Pendapat 4 Mazhab Tentang Hukum Status Hadiah (Pemberian) Saat Khitbah

Pendapat 4 Mazhab Tentang Hukum Status Hadiah (Pemberian) Saat Khitbah

Almunawwar.or.id – Penting kiranya untuk diketahui lebih lanjut bagi seroang lelaki yang bermaksud untuk melamar pujaan hatinya yang kelak nantinya di maksud untuk di jadikan istri, dimana saat pemberiaan tanda pelamaran sebelum proses pernikahan di berlangsungkan untuk ke depannya.

Dan biasanya pada masa pelamaran tersebut di berikan sebuah simbolis hadiah dari seorang laki-laki terhadap perempuannya, sebagai bentuk dari pada wujud kasih sayang dan juga ciri bahwa perempuan tersebut sudah ada meminangnya.

Dalam artian demi menjaga ketertiban dan kenyamanan semuanya, maka pihak dari orang tua si perempuan tersebut ataupun perempuan itu sendiri tidak boleh menerima pinangan atau lamaran dari laki-laki lainnya, selama masih terikat dengan sebuah lamaran yang telah di berikan oleh laki-laki tadi.

Dan yang biasanya di tandai dengan pemberian (hadiah) berupa cin-cin dan yang lainnya, tergantung kesepakatan dari antara calon pasangan tersebut, Namun sayang sekali tidak sedikit pada saat ini mengindahkan dari pada adanya proses pinangan yang telah di ajukan oleh pihak laki-laki.

Dimana tidak sedikit pula dari perempuan yang mengembalikan tanda pinangana tersebut hanya karena memutuskan sebelah pihak ataupun dengan alasan-alasan tertentu, Sehingga menimbukan sebuah polemik yang setidaknya merusak jalinan hubungan di antara keduanya.

Lalu bagaimana tinjauan hukum fiqh jika hal tersebut terjadi, terhadap status pemberian (hadiah tunangan) dari pihak laki-laki yang di kembalikan oleh perempuan karena alasan-alasan tertentu? Berikut 4 pandangan Ulama madzhab tentang hal tersebut.

Dalam kitab Al-Fiqh al-Islaam IX/20 dijelaskan bahwa Saat khitbah (lamaran) berlangsung biasanya pihak calon pengantin laki-laki memberikan aneka macam hadiah dan bingkisan pada pihak calon pengantin wanita, dalam menanggapi status hadiah ini, para ulama fiqh memiliki beberapa pendapat :

1. Menurut Pendapat Hanafiyyah
“Hadiah-hadiah saat khitbah adalah hibah (pemberian), bagi si pemberi boleh menarik hadiah pemberiannya kecuali bila terjadi hal yang melarangnya seperti hadiahnya telah rusak, telah punah atau telah terjadi ikatan suami istri diantara keduanya. Bila hadiahnya masih ada si pemberi boleh menariknya, bila punah seperti cincin yang telah rusak, makanan yang telah termakan atau hadiahnya telah berubah bentuk seperti kain yang telah menjadi gaun maka bagi pemberi tidak berhak menuntut barang pengganti” (Rodd al-Mukhtaar II/599)

2. Menurut Pendapat Malikiyyah
“Hadiah-hadiah sebelum atau saat perkawinan diparuh bagian antara wanita dan pria baik disyaratkan atau tidak karena hadiah diatas secara hukum memang menjadi persyaratan” (Syarh as-Shoghiir II/456)

3. Menurut Pendapat Syafi’iyyah
“Bagi laki-laki pelamar boleh menarik ulang hadiahnya sebab hadiah tersebut diberikan agar terjadi akad pernikahan, bila ikatannya gagal baginya berhak menariknya kembali saat masih ada atau dengan barang pengganti bila telah rusak”. (I’aanah at-Thoolibiin III/156).

4. Menurut Pendapat Hanabilah
“Ditinjau terlebih dahulu antara pelamar dan yang dilamar, mana diantara keduanya yang berpaling ? Bila yang berpaling pihak laki-laki, tidak berhak baginya mengambil hadiahnya kembali sekalipun masih ada, Bila yang berpaling pihak wanita, pihak laki-laki boleh menarik kembali hadiahnya sekalipun sudah rusak dengan diberikan harga senilainya, keputusan ini dianggap adil dan bijak karena hadiah tersebut diberikan demi langgengnya ikatan bila ikatannya telah hilang tentu baginya boleh menarik ulang” (Manaar as-Sabiil II/198)

هدايا الخطبة: أما رد الهدايا ففيه آراء فقهية:
1 – قال الحنفية (1) : هدايا الخطبة هبة، وللواهب أن يرجع في هبته إلا إذا وجد مانع من موانع الرجوع بالهبة كهلاك الشيء أو استهلاكه أو وجود الزوجية. فإذا كان ما أهداه الخاطب موجوداً فله استرداده. وإذا كان قد هلك أو استهلك أو حدث فيه تغيير، كأن ضاع الخاتم، وأكل الطعام. وصنع القماش ثوباً، فلا يحق للخاطب استرداد بدله.
2 – وذكر المالكية (2) : أن الهدايا قبل عقد الزواج أو فيه تتشطر بين المرأة والرجل، سواء اشترطت، أو لم تشترط؛ لأنها مشترطة حكماً.
3 – وفصل الحنابلة (3) بين أن يكون العدول من جهة الخاطب أو من جهة المخطوبة، فإذا عدل الخاطب، فلا يرجع بشيء ولو كان موجوداً. وإذا عدلت المخطوبة، فللخاطب أن يسترد الهدايا، سواء أكانت قائمة أم هالكة، فإن هلكت أو استهلكت وجبت قيمتها. وهذا حق وعدل، لأنه وهب بشرط بقاء العقد، فإن زال العقد، فله الرجوع، فأشبه بذلك.
4 – ورأى الشافعية (4) : أن للخاطب الرجوع بما أهداه؛ لأنه إنما أنفق لأجل تزوجها، فيرجع إن بقي، وببدله إن تلف.

