Pandangan Imam Syafi’i Tentang Tertidur dan Berbicara Saat Khutbah

Pandangan Imam Syafi'i Tentang Tertidur dan Berbicara Saat Khutbah

Almunawwar.or.id – Khutbah merupakan salah satu bagian penting ibadah yang berkaitan erat dengan ibadah lainnya yaitu sholat, terlebih khusus dalam sholat jum’at sendiri, dimana khutbah pada waktu tersebut adalah bagian rukun yang satu martabat dengan sholat.

Sehingga secara pelaksanaan baik dari harus bersuci (tidak batal) sampai dengan tata cara ketika khutbah itu sedang berlangsung khususnya bagi jama’ah sholat jum’at itu sendiri. Sebab tidak sedikit untuk saat ini orang yang masih belum faham akan kewajiban seorang jama’ah ketika si khotib sedang melaksanakan khutbah.

Bahkan tidak jarang pula apabila kelalaian saat pelaksanaan khutbah itu sering sekali dilakukan oleh masyarakat awam pada khususnya. Semisal banyak bergerak, berbicara atau ada juga yang sampai tertidur. Nah, dalam memberikan penjelasan atas persoalan umum ini, berikut penerangan dari pendapat Imam Syafi’i tentang hukum tersebut.

1. Hukum tentang tertidur saat khutbah apakah syah jum’at nya atau tidak? Jawabannya seperti yang termaktub pada syarah Imam Syarqowi juz 1 halaman 265 yang redaksinya sebagai berikut.

.و سادسها تقدم خطبتين على الصلاة بسماع هو أولى من قوله بحضور من تنعقد بهم الجمعة أى من يتوقف إنعقادها عليهم وهم أربعون أو تسعة وثلاثون سواه فيرفع الخطيب صوته بأركانهما حتى يسمعها تسعة وثلاثون سواه بالقوة لا بالفعل فلا تكفي الإسرار ولا إسماع دون من ذكر ولا من لا تنعقد بهم ولا الحضور مع صمم أو بعد أو نوم على ما مر. الشرقاوي ١/٢٦٥

Artinya: ” Dan nomor keenamnya (dari rukun khutbah) adalah pelaksanaan khutbah dua harus lebih dahulu daripada melaksanakan sholat jum’at itu sendiri, dengan alangkah lebih baiknya apabila isi khutbah tersebut bisa didengar oleh jama’ah yang menjadi sarat syah jum’at (40 orang) Ataupun orang yang menjadi penyempurna akan terhadap syahnya sholat jum’at tersebut seperti dari jumlahan dari 40 ataupun 39 orang selain daripada khotib, Maka bacaannya khutbah tersebut harus di nyaringkan dengan rukunnya sehingga terdengar khutbah tersebut oleh 39 jama’ah tersebut dengan quwwah (penghayatan) bukan dengan pelaksanaan, Maka dari itu tidak cukup apabila khutbah tersebut dibacakan dengan pelan (tidak terdengar) oleh jama’ah dengan catatan tidak digantungkan sama orang yang tidak tertidur, ataupun terhadap orang yang menjadi pengesah dari sholat jum’at itu dan bukan pula digantungkan bagi orang yang hadir namun dalam keadaan tidak mendengar atau jauh ataupun orang yang tertidur saat khutbah.

Walhasil asalkan khuthbah jum’atnya sudah didengar oleh 40 orang ahli jum’at maka shalat jum’atnya sah, tapi orang tidur tersebut tidak termasuk dalam hitungan 40 ahli jum’at itu.

2. Hukum berbicara saat khutbah, apakah syah jum’at nya atau tidak? Berikut penerangan yang di ambil dari salah satu kitab Fiqh al-islaam juz 2 halaman 452 yang redaksinya sebagai seperti dibawah ini.

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : يَجُوزُ الْكَلاَمُ قَبْل الشُّرُوعِ فِي الْخُطْبَةِ وَبَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْهَا وَقَبْل الصَّلاَةِ ، وَفِيمَا بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ خِلاَفٌ ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لاَ يَحْرُمُ وَجَزَمَ بِهِ فِي الْمُهَذَّبِ ، هَذَا فِي الْكَلاَمِ الَّذِي لاَ يَتَعَلَّقُ بِهِ غَرَضٌ مُهِمٌّ ، فَأَمَّا إِذَا رَأَى أَعْمَى يَقَعُ فِي بِئْرٍ أَوْ عَقْرَبًا تَدِبُّ عَلَى إِنْسَانٍ فَأَنْذَرَهُ فَلاَ يَحْرُمُ بِلاَ خِلاَفٍ ، وَكَذَا لَوْ أَمَرَ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهَى عَنْ مُنْكَرٍ فَإِنَّهُ لاَ يَحْرُمُ قَطْعًا وَقَدْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ الأَْصْحَابُ

