam (nama-nama benda/alam) seperti kata Ibrāhim atau isim tafḍīl (bentuk lebih atau paling) setelah huruf jer ilā (huruf yang bisa menyebabkan bacaan kasrah pada Isim) dan kasus-kasus lain.

Ada yang hafal di luar kepala teori-teori Nahwu, namun untuk menerapkan terkadang masih sulit. Bahkan ada yang bisa menghafal kitab Nahwu Alfiyah Ibn Mālik secara sungsang (dari belakang ke depan) namun tetap saja terkadang masih memiliki kesulitan untuk menggunakannya dalam membaca teks Arab terutama yang klasik.

Nahwu atau biasa dikenal oleh kalangan santri sebagai bagian ilmu alat, adalah ilmu yang sangat fundamental untuk dikuasai jika kita ingin mempelajari Islam dari literatur-literatur yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya, baik klasik maupun modern.

Dikatakan sebagai alat karena kegunaan ilmu adalah sebagai perangkat membaca, memahami dan memaknai dari bahasa nativenya, bahasa Arab, ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya.

Kalangan antropolog menyebutkan jika penguasaan bahasa asli adalah hal sangat penting dalam memperkuat kredibilitas sebuah hasil ilmu atau hasil riset. Mereka memasukkan masalah ini sebagai bagian dari the politics of nativeness.

Dengan kata lain, ilmu Nahwu adalah wasā’il menuju pengetahuan yang mendekati kepada kebenaran. Kenapa saya sebut sebagai “mendekati kebenaran,” karena kebenaran Nahwiyyah adalah kebenaran pengetahuan yang bersifat aturan kebahasaan, sementara masih ada jenis kebenaran lain yang didapatkan oleh ilmu atau cara lain juga.

Namun, jika kita beri peringkat, kebenaran yang dihasilkan oleh Nahwu adalah kebenaran yang sangat tinggi derajatnya karena dengan ilmu ini pemaknaan pertama atas sumber-sumber Islam –al-Qur’an dan Sunnah—bisa didapatkan. Meskipun sekolah-sekolah Islam juga mengajarkan.

Nahwu, namun ilmu ini diajarkan secara lebih mendalam di dalam lingkungan pesantren. Itupun masing-masing pesantren melakukannya secara berbeda-beda pula. Pesantren-pesantren tradisional (salaf) biasanya mengajarkan kitab-kitab Nahwu yang tingkatannya lebih rumit dan sulit dibandingkan dengan pesantren-pesantren modern (khalaf).

Kitab-kitab nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional misalnya mulai dari al-Jurūmiyyah, Imriṭī, lalu Alfiyyah Ibn Mālik. Sementara pesantren modern biasanya mengajarkan kitab-kitab seperti Nahwu al-Wāḍiḥ, Jāmiʿu al-Durūs fī al-Lughat al-ʿArabiyya, dan lain-lainnya.

Dengan kata lain, referensi-referensi Nahwu yang diajarkan di pesantren salaf –biasanya dimiliki dan diasuh oleh kyai-kyai Nahdlatul Ulama– biasanya adalah kitab-kitab lama (klasik), sementara pesantren khalaf lebih memilih kitab-kitab Nahwa baru, atau yang terkini.

Tapi baik belajar dengan kitab lama maupun baru sejatinya yang paling penting di sini adalah kemauan untuk belajar dan berusaha menguasai ilmu ini. Jika tidak menguasai seluruhnnya, sebagianlah yang perlu dikuasasi. Meskipun ilmu Nahwu sangat penting, banyak dari kalangan kita yang sudah mendedikasikan hidupnya menjadi santri, ustadz, pendakwah dan lain sebagainya, tidak memiliki pemahaman yang cukup akan ilmu ini.

Sehingga dari adanya penerapan metode ilmu mahwu yang mampu memberikan kemudahan kepada pelajarnya itu, nilai urgensi untuk lebih mengkaji akan pentingnya ilmu nahwu bisa di ketahui dan di pelajari begitu mendalam oleh publik sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Pondok-pondok Pesantren baik yang Salaf maupun yang Kholaf.

Wallohu A’lamu Bishowaab