Penjelasan dari Kajian Tauhid Allah Ada Tanpa Tempat dan Serupa

Penjelasan dari Kajian Tauhid Allah Ada Tanpa Tempat dan Serupa

Almunawwar.or.id – Sangat penting kiranya bagi kita semua sebagai manusia awwam yang sangat membutuhkan bimbingan dan petunjuk dari Alloh S.W.T untuk lebih memahami secara mendasar tujuan dari sebuah keterangan baik dari alquran dan al hadits yang menerangkan akan keesaan Alloh S.W.T.

Jangan sampai menerangkan bahkan menjelaskan arti dan makna sebuah keterangan tersebut hanya sebatas arti dari lafadznya saja, sebab dalam kalimah bahasa arab itu terdapat beberapa arti yang didapatkan dari satu lapadz, artinya sebuah kalimah ataupun lapadz bisa memiliki beberapa makna tergantung dari tujuan kalimah tersebut.

Termasuk salah satunya dari ayat Alquran yang mejelaskan tentang Alloh S.W.T itu tidak bertempat di Arsy yaitu ayat الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى. Dimana pada pengertiannya ayat tersebut terdapat lapadz yang mengandung arti sesuai dengan tujuan dan makna ayat yang sesungguhnya.

Dan masalah seperti ini seolah menjadi perbincangan hangat bagi mereka yang justru mengerti akan perosalan agama seperti ini, sehingga jika tidak di kaji secara mendalam dan mendasar dikhawatirkan akan memberikan dampak yang sangat bahaya bagi masyarakat terutama dalam masalah menjaga aqidah ahli sunnah wal jama’ah.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah ketika ditanya terkait firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Beliau berkata “Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan”

Imam Syafi’i rahimahullah juga menjelaskan bahwa “jika Allah bertempat di atas ‘Arsy maka pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti akan memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu, Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada sesuatu di atasMu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Bathin, maka tidak ada sesuatu di bawahMu”. (HR Muslim 4888)

Rasulullah bersabda “wa Robbal ‘arsyil ‘azhiimii” , “Tuhan yang menguasai ‘Arsy” (HR Muslim 4888)

Imam Sayyidina Ali ra berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya”

Dalam kitab al-Washiyyah, Al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.

Artinya: “Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung.

قال الأستاذ السيد محمد حقى النازلى في كتابه خزينة الأسرار ص ١٤٥ في فصل الأحاديث الصحيحة الواردة و أقوال الأئمة فى تفسير آية الكرسي

Artinya: “Berkata Al-Ustadz As-Sayyid Muhammad Haqqiy An-Naaziliy dalam kitabnya ” Khozinatul Asror ” halaman 145 terbitan Syirkah Al-Ma’arif Indonesia pada pasal yang menerangkan hadits-hadits shohih dan pendapat para Ulama mengenai tafsir ayat Kursiy.

فالمراد بالعلو علو القدرة و المنزلة لا علو المكان لانه تعالى منزه عن التحيز و كذا عظمته انما هي بالمهابة و القهر و الكبرياء و يمنع أن يكون بحسب المقدار و الحجم لتعالى شأنه عن أن يكون من جنس الجواهر و الأجسام

Artinya: “Adapun yang dimaksud “Uluww” / tinggi adalah tingginya kekuasaan dan kedudukan , bukan tingginya tempat karena sesungguhnya Allah ta’ala maha Luhur dari bertempat , begitu pula KeAgunganNya adalah keAgungan dengan kewibawaan , menguasai dan kesombongan dan dicegah/tidak mungkin adanya Allah dengan ukuran dan hajam karena Maha Luhurnya Allah dari keberadaanNya dari jenis Jauhar/atom dan Jisim-jisim atau benda.

Bahkan Imam Muhammad bin Badruddin bin Balyan Ad-Dimasyqiyyi Al-Hanbaliy (wafat tahun 1083 H) dalam kitabnya “Mukhtashor al-ifadat” hal 489 mengatakan : Barang siapa meyakini atau mengucapkan ” sesungguhnya Allah dengan DzatNya ada dimana-mana atau disuatu tempat ” maka ia ” KAFIR.

قال الإمامُ مُحَمَّدُ بنُ بدرِ الدِّينِ بنِ بلبانَ الدِّمَشْقِيُّ الحنبليُّ المتوفَّى سنةَ 1083 للهجرة في كتابهِ[(مختصرُ الإفادات)/ص489]:” مَنِ اعتقدَ أو قال إنَّ الله بذاتهِ في كُلِّ مكانٍ أو في مكانٍ فهو كافر

Sebab langit bukanlah sebuah tempat bagi Allah, Langit adalah tempat para malaikat serta Langit juga adalah qiblat do’a. Sebagaimana penjelasaan yang telah di terangkan oleh Imam Nawawi dengan redaksinya sebagai berikut:

قال الإمامُ النوويُّ في (شرح صحيح مسلم) ما نصُّه :” إذا دَعَا الدَّاعِي رَبَّهُ استقبلَ السَّمَاءَ كما إذا صلَّى المصلِّي استقبلَ الكعبةَ . وليسَ ذلكَ لأنَّ الله منحصرٌ في السَّماء كما أنه ليسَ منحصرًا في جهةِ الكعبةِ لأنَّ السَّمَاءَ قِبْلَةُ الدَّاعِينَ كما أنَّ الكعبةَ قِبْلَةُ المصلِّين “ا.هـ

Artinya: “Berkata imam Nawani dalam kitab shahih muslim tentang penjelasan nas ayat tersebut bahwa ” Dimana-mana berdoa kepada Alloh S.W.T, maka menghadaplah ke arah langit seperti menghadapnya orang yang sholat ke arah qiblat”. Dan tidak pula hal tersebut berlaku kepada Alloh s.w.t, sebab sesungguhnya Alloh S.W.T itu di sucikan.

Bahkan Imam Nawawi menuliskan tentang pemahaman kisah jariyah menurut Ahlus Sunnah dalam Syarah Shohih Muslim jilid 5 halaman 24 sebagai berikut:

هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان أحدهما الايمان به من غير خوضفي معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات والثاني تأويله بما يليق به فمن قالبهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبلالكعبة وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين أو هي من عبدةالأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههمومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليستعلى ظاهرها بل متأولة عند جميعهم

Artinya: “Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifat, dan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutkan beberapa kalipada bab Iman, yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya, serta meyakini bahwa Allah ta’ala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk.

Dan yang kedua adalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah, maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini (pendapat Ta’wil) berkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahu) adakah ia seorang yang bertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allah semata

Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nya, ia menghadap (tangan nya) ke langit, sebagaimana bila seorang sholat, ia menghadap (dada nya) ke Ka’bah, dan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada dilangit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bah, tetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orang berdoa

Sebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat , ataukah ia adalah sebagian dari penyembahberhala yang ada di hadapan mereka, maka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhala.

Berkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaummuslimin seluruhnya, baik ulama fiqih, dan ulama Hadits, dan ulama Tauhid, dan Mujtahid dan Muqallid, bahwa makna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah ta’ala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit dan seterusnya“dan seumpama nya, bukanlah maksud sebagaimana dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin.

Sekiranya penjelasan dari sebagian penerangan tadi cukup kiranya kita untuk meyakinkna dan menjaga nilai-nilai aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Sehingga terhindar dari kesesatan yang mementingkan kehendak semata dan tujuan-tujuan tertentu dan bisa kembali pada aqidah ahlu sunnah wal jama’ah.

Wallohu A’lamu Bishowab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com