Artinya: “Kalangan syafi’iyyah berpendapat : Boleh berbicara sebelum dimulainya khutbah, setelah khutbah dan sebelum shalat, sedang berbicara ditengah-tengah khutbah berlangsung terjadi perbedaan pendapat dikalangan syafi’iyyah, menurut pendapat yang zhahir juga tidak haram seperti keterangan dalam kitab ‘alMuhadzdzab’, ini semua bila pembicaraan diatas tidak berhubungan dengan hal-hal penting, namun bila berhubungan dengan hal penting seperti mengingatkan orang buta yang hendak jatuh dalam sumur, ulama sepakat tidak haram begitu juga saat isi pembicaraan berhubungan dengan memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran maka juga tidak haran seperti yang telah ditentukan oleh Imam syafi’I dan disepakati para pengikutnya”.

3. Apakah boleh tidak petugas yang dibelakang nelpon (melakukan kontak) pada petugas yang berada di ruangan depan untuk membetulkan mic atau kabel-kabel,supaya speaker belakang bersuara? Berikut jawaban detail dari pertanyaan tersebut yang di ambil dari kitab Fathul Alaam juz 3 halaman 60 dengan redaksinya sebagai berikut:

و حاصل ما يقال في هذا المقام أنه يسن للسامع ترك الكلام و الذكر مع الإصغاء لما لا يجب سماعه و هو غير الأركان لأربعين بخلاف الأركان لأربعين فيجب سماعه و يحرم على أحدهم كلام فوت سماع ركن لتسببه في إبطال الجمعة عند ابن حجر و أما الرملي فلا يشترط عنده السماع بالفعل.

Artinya: Alhasil perkara yang di ucapkan pada maqom seperti ini sesungguhnya itu di sunatkan bagi orang yang mendengar khutbah tersebut meninggalkan perkataan (tidak berkata) juga dzikir serta asgho, dengan catatan mendengar khutbahnya tersebut tidak wajib dan tidak masuk pada rukun bagi 40 jama’ah lainnya. Berbeda lagi jika menjadi rukun terhadap 40 jamaah tersebut, maka mendengarkan khutbah nya itu hukumnya wajib. Dan haram (tidak diperbolehkan)bagi salah satu dari semuanya tersebut berkata yang tidak perlu yang bisa mempengaruhi terhadap terdengarnya khutbah itu karena ada persamaannya dalam hal membatalkan sholat jum’at. sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Hajar. Adapun menurut Imam Romli itu tidak di syaratkan bagi si jama’ah yaitu terdengar dengan hal pelaksanaan.

و يندب الكلام حال الخطبة إذا دعت إليه حاجة كتنبيه من خاف وقوع محذور به لو لم ينبهه و تعليم غيره خيرا ناجزا أو نهيه عن منكر بل قد يجب ما ذكر و يقتصر على أقل ما يكفي بل لو كفت الإشارة ندب الإقتصار عليها كما في بشرى الكريم

Artinya: “Disunatkan berbicara pada waktu khutbah dimana-mana ada kebutuhan yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan khutbah itu sendiri, seperti memperingatkan terhadap orang yang takut akan tidak syahnya khutbah karena tidak terdengar, sehingga jika tidak di beritahu ataupun di peringati itu bisa kena pada hal tersebut. Bahkan wajib untuk memperingatkannya dengan hal yang lebih ringkas apabila perlu sebaiknya itu pakai isyarat saja itu lebih baik. Seperti yang diterangkan dalam syarah kitab Busrol karim.

Walhasil tidak apa apa,bahkan sunnah kalau ada hajat seperti di terangkan diatas atau bahkan bisa jadi wajib karena di takutkan dengan matinya speaker atau tidak jelasnya suara speaker akan mengakibatkan tidak terdengarnya rukun rukun khutbah.

Atau paling tidak , banyak yang membicarakan tentang kelalaiannya DKM masjid. Atau bisa jadi ada orang yang tidak paham akan kemakruhan berbicara ketika khutbah diantara para jamaah,dia akan saling berbicara ketika itu dan mengeluh akan buruknya speaker masjid.

Demikianlah uraian dan penjelasan singkat tentang bagaimana cara kita sebagai salah satu jama’ah sholat jumat memposisikan diri agar pelaksanaan khutbah jum’at itu bisa berjalan lancar dan tidak cacat hukum, sehingga bisa dikategorikan sholat jum’at nya itu syah dan jadi menurut kaidah ilmu Fiqih.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com