Pandangan Islam Terhadap Wanita Karir Dan Ketentuan Bagi Ibu Rumah Tangga

Pandangan Islam Terhadap Wanita Karir Dan Ketentuan Bagi Ibu Rumah Tangga

Almunawwar.or.id – Terdapat ketentuan dalam hukum islam yang menyoroti akan sisi kehidupan seorang wanita terutama dalam segi hak dan moral serta beretika ketika sedang melakukan aktivitas pekerjaan, terlebih khusus bagi seorang wanita karir yang sudah berumah tangga.

Dalam hal ini Islam sendiri telah memberikan perhatian penting terhadap apa yang menjadi hak dan kewajiban bagi seorang wanita, terleih lagi masalah ini menyangkut terhadap tali-tali rumah tangga yang sejatinya adalah ufuk untuk meraih sebuah kebahagiaan bagi semua pasangan.

Apalagi pada zaman sekarang ini, status wanita karir itu seolah menjadi prioritas untuk menopang semua kebutuhan hidup. Tentunya terdapat alasan-alasan tertentu yang membuat seorang wanita bisa berprofesi sebagai wanita karir. Sehingga dari spekulatif tersebut muncullah pertanyaan.

Bagaimana pandangan hukum islam terhadap wanita karir seperti saat ini banyak terjadi? Berikut penjelasan mengenai hukum daripada seorang wanita karir juga dari sisi hak dan kewajiban seorang ibu rumah tangga ketika akan melakukan aktivitas di luar rumah.

Hadist riwayat Imam Bukhori dari Ibn Umar:

قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَالَمْ يُؤْمَرْ بِالمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سُمِعَ وَلاَ طَاعَةَ

Artinya: “Nabi saw bersabda: “Mendengarkan dan ketaatan (dari seorang isteri kepada suami, atau dari seorang murid kepada guru, atau dari rakyat kepada pemerintah… dst.) adalah wajib, selama tidak diperintah dengan kemaksiatan. Jika diperintah dengan kemaksiatan, maka tidak wajib mendengarkan dan mentaati.

Berangkat dari sana sebagaimana yang lebih di jelaskan oleh para ulama menerangkan bahwa posisi seorang wanita karir itu tidak di perbolehkan terkecuali memenuhi tiga syarat berikut ini:

1. Aman dari fitnah yakni aman dari hal-hal yang membahayakan dirinya hartanya serta aman dari maksiat
2. Suami miskin atau tidak mampu menafkahi keluarganya
3. Mendapat izin dari wali atau suami jika suami masih mampu memberi nafkah.

Keterangan rujukannya bisa dilihat dari Hasiah jamal Juz 4 hal 509.

Dan apabila tuntutan dari sebuah perusahaan yang menang menyaratkan untuk melepas kewajiban bagi seorang wanita seperti harus membuka hijab, apakah yang semestinya dilakukan oleh seorang wanita tersebut? dan bagaimana jika hal tersebut berkaitan erat dengan posisi seorang ibu rumah tangga? Maka Jawabannya adalah:

a. Hukum membuka tutup kepala bagi wanita dewasa untuk kepentingan bekerja, menurut pendapat yang muktamad (bisa dijadikan pegangan) adalah tetap haram. Menurut pendapat lain boleh bagi wanita yang keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya. Menurut madzhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, apabila tidak ada fitnah.Langkah yang terbaik untuk anda, jika ingin menjadi wanita yang shalihah yang berpegang teguh (disiplin) pada ajaran Islam, anda harus berusaha terus mencari tempat bekerja yang mengizinkan pegawainya berjilbab sambil memohon kepada Allah. Insya Allah akan berhasil.

b. Ibu rumah tangga yang berhasil mendidik putra-putrinya menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa, adalah jauh lebih baik daripada wanita karir yang manapun juga. Sebab menjadikan anak yang berhasil dalam mencapai tujuan hidupnya adalah jauh lebih mahal daripada gaji seorang presiden sekalipun.

c. Tidak wajib dipatuhi, sebab patuh kepada seseorang itu diperbolehkan oleh agama dalam hal-hal yang tidak menyangkut kemaksiatan.

Walhasil dalam segala hal wanita diharuskan berpegang dan mentaati peraturan syariat, baik dalam aspek tingkah laku, berpakaian maupun profesi. Seperti halnya ketika seorang wanita muslimah beraktifitas di luar rumah, maka beberapa ketentuan menjadi etika syariat yang wajib dilakukan di antaranya :

1. Ke luar rumah karena adanya keperluan (hajat)
2. Mendapatkan ijin suami atau wali
3. Terjamin dari ancaman fitnah
4. Dengan menutup aurat
5. Harus menghindari terjadinya ikhtilath dengan laki-laki bukan mahram
6. Tidak dengan cara tasyabbuh
7. Tidak berhias
8. Tidak berpakaian ketat dengan menonjolkan bentuk tubuh
9. Bentuk profesi yang dilakukan diperbolehkan (tidak dilarang) syariat seperti, menjadi pedagang, pengajar dsb.

Dengan keterangan sebagai berikut ini.

آداب حياة الزوجية ص: 163ليس في الإسلام ما يمنع المرأة أن تكون تاجرة أو طبيبة أو مدرسة أو محترفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو إلى ذلك وما دامت تختار لنفسها الأوساط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التي اسلفنا بعضها اهـإسعاد الرفيق الجزء الثانى ص: 136ومنها خروج المرأة من بيتها متعطرة او متزينة ولو كانت مستورة وكان خروجها بإذن زوجها إذا كانت تمر فى طريقها على رجال أجانب-إلى أن قال-قال فى الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الأحاديث وينبغى حمله ليوافق قواعدنا على ما إذا تحققت الفتنة أما مجرد خشيتها فإنما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر وعد من الكبائر أيضا خروجها بغير إذن زوجها ورضاه لغير ضرورة شرعية كاستفتاء لم يكفها إياه أو خشية نحو فجارة أو انهدام المنزل

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id