Pembagian Darah Istihadhah Lengkap Beserta Penjelasan Fiqh nya

Gambar Pembagian Darah Istihadhah Lengkap Beserta Penjelasan Fiqh nya

Almunawwar.or.id – Bagi seorang wanita penting sekali untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan kewanitaan seperti dari masa keluarnya darah isithadhoh yang sangat berpengaruh terhadap boleh dan dan tidka di perbolehkannya dalam melakukan amalan ibadah ketika masa nya itu sedang di alami.

Dimana selain mengetahui hal yang berhubungan langsung dengan masalah kewanitaan yang secara tinjauan ilmu fiqih itu di perinci dan di jelaskan sesuai dengan kaidahnya, seorang perempuan juga harus berhati-hati dalam masalah urusan yang menjadi kekhususan baginya seperti haid, nifas dan lainnya.

Karena kebanyakan pada umumnya para perempuan saat ini tidak secara pasti bisa mengetahui apakah darah yang keluar dari tempatnya tersebut darah haidh atau darah istihadhoh. Karena ada perbedaan yang jelas di antara keduanya meskipun sangat berkaitan erat satu sama lain.

Alloh S.W.T berfirman dalam surat Albaqoroh ayat 222 yang berbunyi :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ

Artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Alhadits Dari Aisyah –radhiallahu anha– dia berkata:

كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَاشِرَهَا أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِي فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا. قَالَتْ: وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْلِكُ إِرْبَهُ

Artinya : “Jika salah seorang dari kami (istri-istri Nabi) sedang mengalami haid dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkeinginan untuk bermesraan dengannya, maka beliau menyuruhnya untuk mengenakan sarung guna menutupi tempat keluarnya darah haid (kemaluan), lalu beliau pun mencumbuinya.” Aisyah berkata, “Hanya saja, siapakah di antara kalian yang mampu menahan hasratnya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan.” (HR. Al-Bukhari no. 302)

Nah berikut ini beberapa penjelasan mengenai pembagian darah istihadhoh sesuai dengan kajian ilmu fiqih yang menjelaskan secara terperinci dasar dari pada keluar dan sifat darah isitihadoh tersebut :

1. Mubtada’ah mumayyizah, artinya baru mengeluarkan darah dan dia bisa membedakan darah kuat dan darah lemah.
2. Mubtada’ah ghoiru mumayyizah, artinya baru mengeluarkan darah dan dia tidak bisa membedakan darah kuat dan lemah, namun diketahuinya darah hanya satu sifat.
3. Mu’tadah ghoiru mumayyizah, artinya sudah pernah haid dan suci serta dia mengingat pada kira-kiranya waktu haid dan suci, namun tahuya dia pada darah hanya satu sifat.
4. Mu’tadah mumayyizah, artinya sudah pernah haid dan suci, dan dia bisa membedakan darah kuat dan lemah.
5. Mutahayyiroh, artinya sudah pernah haid dan suci, dan dia lupa pada kira-kiranya haid atau waktunya haid atau lupa pada kira-kiranya dan waktunya haid.

Dari kelima bagian itulah maka bisa di ketahui hal yang berhubungan erat dengan pembagian mustahadloh (waktu keluarnya darah isithadhoh) dengan perhitungan sebagai berikut :

1. Seandainya ada perempuan mengeluarkan darah haid selama 2 hari kemudian berhenti selama 10 hari lalu keluar lagi selama 3 hari, maka itu semua dinamakan haid, meskipun hari tidak keluarnya darah juga dihukumi haid.

2. Seandainya ada perempuan mengeluarkan darah selama 3 hari kemudian berhenti selama 12 hari lalu keluar lagi selama 3 hari, maka darah yang keluar pada 3 hari yang terakhir dinamakan darah istihadloh. Adapun darah yang keluar pada 3 hari yang pertama dihukumi haid sedang masa bersih yang 12 hari dihukumi suci. Sedang darah yang 3 hari berikutnya dihukumi istihadhah.

3. Seandainya ada perempun mengeluarkan darah lebih dari 15 hari, maka perlu dilihat terlebih dahulu, karena perempauan yang mengeluarkan darah itu ada kalanya.

Perlu di garis bawahi pengertian dari penjelasan mengenai darah istihadhoh tersebut adalah hal yang plaing penting mengetahui terlebih dahulu apa itu yang di maksud dengan darah istihadhoh.

Yang dinamakan darah istihadloh adalah darah penyakit yang keluar dari vagina perempuan dibukan harinya haid, artinya kurang dari sehari semalam atau lebih dari lima belas hari, dan bukan diharinya nifas, artinya melewati enam puluh hari.

