Pancaran Sinar Hati Jiwa Seseorang Yang Memiliki Sifat Tawadhu (Kerendahan Hati)

Pancaran Sinar Hati Jiwa Seseorang Yang Memiliki Sifat Tawadhu (Kerendahan Hati)

Almunawwar.or.id – Laksana sebuah pelita yang mampu menerangi jiwanya dalam kegelapan ketika melangkahkan kaki untuk menjalani sisi kehidupan, dimana dalam hatinya tertancap sifat yang sangat terpuji kerendahan hati yang mampu memupuk dirinya untuk meraih kemulyaan di sisi Alloh S.W.T.

Meskipun jika di pandang secara duniawi, terdapat kemampuan yang di milikinya baik dari bidang ilmu maupun dari kepercayaan di berikan harta dan kekayaan, Namun semua itu tidak menjadi panutup hatinay untuk bisa berbuat baik serta di sertai dengan perangai mulia juga kerendahan hatinya semata.

Karena hal yang selama ini menjadi kebanggan diri di suatu saat nanti akan kembali ke pada yang memilikinya, tiada yang kekal di dunia ini semua hanya titipan yang akhir kelak tentunya akan di minta pertanggungjawaban, dan pelita jiwa yang bersumber dari sifat tawadho tersebut menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupannya.

Sehingga sangat pantas apabila sifat tawadhu (kerendahan hati) seorang muslim itu sangatlah dominan bagi pembentukan ahlaqnya, tentang bagaimana berinteraksi dengan orang-orang sekitar serta lingkungan yang ada juga tentang bagaimana ketika menjalani rutinitas kesehariannya.

Nabi Saw bersabda “ Barangsiapa yang merasa rendah hati maka Allah akan mengangkat derajatnya dan barangsiapa yang merasa sombong, maka Allah akan merendahkannya “.

Untuk itulah para Ulama memberikan penerangan pasti mengenai ciri-ciri seorang hamba yang dalam hatinya terpatri sifat terfuji kerendahan hati, dimana setidaknya ada lima ciri yang di miliki oleh orang seperti itu, diantaranya :

1. Menjunjung tinggi kebenaran dan bersedia menerimanya tanpa memandang hal-hal duniawi, seperti status sosial, dari orang yang menyatakannya. Hal ini sejalan dengan nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA berbunyi, “La tandhur ilâ man qâla, wandhur ilâ ma qâla (Jangan melihat siapa yang mengatakan, lihatlah apa yang dikatakannya).” Jadi orang tawadhu’ sekaligus adalah orang yang sportif atau jujur.

2. Tidak segan-segan untuk bergaul dengan fakir miskin, dan bahkan secara tulus mencintai mereka. Hal ini persis seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123, sebagai berikut: “Wakâna shallallâhu alaihi wassalam syadidal haya’i wattwadhu’i…. yuhibbul fuqarâ’a wal masâkina wayajlisu ma’ahum.” (Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu’… beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka.)

3. Tidak suka atau tidak berambisi menjadi orang terkenal. Orang seperti ini menghindari penonjolan diri atau mencari muka demi meraih popularitas. Artinya orang tawadhu’ sekaligus adalah orang yang ikhlas bekerja tanpa pamrih mendapatkan kemasyhuran di tengah-tengah masyarakat, apalagi mencari pujian.

4. Tidak merasa berat untuk mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang telah membantu menunaikan kewajibannya, karena suatu alasan, tanpa memandang status sosialnya. Ketika ternyata ada yang lalai dalam membatu, ia tidak keberatan untuk memaafkannya. Dengan kata lain orang tawadhu’ tentu berterima kasih atas kebaikan orang lain dan tidak keberatan untuk memaafkan mereka yang telah berbuat salah.

5. Ringan tangan dalam membantu orang-orang yang memerlukan bantuan sehingga bersedia bertindak atas nama mereka. Ia tidak merasa turun derajat jika yang ia bantu ternyata dari kalangan yang lebih rendah atau orang-orang biasa. Dengan kata lain orang tawadhu’ tidak suka bersikap diskriminatif sehingga hanya bersedia membantu orang-orang yang sederajat atau lebih tinggi saja.

Kelima tanda tawadhu’ sebagaimana ditunjukkan oleh Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad di atas tentu saja bersifat terbuka, dalam arti tanda-tandanya tidak hanya sebatas itu. Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca dalam kitab Maulid Al-Barzanji, halaman 123, sebagai kelanjutan atau kelengkapan dari apa yang telah diuraikan sedikit tentang contoh-contoh kerendahan hati (tawadhu’) Rasulullah SAW pada poin ketiga di atas.

Begitu pula berangkat dari beberapa ciri tadi sekiranya itu menjadi pancaran dalam jiwanya yang mampu membuat semua orang menghargai, menhormati atau bahkan terkesan ada rasa segan ketika bertemu ataupun bertegur sapa dengan seseorang yang memiliki sifat tawadhu tersebut.

Diantara kisah-kisah yang menerangkan keharusan seorang muslim untuk memiliki sifat tawadhu itu sebagaimana yang tertukil dan tergambar pada beberapa riwayat hadits dan kisah para Shahabat Nabi berikut ini :

1. Ali bin Abi Tholib Ra berkata “ Barangsiapa yang ingin melihat ahli neraka, maka lihatlah kepada seseorang yang duduk sedangkan di hadapannya ada kaum yang berdiri “.

2. Suatu kaum berjalan di belakang Hasan Al-Bashri Rh maka beliau malarang mereka dan berkata “ Ini tidak sepatutnya ada di hati seorang mukmin “.

