Pencerminan Sisi Karakteristik Seorang Santri Yang Terdapat Dalam Ilmu Nahwu

Pencerminan Sisi Karakteristik Seorang Santri Yang Terdapat Dalam Ilmu Nahwu

Almunawwar.or.id – Nilai kultur sebuah mata pelajaran yang di kaji pada setiap pondok pesantren adalah salah satu metode khusus bagi para pelajar khususnya para santri untuk bisa menggali setiap tujuan dari pada ilmu tersebut, termasuk dari ilmu nahwu sendiri.

Dimana secara pembelajaran ilmu nahwu merupakan sebuah pelajaran yang menjelaskan akan pentingnya kedudukan hurup dan harkat pada sebuah kalimah bahasa arab, Sehingga keberadaannya itu sangat mempengaruhi arti dan tujuan dari kalimah yang di maksud.

Bahkan jika di tela’ah lebih detail lagi setiap fungsi yang terdapat pada empat harkat pada metode ilmu nahwu itu memiliki karakteristik tersendiri yang mungkin bisa di apliasikan pada sosok seorang santri ataupun para pelajar yang sedang mendalami ilmu nahwu itu sendiri.

Menurut salah satu penuturan kiai KH Abdul Syukur yaitu seorang tokoh Ulama nahdliyyin yang menjadi Wakil Ketua PWNU Lampung KH Abdul Syukur, Ahad (20/10) yang juga Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, beliau menuturkan akan fungsi dari keempat harkat jika di aplikasikan kepada seorang seorang santri, Berikut penuturannya.

Kita semua paham bahwa di pesantren, berbagai perbedaan latar belakang keluarga, asal daerah dan budaya, riwayat pendidikan, niat dan tujuan dari para santri diwadahi melalui penyamaan gelombang frekuensi dengan aturan dan tata tertib di dalam pesantren.

Mereka dididik kedisplinan yang tergambar dari intensnya mereka belajar ilmu nahwu (tata bahasa). Ilmu nahwu sendiri memiliki makna filosofis-etis yakni agar santri membiasakan hidup yang tertata baik, disiplin, rasa dan penuh tanggung jawab, serta hidup yang peduli dan peka kepada orang lain dan lingkungan.

Ilmu Nahwu juga mengajarkan santri belajar kritis. Contoh Qara’tul Qur’ana (saya membaca Al-Qur’an), jika dibaca Qara’tul Qur’anu itu salah. Sebab Qara’a (berarti telah membaca, berkedudukan sebagai fi’il/kata kerja/predikat). Tu itu dhamir/kata ganti berarti saya, yang dalam susunan kalimat berkedudukan sebagai Fail/pelaku/subjek), dan Al-Qur’ana berkedudukan sebagai Maf’ul/objek).

Begitulah watak bahasa Arab dalam Ilmu Nahwu mengajarkan santri bersikap kritis dan analitis adalah sikap dan perilaku santri yang tanggung jawab, disiplin dan santun, membela kebenaran, cinta kebijakan. Itulah santri yang dapat belajar Ilmu Nahwu untuk mengusai bahasa Arab sekaligus mengembangkan karakteristik santri (akhlak mulia, akhlakul karimah).

Karakter apa yang yang harus dimiliki oleh para santri? Sudah seharusnya para santri mengaplikasikan karakter sesuai ilmu nahwu tadi yang saya jelaskan. Dalam ilmu Nahwu, khususnya Ilmu I’rab santri diajarkan empat tanda bacaan yaitu: Rafa’ (dhammah), Jarr (kasrah), Nashab (fathah), dan Jazm (sukun).

Keempat dasar tanda bacaan ini bermakna agar santri bisa membaca kalimat (kalam) yang baik dan benar, yang bisa dipahami oleh dirinya dan orang lain, bahkan dengan susunan kalimat yang benar.

Kata atau lafaz yang dipilihnya secara tepat dan lugas itu sebagai petanda santri itu cerdas dan baik budi bahasanya sekaligus sebagai penanda bahwa santri itu berkarakteristik mulia dikenali dari bahasanya.

Dalam ilmu logika dinyatakan bahwa bahasa seseorang mencerminkan kepribadiannya, menandai karakteristiknya. Jadi, apa makna tanda bacaan dalam imu nahwu itu, Pak Kiai?

Secara singkat makna empat tanda bacaan ilmu Nahwu dalam analisis makna filosofis-etis yang pertama adalah tanda Rafa’ berarti mengangkat derajat yang tinggi, bahwa santri mesti belajar berakhlak mulia untuk membiasakan berbuat yang baik sehingga terangkat derajatnya dengan akhlak mulianya.

Yang kedua Jarr atau Kasrah berarti santri mesti belajar tawadu, tadarru’ yaitu belajar rendah hati, hindari sombong dan angkuh agar mulia kepribadian santri dan banyak teman serta sahabat.

Yang ketiga Nashab atau Fathah berari santri mesti selalu berbuat sesuatu yang mengena sasaran, mimiliki keterbukaan sehingga apa yang ia sampaikan dan yang ia berbuat mengena atau sesusi dengan yang diinginkan masyarakat.

Yang keempat Jazm atau Sukun Berarti santri mesti memiliki kepribadian yang baik yaitu lebih baik diam daripada bicara yang tidak bermakna, sia-sia bahkan menyinggung perasaan orang lain, atau malah menimbulkan keretakan dan permusuhan. Maka lebih baik diam, sakata, sukun, yaitu tenang, teguh, dan prinsip yang kuat untuk membela kebaikan dan kebenaran.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id