Pembagian Akal Menurut Islam Dari Nilai Makna Jihad Yang Paling Utama

Pembagian Akal Menurut Islam Dari Nilai Makna Jihad Yang Paling Utama

Almunawwar.or.id – Manusia merupakan makhluq yang diberikan sebuah keistimewaan secara khusus oleh Alloh S.W.T yaitu adanya akal dan fikiran yang denagn fungsinya tersebut bisa memolahkan apa yang seharusnya di laksanakan dan menjauhi apa yang di larang oleh Agama.

Dan dari adanya daya untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk seolah menjadi nilai yang paling berharga sekaligus menjadi pembeda bagi manusia di banding dengan makhluq lainnya. Itulah sebabnya mengapa seorang manusia di jadkan kholifah fil a’rdlhi (pemimpin di muka bumi).

Dengan daya pemikirannya tersebut yang datang dari dua hal yang berbeda yakni akal dan nafsu, maka wujud dari pada sisi kehdiupan manusia di dunia ini bisa berubah dari wakti-ke waktu. Dan karena ini pula seorang manusia mampu mengemban tugas

Namun satu hal yang penuh arti dan layak untuk diketahui secara pasti oleh setiap individu manusia adalah di dalam dirinya tersebut terdapat sebuah mahkota yang jauh lebih bernilai dan bermakna yaitu akal dan fikiran yang sempurna.

Dalam kitab adabud dunya wad din imam mawardy di sebutkan

وَاعْلَمْ أَنَّ بِالْعَقْلِ تُعْرَفُ حَقَائِقُ الْأُمُورِ وَيُفْصَلُ بَيْنَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ.وَقَدْ يَنْقَسِمُ قِسْمَيْنِ: غَرِيزِيٍّ وَمُكْتَسَبٍ. فَالْغَرِيزِيُّ هُوَ الْعَقْلُ الْحَقِيقِيُّ. وَلَهُ حَدٌّ يَتَعَلَّقُ بِهِ التَّكْلِيفُ لَا يُجَاوِزُهُ إلَى زِيَادَةٍ وَلَا يَقْصُرُ عَنْهُ إلَى نُقْصَانٍ. وَبِهِ يَمْتَازُ الْإِنْسَانُ عَنْ سَائِرِ الْحَيَوَانِ، فَإِذَا تَمَّ فِي الْإِنْسَانِ سُمِّيَ عَاقِلًا وَخَرَجَ بِهِ إلَى حَدِّ الْكَمَالِالي ان قالوَأَمَّا الْعَقْلُ الْمُكْتَسَبُ فَهُوَ نَتِيجَةُ الْعَقْلِ الْغَرِيزِيِّ وَهُوَ نِهَايَةُ الْمَعْرِفَةِ، وَصِحَّةُ السِّيَاسَةِ، وَإِصَابَةُ الْفِكْرَةِ. وَلَيْسَ لِهَذَا حَدٌّ؛ لِأَنَّهُ يَنْمُو إنْ اُسْتُعْمِلَ وَيَنْقُصُ إنْ أُهْمِلَ.

Karena dengan akal maka hakikat segala sesuatu dapat diketahui dan kebaikan dapat dibedakan dari keburukan,akal dibagi menjadi dua :

1. Ghorizy (instingtif)
2. Muktasab (perolehan)

1. Akal ingstingtif adalah akal haqiqi dengan ketentuan beban taklif yg tdk boleh melampaui beban batas maksimal dan tdk boleh kurang dari batas minimal. dengan akal ini manusia bisa dibedakan dari hewan .jika akal ini dimiliki manusia secara sempurna maka dia disebut sbagai orang yg berakal dan cerdas, dengan akalnya dia bisa mencapai kesempurnaan.

2. Akal muktasab adalah hasil dari akal ingstingtif yakni hasil akhir pengetahuan, kebenaran strategi dan ketepatan pemikiran, akal muktasab ini tdk mempunyai batasan sebab dia tumbuh dan berkembang jika sering digunakan dan akan berkurang jika di abaikan.

Sementara dari cara pengolahan dan cara berfikir dari akal tersebut maka lahirlah pengembangan makna untuk bisa lebih mengamalkan nilai perjuanagn islam yang tumbuh dalam dirinya masing-masing, atau dala kata lain maka tumbuhlah makna jihad (berjuang di jalan Alloh S.W.T) sesuai dengan makna haqiqat jihad itu sendiri.

Karena memang jika melirik baik dari arti maupun makna yang sesungguhnya dari jihad itu terdapat pemaparan khusus yang membuat jihad tersebut tidak hanya berperang secara fisik, akan tetapi mampu memerangi bahkan menundukan hawa nafsu adalah makna nilai jihad yang sesungguhnya.

Pun demikian bisanya berjuang seorang muslim itu karena adanya keinginan, pergerakan juga perubahan mulai dari diri, keluarga, lingkungan sekitar ataupun bagi dunia ini pada umumnya. Sehingga dari pemaparan makna ini dapat diketahui bahwa jihad yang akbar (besar) itu adalah mujahadatufsi (memerangi hawa nafsu) sebagaimana yang di jelaskan.