Perempuan yang mengeluarkan darah istihadloh dinamakan perempuan mustahadloh, yang hukumnya sama seperti orang yang beser (selalu mengeluarkan hadats), artinya masih berkewajiban melakukan sholat dan puasa boleh disetubuhi karena dlarurat, sebelum berwudlu wajib mencuci vaginanya dan jika dalam keadaan tidak berpuasa wajib bagi dia untuk menyumbat vaginanya dengan kapas atau yang lain, mengikatnya dengan kencang, dan wajib cepat-cepat melakukan sholat.

Seandainya tidak cepat-cepat sholat maka dia wajib mengulang wudlunya, selama tidak cepat-cepatnya dia sholat itu bukan karena kemaslahatan sholat seperti menutup aurat dan menanti berjama’ah. Dan wudlunya harus dilakukan setelah masuknya waktu sholat dan hanya untuk satu sholat fardlu dan boleh melakukan sholat sunnah sebanyak yang dia mau. Setiap satu fardlu, wajib bagi dia untuk memperbaharui wudlunya, mencuci vaginanya, menyumbat dan lain-lainya, sekiranya banyak terkena darah.

Catatan : Seandainya darah istihadloh berhenti setelah wudlu, maka perempuan itu harus mengulang mencuci kelaminnya, mengulang wudlunya dan wajib mengulang sholat yang dilakukan dengan menggunakan wudlu yang pertama. Demikian itu, sekiranya didalam berhentinya darah itu cukup untuk melakukan bersuci dan sholat, sebab darah itu tidak keluar lagi atau keluar lagi tapi didalam masanya darah tidak keluar masih cukup untuk bersuci dan sholat. Namun seandainya didalam masanya darah tidak keluar itu tidak cukup untuk melakukan bersuci dan sholat, maka dia tidak diwajibkan untuk mengulang bersuci dan sholatnya.

Nah dari penjelasan tersebut, maka berbagai pertanyaan dan pengertian langsung mengenai hal-hal yang sangat berkemungkinan besar terjadi bagi seorang perempuan itu sangat perlu untuk di fahami secara jelas dan mendasar seperti :

1. Jika yang mengeluarkan darah adalah mubtada’ah mumayyizah, maka darah yang dihitung sebagai haid adalah darah yang kuat, jika keluarnya darah itu tidak kurang dari sehari semalam dan tidak melebihi 15 hari. Dan darah yang dihitung istihdloh adalah darah yang lemah, jika keluarnya darah itu tidak kurang dari 15 hari secara berurutan.

Jadi, jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 6 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 15 hari ke atas, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 6 hari sedangkan darah merah dihitung istihadloh.

2. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 5 hari kemudian mengeluarkan darah merah kekuning-kuningan selama 5 hari lalu mengeluarkan darah kuning secara terus menerus, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam, darah merah dan darah merah kekuning-kuningan, sedangkan darah kuning dihitung istihadloh.

3. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna merah selama 5 hari lalu mengeluarkan darah hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah lagi terus-terusan sampai akhir satu bulan, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 5 hari yang ada ditengah.

4. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna merah selama 15 hari lalu mengeluarkan darah hitam selama 15 hari, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 15 hari.

5. Jika adaperempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 10 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 6 hari, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 10 hari.

6. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 5 hari lalu mengeluarkan darah kuning terus-terusan, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 5 hari dan darah merah 5 hari.darah

7. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah kuning selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah terus-terusan, maka yang dihitung haid adalah darah hitam selama 5 hari.

8. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam sehari semalam lalu berhenti sehari semalam lalu mengeluarkan darah hitam lagi sehari semalam lalu berhenti lagi sehari semalam seperti itu berlangsung sampai 15 hari lalu mengeluarkan darah merah terus-terusan sampai 15 hari, maka yang dihitung sebagai haid adalah 15 hari yang pertama.

9. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama sehari semalam lalu mengeluarkan darah merah sehari semalam lalu mengeluarkan darah hitam lagi sehari semalam lalu mengeluarkan darah merah lagi sehari semalam, bergantian sampai 15 hari, kemudian keluar darah merah terus-terusan, maka yang dihitung sebagai haid adalah 15 hari yang pertama.

10. Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah mubtada’ah ghoiru mumayyizah atau mumayyizah, artinya perempuan yang baru mengeluarkan darah dan tidak tahu bedanya darah atau tahu bedanya darah tapi dia tidak menetapi syaratnya mengembalikan pada membedakan darah, maka jika terjadi seperti itu yang dihitung haid hanyalah sehari semalam dan 29 hari sisanya dihitung suci, jika perempuan itu tahu waktunya permulaannya darah. Dan jika dia tidak tahu waktu permulaannya darah, maka dia seperti wanita mutahayyiroh yang nanti akan dijelaskan. Insya Allah.

11. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan darah keluar secara terus-terusan tanpa terputus dan dia masih ingat permulaan keluarnya darah, maka yang dihitung haid hanya sehari semalam. Tapi dia supaya bersabar terlebih dahulu jangan keburu mandi dan sholat sampai 15 hari didalam bulan pertama, mungkin nanti darahnya akan berhenti. Dan setelah lewat 15 hari maka supaya dia mandi wajib dan mengqodlo’ sholat yang ketinggalan sehari semalam. Sedangkan dibulan kedua supaya dia mandi setelah lewatnya sehari semalam.

12. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama kurang dari sehari semalam lalu mengeluarkan darah merah terus-terusan, maka yang dihitung haid hanya sehari semalam.

13. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama sehari semalam lalu keluar darah merah selama 14 hari lalu keluar darah hitam sehari semalam, maka yang dihitung haid adalah sehari semalam yang pertama.

14. Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna merah yang keluarnya darah itu sampai 15 hari lalu keluar darah hitam terus-terusan, maka yang dihitung haid adalah sehari semalam setiap bulannya.

15. Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah perempuan mu’tadah ghoiru mumayyizah, artinya perempuan yang sudah pernah haid dan suci, dan dia masih ingat pada haid dan sucinya namun tidak bisa membedakan darah, maka yang seperti itu yang dihitung haid adalah kebiasaan dia mengeluarkan darah, jika kebiasaan dia mengeluarkan darah adalah cocok (artinya tidak berbeda), atau berbeda kebiasaannya tapi masih urut dan dia tahu urutannya, seperti ada perempuan sudah pernah mengeluarkan darah selama 6 hari dan suci 24 hari lalu tiba-tiba dia mengeluarkan darah lebih dari 15 hari, maka yang dihitung haid adalah darah 6 hari saja.

16. Jika ada perempuan sudah pernah mengeluarkan darah haid selama 7 hari dan suci 23 hari, lalu tiba-tiba dia mengeluar-kan darah istihadloh, maka yang dihitung haid adalah 7 hari. tetapi dipermulaan dia mengeluarkan darah istihadloh dia jangan mandi dan sholat dahulu sampai lewat 15 hari. Dan setelah lewat 15 hari maka dia mandi dan mengqodlo’ sholat yang tertinggal selama 7 hari. Sedangkan dibulan kedua supaya dia mandi setelah lewatnya masa kebiasaan dia haid, yaitu 7 hari.

17. Jika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama selama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari, dibulan keempat 3 hari lagi, dibulan kelima 5 hari dan dibulan keenam 7 hari kemudian dibulan ketujuh dia mengeluarkan darah istihadloh, maka yang dihitung haid adalah 3 hari, dibulan kedelapan yang dihitung haid adalah 5 hari dan dibulan kesembilan yang dihitung haid adalah 7 hari dan begitu seterusnya sesuai dengan putaran, seandainya dia masih ingat urutannya.

18. Jika masa kebiasaan keluarnya darah tidak urut dan dia tidak ingat pada giliran yang terakhir atau urut tapi tidak berulang-ulang putarannya dan dia tidak ingat urutannya, maka yang dihitung haid adalah giliran yang paling sedikit. Jadi, dia mandi ketika lewat giliran yang paling sedikit, tapi dia juga harus mandi lagi setelah sampai pada giliran yang kedua dan mandi lagi setelah lewat giliran ketiga untuk berhati-hati seandainya berhentinya darah seperti kebiasaan giliran kedua dan ketiga.

Misalnya, jika ada perempuan mengeluarkan darah haid di bulan pertama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari, di bulan keempat 7 hari, dibulan kelima 3 hari dan dibulan keenam 5 hari kemudian dibulan ketujuh dia mengeluarkan darah istihadloh dan dia lupa pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah giliran yang paling sedikit, yaitu 3 hari. Jadi, dia harus mandi setelah lewatnya 3 hari dan mandi lagi setelah lewatnya 5 hari dan mandi lagi setelah lewatnya 7 hari.

19. Jika ada perempuan dibulan pertama mengeluarkan darah haid 5 hari, bulan kedua 7 hari, bulan ketiga 9 hari lalu dibulan keempat dia mengeluarkan darah istihadloh dan dia lupa pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah 5 hari.