Catatan:
Kewenangan menarik kembali hadiah diatas sebatas pada hadiah-hadiah yang diberikan dengan tujuan “agar terjadi pernikahan” bila bukan karena tujuan ini maka pemberiannya tidak dapat ditarik kembali.

Sebagaimana yang telah di kemukakan oleh pendapat Dalam Hasyiyah Kitab al-Jamal terdapat keterangan yang redaksinya : “Ditanya Syekh Muhammad Romly tentang seseorang yang melamar wanita dan memberi nafkah padanya dengan tujuan agar dapat mengawininya, dan perkawinan dengannya ternyata tidak terjadi, apakah boleh bagi orang tersebut menarik kembali apa yang telah ia nafkahkan pada wanita diatas ?”

وفي حاشية الجمل ما نصه ( سئل م ر ) عمن خطب امرأة وأنفق عليها ليتزوجها ولم يحصل التزوج بها فهل لها الرجوع بما أنفقه لأجل ذلك أم لا
( فأجاب ) بأن له الرجوع بما أنفقه على من دفعه له سواء كان مأكلا أم مشربا أم ملبسا أم حليا وسواء رجع هو أم مجيبة أم مات أحدهما لأنه إنما أنفق لأجل تزوجها فيرجع به إن بقي وببدله إن تلف اه ببعض تصرف ومحل رجوعه حيث أطلق أو قصد الهدية لأجل النكاح فإن قصد الهدية لا لأجل ذلك فلا رجوع

Beliau menjawab “Lelaki tersebut berhak mengambil yang telah ia berikan baik yang berupa makanan, minuman, pakaian atau perhiasan dan baik pemberian tersebut memang hendak dia ambil atau tidak, pihak wanitanya menyetujui atau tidak, atau disebabkan salah satu diantara keduanya meninggal, karena pemberian-pemberian diatas diberikan laki-laki tersebut agar dapat menikah dengannya, maka laki-laki tersebut boleh mengambilnya bila masih ada atau berhak mendapat barang penggantinya bila telah rusak”. Demikian keterangan dari kitab alJamal dengan sedikit perubahan.

Konsekuensi Pembatalan Khithbah, Kaitannya dengan Hal-hal yang Diberikan Khâthib Pada Makhthûbah atau Walinya

Jika pembatalan khithbah terjadi, maka konsekuensi yang timbul kaitannya dengan barang yang diberikan khâthib adalah sebagai berikut:

a). Jika yang diberikan itu disepakati atau adat menganggapnya sebagai mahar (maskawin), baik sebagian ataupun seluruhnya, para ulama sepakat, hal itu dihukumi sebagai mahar. Dengan itu, Khâthib berhak meminta kembali seluruhnya. Jika ternyata sudah rusak dengan sendirinya atau karena dipakai, maka dia berhak meminta gantinya.Begitu juga jika khathib meninggal dunia, maka ahli warisnya boleh memintanya kembali, dengan dalil khithbah bukan akad nikah. Ia hanya sebagai janji nikah. Dengan itu, makhthûbah hanya berhak memilikinya jika akad nikah terlaksana, bukan hanya dengan janji nikah semata.

b). Jika yang diberikan dianggap sebagai hadiah atau hibah biasa, dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Menurut Hanafiyah, jika masih utuh seperti perhiasan, khâthib berhak memintanya kembali. Jika ternyata sudah rusak, baik dengan sendirinya atau karena dipakai, maka khâthib tidak berhak meminta ganti apapun bentuknya.

1. Menurut Malikiyah
Jika khâthib memberi atau membelanjakan sesuatu bagi makhthûbah-nya, kemudian ternyata makhthûbah­-nya menikah dengan orang lain, menurut pendapat yang terkuat, khâthib berhak meminta kembali apa yang diberikannya, kecuali jika karena adat atau syarat.

2. Menurut Syafi’iyah
Jika masih utuh, khâthib berhak meminta kembali apa yang dihadiahkan dan yang dihibahkannya. Jika ternyata sudah rusak, maka khâthib berhak meminta gantinya.

3. Menurut Hanabilah
Apa yang dihadiahkan khâthib tidak boleh diminta kembali, baik pembatalan khitbah-nya dari khâthib maupun dari makhthûbah, karena apa yang diberikan khâthib adalah hadiah. Meminta kembali hadiah tidak dibolehkan, kecuali apa yang dihadiahkan seorang ayah bagi anaknya.

Menurut para ulama, pendapat yang paling kuat adalah pendapat Malikiyah. Bila pembatalan khithbah datang dari khâthib, maka dia tidak berhak memintanya kembali meskipun masih utuh. Jika pembatalan dari makhthûbah, maka khâthib berhak meminta semua apa yang dihadiahkannya. Sedang menurut Wahbah Zuhaili, pendapat yang terkuat adalah pendapat Hanabilah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com