Pada kitab Fiqhul Manhaj Imam Syafi’i dengan redkasinya sebagai berikut:

الـفـقــه الـمـنـهـجـي عــلــى مــذهــب الإمــام الـشــافــعـي مجلد : 3 ص : 475، ف : دكتور مصطفى الخن, دكتور مصطفى البغا, على الشريجى , ط : دار القلم, دار الشامية دمشق, 1416 – 1996 معــنى الـجــهــاد :الـجِـهَــادُ فِي اللّـُغَــةِ مَــصْــدَرُ جَــاهَـــدَ، اَيْ بَـــذَلَ جُــهْــدًا فِي سَـبِــيْـلِ الْــوُصُــوْلِ إِلىَ غَـايَــةٍ مَـا.وَالْـجِـهَـادُ فِي اصْـطِــلاَحِ الـشَّــرِيْــعَــةِألإِسْــلاَمِـيَّــةِ : بَــذْلُ الْــجُــهْــدِ فِـي سَــبِـيْـلِ إِقـَـامَــةِ الْـمُـجْـتـَمَــعِ الإِْسْــلاَمِـيِّ ، وَأَنْ تـَـكُــوْنَ كـَـلِــمَـةُ اللهِ هِــيَ الْـعُـلْـيَـا ، وَأَنْ تـَـسْــوَدَّ شَــرِيـْـعَــةُ اللهِ فِىالْــعَـالَــمِ كُــلِّــهِ .

Kata jihad yang merupakan bentuK masdar (kata dasar) dari kata kerja jaa-ha-da dalam pengertian bahasa adalah mencurahkan kesungguhan dalam mencapai tujuan apapun.Kata jihad dalam istilah syariat Islam adalah mencurahkan kesungguhan dalam upaya menegakkan masyarakat yang Islami dan agar kalimah Allah (ajaran tauhid dinul Islam) menjadi mulia serta syari’at Allah dapat dilaksanakan diseluruh penjuru dunia.

Sehingga dari penerangan keterkaitan jihad tersebut, sejatinya amaliyah nyata yang dapat mengekpresikan tuntutan berjihad adalah menunjukkan masyarakat kepada ajaran tauhid dan ajaran Islam, melalui penyelenggaraan pendidikan, diskusi, dan meluruskan pemikiran-pemikiran keagamaan yang dapat mengaburkan kemurnian aqidah umat Islam. membelanjakan harta untuk menjamin stabilitas keamanan kaum muslimin dalam upaya membangun masyarakat Islami yang kuat.

Dari makan pengertian jihad itu maka para ulama memberikan penerangan secara detail tentang arti dari kata jihad (berperang ) yang terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya :

1. Perang defensif (الـقــتــال الــد فــاعـي), yaitu berperang demi mempertahankan diri dari serangan musuh.
2. Perang offensif (الــقــتــال الـهـجـــومـي), yaitu memulai peperangan melawan musuh.
3. Perang secara umum ( حــالــة الـنــفــيــر الــعــا م) tiga bentuk jihad yang terakhir ini, jika memang situasi menuntutnya serta imam sudah menginstruksikan untuk berperang.

Namun dari ketiga makna bahasa jihad tersebut, terdapat satu hal yang sangat bernilai harganya di banding dengan berjihad secara umum, sebagaimana yang dijelaskan pada kitab Fiqh Islam Wa adilllatihi dengan redkasinya sebagai berikut:

الـــفــقــه الإســلامـي و أدلــتـــه ، ج : 8 ، ص : 5846 فـَالْـجِـهَــادُ يَـكُــوْنُ بـِالـتَّـعْـلِـيْــمِ وَتـَـعَــلُّـــمِ أَحْــكـَـامِ الإِْسْــلاَمِ وَنَــشْــرِهـَـا بَـيْـنَ الــنَّــاسِ وَبِـبَــذْلِ الْــمَـالِ وَبـِالْـمُـشَــارَكـَـةِ فِـي قِــتـَـالِ الأَعْـــدَاءِ إِذَا أَعْــلَــنَ الإِمَــامُ الْـجِـهَــادَ ، لِـقـَـوْلـِـهِ تـَـعـَـالَـى : ” جـَـاهِــدُوا الْـمُـشْــرِكِـيْــنَ بِـأَمْــوَالِــكُــمْ وَ اَنْـفُـسِــكُــمْ وَأَلْـسِــنَــتِــكُـــمْ ” .

Jadi jihad bisa dilakukan dengan cara mengajar, mempelajari hukum-hukum Islam dan menyebarluaskannya, membelanjakan harta dan berpartisipasi berperang menghadapi musuh apabila imam / pimpinan telah meninstruksikan jihad (perang), karena berdasar firman Allah swt (artinya) : “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian dan lesan kalian”.

Itulah sebabnya mengapa bagi setiap individu muslim harus mengetahui tentang kedudukan akal dan fikiran yang berperan aktif dalam memaknai kata jihad yang sesungguhnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id