20. Jika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari, dibulan keempat kembali 3 hari, dibulan kelima 5 hari, dibulan keenam 7 hari kemudian dibulan ketujuh dia mengeluarkan istihadloh dan dia lupa pada urutan keluarnya darah yang telah lalu, artinya dia tidak ingat pada urutan kebiasaan keluarnya darah, maka yang dihitung haid adalah 3 hari. Jadi, dia harus mandi setelah berlalunya 3 hari dan mandi lagi setelah 5 hari dan mandi lagi setelah 7 hari.

21. Jika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama 5 hari, dibulan kedua 7 hari, dibulan ketiga 9 hari, di bulan keempat kembali 9 hari, dibulan kelima 5 hari, dibulan keenam 7 hari kemudian di bulan ketujuh dia mengeluarkan istihadloh dan dia masih ingat pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah giliran yang terakhir, yaitu 7 hari.

22. Jika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari lalu di bulan keempat dia mengeluarkan istihadloh dan dia masih ingat pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah giliran yang terakhir, yaitu 7 hari.

(Catatan kecil)
1. Jika ada perempuan biasanya kalau haid selama 7 hari. Tiba-tiba dia mengeluarkan darah sampai 15 hari, maka 15 hari itu semuanya dihitung haid.

2. Jika ada perempuan biasanya kalau haid selama 6 hari lalu dia mengeluarkan darah sehari semalam lalu berhenti sehari semalam kemudian keluar lagi sehari semalam, seperti itu terjadi hingga 15 hari, maka semuanya dihitung haid.

3. Jika ada perempuan mengeluarkan darah 3 hari lalu berhenti 3 hari kemudian keluar lagi 12 hari, maka yang dihitung haid adalah darah 3 hari yang ada didepan.

4. Jika ada perempuan mengeluarkan darah 12 hari lalu berhenti 3 hari kemudian keluar lagi 3 hari, maka yang dihitung haid adalah darah 12 hari yang ada didepan.

5. Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah mu’tadah mumayyizah, artinya perempuan yang sudah pernah haid, artinya sudah punya kebiasaan haid, dan dia tahu bedanya darah, maka yang dihukumi haid adalah darah yang kuat bukan kebiasaan dia mengeluarkan darah, yaitu sekiranya antara kebiasaannya dan darah kuat itu tidak diselani 15 hari keatas. Dan jika diselani 15 hari ke atas, maka yang dihitung haid adalah kira-kiranya kebiasaan, seperti permasalahan dibawah ini :

a. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 5 hari, tiba-tiba dia mengeluarkan darah hitam selama 10 hari lalu mengeluarkan darah merah 20 hari, maka yang dihitung haid adalah darah hitam 10 hari.

b. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 5 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 5 hari dia, mengeluarkan darah merah 20 hari lalu mengeluarkan darah hitam 5 hari lalu darah merah lagi 5 hari, maka yang dihitung haid adalah 5 hari yang didepan, karena sudah menjadi kebiasaan, dan darah hitam 5 hari yang ada dibelakang, karena kuatnya darah. Adapun darah merah 20 hari dihitung istihadloh.

c. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 5 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 5 hari dia
mengeluarkan darah lebih kuat terus-terusan, maka yang dihitung haid adalah darah kebiasaan 5 hari setiap bulan.

d. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 15 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 15 hari dia mengeluarkan darah lebih kuat 15 hari lagi, maka yang dihitung haid adalah darah yang lebih kuat.

e. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 15 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 15 hari dia mengeluarkan darah lebih kuat terus-terusan, maka dia jangan mandi dahulu menanti sampai 45 hari, yaitu kumpulnya dengan darah kebiasaan 15 hari. Setelah sampai 45 hari, maka dia mandi wajib lalu mengqodlo’ sholat 15 hari yang ada ditengah, sedangkan darah 15 hari yang ada di depan dan belakang dihitung haid.

f. Jika ada perempuan kebiasaan haidnya 5 hari. Di situ dia mengeluarkan darah 5 hari lalu berhenti 14 hari lalu keluar lagi terus-terusan, maka darah 5 hari itu dihitung haid, darah sehari semalam setelah 14 hari dihitung istihadloh dan 5 hari setelah sehari semalam itu termasuk haid dan 15 hari setelah 5 hari itu dihitung istihadloh dan seperti itu seterusnya.