3. Ibnu Wahab Rh berkata “ Suatu hari aku duduk di dekat Abdul Aziz Ar-Rawwad lalu lututku menyentuh lututnya, maka aku alihkan lagi lututku dari lututnya, kemudian ia malah menarik bajuku dan mendekatkanku kembali padanya dan berkata “ kenapa anda berbuat padaku seperti perbuatan orang yang sombong, sesungguhnya aku tidak melihatmu lebih buruk dari aku “.

3. Umar bin Abdul Aziz Ra suatu hari kedatangan tamu, sedangkan beliau sedang menulis dan tiba-tiba lampu obornya hampir padam. Si tamu berkata “ Biarkan aku yang berdiri dan memperbaikinya “. Beliau berkata “ Bukan termasuk sifat dermawan jika ia meminta bantuan kepada tamunya “. Si tamu itu berkata lagi “ Biar aku bangunkan pelayan ?”. Beliau menjawab “ Dia baru saja tidur “. Kemudian beliau berdiri, mengambil lampu obor itu dan mengisinya dengan minyak “. Si tamu berkata padanya “ Engkau melakukan semua ini sendiri wahai Amirul mukminin (pak perisiden)? Beliau menjawab “ Aku berjalan dan aku Umar, aku kembali dan aku tetap Umar, tidak ada yang kurang dariku sedikitpun dan sebaik-baik manusia di sisi Allah adalah yang merasa rendah hati “.

4. Syekh Umar Al-Muhdor bin Abdurrahman as-Segaf : ” Andai aku tahu kalau satu sujudku diterima oleh-Nya, niscaya kujamu seluruh penduduk Tarim, bahkan ternak-ternak mereka sekalian.”

5. Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Aydrus Al-Adny berkata “ Mencium tanganku seperti menampar wajahku dan mencium kakiku seperti mencongkel mataku “.

Beliau juga berkata “ Aduhai andai saja aku tidak dikenal seoranpun dan aku tidak mengenal seorangpun. Andai saja aku tidak lahirkan “. Padahal beliau adalah seorang wali besar yang bertabur karamah.
Baca Juga

6. Sahl At-Tusturi sering berjalan di atas air tanpa sedikitpun kakinya menjadi basah. Seseorang berkata kepada Sahl: “ Orang-orang berkata bahwa engkau dapat berjalan di atas air “.
Beliau menjawab “ Tanyakanlah kepada muadzdzin di masjid ini, ia adalah seorang yang dapat dipercayai”. Kemudian orang itu mengisahkan : “ Telah kutanyakan kepada si muadzdzin dan ia menjawab “ Aku tak pernah menyaksikan hal itu. Tetapi beberapa hari yang lalu ketika hendak bersuci Sahl tergelincir ke dalam sumur dan seandainya aku tidak ada di tempat itu niscaya aia telah binasa “. Ketika Abu Ali bin Daqqaq mendengar kisah ini, ia pun barkata “ Sahl mempunyai berbagai karamah tetapi ia ingin menyembunyikan hal itu “

7. Pada suatu hari pelayan wanita Rabi’ah Al-Adawiyyah hendak memasak sup bawang karena telah beberapa lamanya mereka tidak memasak makanan. Ternyata mereka tidak mempunyai bawang. Si pelayan berkata kepada Rabi’ah “ Aku hendak meminta bawang kepada tetangga sebelah “.
Tetapi Rabi’ah mencegah “ Telah 40 tahun aku berjanji kepada Allah tidak akan meminta sesuatu pun selain kepada-Nya. Lupakanlah bawang itu “. Segera setelah Rabi’ah berkata demikian, seekor burung meluncur dari angkasa, membawa bawang yang telah terkupas di paruhnya, lalu menjatuhkannya ke dalam belangga.
Menyaksikan peristiwa itu Rabi’ah berkata “ Aku takut jika semua ini semacam tipu muslihat (istidraj) “. Rabi’ah tidak mau menyentuh sup bawang tersebut. Hanya roti sajalah yang dimakannya.

8. Orang-orang bertanya kepada Malik bin Dinar “ Tidakkah engkau keluar bersama kami untuk minta hujan ? “ ia menjawab “ Aku takut akan turun hujan batu karena aku. Kalian sedang menanti hujan air sedangkan aku merasa khawatir turun hujan batu sebab keluarnya aku bersama kalian “.

9. Muhammad bin Wasi’ Rh berkata “ Kami telah tenggelam dalam dosa. Seandainya seseorang di antara kalian dapat mencium bau dosa niscaya ia tidak akan mampu duduk bersamaku “.

10. Utbah Al-Ghulam Rh suatu hari pernah melewati suatu tempat lalu ia bergemetar keras hingga keringatnya bercucuran. Teman-temannya bertanya kepadanya “ Kenapa engkau seperti itu ? Beliau menjawab “ Ini adalah tempat aku pernah bermaksyiat dulu sewaktu aku masih kecil “.

11. Malik bin Dinar Rh berangkat haji dari Bushro ke Makkah dengan berjalan kaki. Ketika ditanya “ Kenapa engkau tidak menaiki kendaraan ? Beliau menjawab “ Apakah seorang budak yang bersalah dan melarikan diri tidak merasa puas dengan berjalan kaki menuju tuannya untuk meminta maaf ? Demi Allah seandainya aku menuju Makkah dengan melewati bara api, pasti akan aku lakukan dan hal itu belum seberapa “.

12. Yusuf bin Asbath Rh berkata “ Puncak tawadhu’ adalah engkau keluar dari rumah dan engkau tidak melihat / berprasangka kepada orang lain kecuali orang itu lebih baik darimu“.

Dengan apa yang telah di jelaskan tadi tentang bagaimana ciri dan keunggulan dari orang yang memiliki sifat tawadhu seperti baginda Nabi S.A.W, semoga senantiasa kita mamp mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Wallohu A’lamu bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id
piss-ktb.com