(Catatan Lainnya)
a. Seandainya ada perempuan mengeluarkan darah hitam 7 hari lalu mengeluarkan darah merah 7 hari lalu mengeluarkan darah hitam lagi 7 hari, maka yang dihitung haid adalah darah hitam 7 hari yang ada didepan dan darah merah 7 hari ditengah.

b. Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah perempuan mutahayyiroh, artinya perempuan yang punya kebiasaan haid dan dia lupa pada kira-kira kebiasaannya atau waktunya, maka hukumnya sama seperti perempuan haid (di dalam keharaman disetubuhi, dijadikan untuk bersenang-senang, membaca al Qur’an diselain sholat, membawa mushaf dan menyentuhnya), tetapi tidak haram dicerai, melakukan ibadah yang ada niatnya seperti sholat, puasa dan thowaf, baik fardlu maupun sunnah. Dan lagi dia harus mandi untuk setiap fardlu setelah masuk waktunya fardlu, jika dia tidak ingat waktunya berhenti ketika belum istihadloh.

c. Jika dia ingat waktunya berhenti, seperti misalnya waktu terbenamnya matahari, maka dia harus mandi sewaktu matahari terbenam kemudian cepat-cepat melakukan sholat maghrib. Jika dia tidak cepat-cepat melakukan sholat maghrib maka dia harus wudlu, sekiranya tidak cepat-cepatnya dia itu bukan karena kemaslahatan sholat, dan dia harus wudlu untuk setiap fardlu.

d. Dan lagi perempuan mutahayyiroh itu harus tetap melakukan puasa ramadlan, karena ada kemungkinan sucinya dia, kemudian puasa lagi sebulan penuh (yaitu 30 hari). dan hasil puasanya setiap bulan adalah 14 hari. jadi, penjumlahan puasa 2 bulan adalah 28 hari, maka masih kurang 2 hari. Makanya adanya puasa yang sah hanya 14 hari setiap bulannya, karena perempuan mutahayyiroh mungkin haid 15 hari.

Jadi, seandainya sehari semalam mengeluarkan darah dan sehari semalam berhenti, begitu terjadi berulang-ulang sampai 15 hari, maka harinya berhenti ada 7 hari dan harinya keluar darah ada 8 hari. Jumlah setiap sebulan harinya berhenti adalah 14 hari dan harinya keluar adalah 16 hari. Contoh jadwalnya seperti di bawah ini :

Dan ketika puasanya perempuan mutahayyiroh kurang 2 hari, maka cara mengqodlo’nya adalah dia puasa 3 hari di dalam permulaan 18 hari dan 3 hari lagi diakhir 18 hari supaya bisa hasil mengqodlo’ puasa 2 hari. Karena haid ketika datangnya ditanggal 1, maka berhentinya pasti hari tanggal 16. Jadi, yang hasil sah puasanya adalah hari tanggal 17 dan 18.

e. Dan jika datangnya haid tanggal 2, maka berhentinya tanggal 17. jadi, yang hasil puasa adalah tanggal 1 dan puasa tanggal 18. jika datangnya haid tanggal 3 maka yang sah puasanya adalah tanggal 1 dan 2. jika datangnya haid tanggal 16 maka yang sah puasanya adalah tanggal 2 dan 3. jika datangnya haid tanggal 17 maka yang sah puasanya adalah tanggal 16 dan 3. jika datangnya haid tanggal 18 maka yang sah puasanya adalah tanggal 16 dan 17, seperti contoh tabel di bawah ini :

(Perhatian)
Jika ada perempuan ketika akan tidur dia masih dalam keadaan suci lalu setelah bangun tidur setelah masuknya waktu shubuh dia sudah haid kemudian dia ragu, apakah keluarnya darah itu sebelum waktu shubuh atau sesudahnya, maka dihukumi kalau keluarnya darah itu adalah sesudah masuknya waktu shubuh. Jadi, besok jika sudah berhenti, dia wajib meng-qodlo’ sholat shubuh. Jika ada perempuan haid ketika akan tidur darahnya belum berhenti keluar, lalu dia bangun tidur paginya darah sudah berhenti, maka dia harus sholat shubuh untuk berhati-hati.

(Catatan Penting)
Wajib atas perempuan yang haid atau nifas, jika sudah ber-henti mengeluarkan darah didalam waktunya sholat fardlu, untuk cepat-cepat mandi lalu melakukan sholat untuk waktu itu dan sholat yang harus diqodlo’. Jangan ditunda-tunda sampai datangnya waktu sholat lagi sehingga dia akan berdosa. Terlebih sampai untuk membeli sampo atau membakar merang untuk berkeramas, seperti itu sangat tidak diperbolehkan jika sampai mengeluarkan waktu sholat.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id