Penjelasan Definisi dan Pembagian Tafsir Menurut Pandangan Ulama

Penjelasan Definisi dan Pembagian Tafsir Menurut Pandangan Ulama

Almunawwar.or.id – Dalam mengetahui ta’rif atau sebuah definisi tentang sebuah ilmu dalam agama seperti ilmu tafsir misalnya itu sangatlah dibutuhkan sebuah penerangan yang subjektif ddengan pengertain yang berlandaskan pada sebuah ilmu lainnya.

Tujuannya adalah supaya orang awam lebih mengerti dan tahu serta memahami amksuda dan tujuan daripada arti sebuah ilmu yang di maksud. Termasuk dalam menjelaskan tentang ilmu tafsir yang memang dalam hal ini terdapat beberapa pandangan penting dari para ulama yang sangat ahli dalam membahas ilmu yang bersangkutan.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam menjelaskan apakah yang di amksud dengan ilmu tafsir tersebut, akan tetapi secara pemaknaan keseluruhan itu menjurus dan terfokus pada suatu pembahasan yang sama. Itulah sebabnya mengapa definisi tersebut layak dan perlu untuk kita ketahui secara jelas dan pasti. Berikut penjelasannya:

[تفسير الطبري ج:1مقدمة]

التفسير: اخراج الشيء من مقام الخفاء إلى مقام التجلي -إلى أن قال- ومعنى التفسير بالرأي هو تفسير القرآن بالإجتهاد بعد معرفة المفسر لكلام العرب فمعرفة الألفاظ العربية ووجوه دلالتها ومعرفة أسباب النزول والناسخ والمنسوخ وغير ذلك

Artinya: “Tafsir adalah mengeluarkan sesuatu dari hal yang masih disamarkan kepada hal yang lebih jelas dalam kedudukan arti dan tujuannya, Adapun ma’na tafsir jika berdasarkan pemikiran itu adalah sebuah penjelasan alquran yang di hasilkan dengan cara berijtihad sesudah ma’rifatnya seorang mufassir (orang yang menafsirkan) yang tentunya disesuaikan dengan kalam arab atau bahasa arab yang meliputi ma’rifat atau mengetahu lapadz-lapadz bahasa arab, adanya dalil yang menerangkannya, dan mengetahui sebab-sebab turunnya ayat yang di maksud, begitu juga dnegan aadanya ayat nasikh (salinan) dan ayat Mansukh (yang disalin) dan lain sebagainya.

Untuk itu para ulama ahli tafsir memberikan pandangan dan pendapatanya tentang yang di amksud dnegan ilun tafisr tersebut, berikut pendapat dan pandangan ulama yang di maksud.

1. Definisi tafsir menurut Imam Al-Zarkasiy:

علم يعرف به كتاب الله المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه وسلم و بيان معانيه و استخراج احكامه و حكمه

Artinya: “Ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi, menjelaskan maknanya serta mengeluarkan hukum atau hikmah darinya”

2. Definisi tafsir menurut Imam Abd al-Azhim al-Zarqani:

علم يبحث عن القران الكريم من حيث دلالته على مراد الله تعالى بقدر الطاقة البشرية

Artinya “ilmu yang membahas tentang al-Qur`an darisegi dilalah-nya berdasarkan maksud yang dikehendaki oleh Allah sebatas kemampuan manusia”

3. Definisi tafsir menurut Imam Khalid bin Utsman al-Tsabt :

علم يبحث فيه عن أحوال القران العزيز من حيث دلالته على مراد الله تعالى بقدر الطاقة البشرية

Artinya “Ilmu yang membahas tentang keadaan al-Qur`an dari segi dilalah-nya berdasarkan maksud yang dikehendaki oleh Allah sebatas kemampuan manusia”

توضيح معاني القران, وما انطوت عليه اياته من عقائد و أسرار و حكم و أحكام

Artinya “Penjelasan makna al-Qur`an dan menghasilkan kaidah-kaidah, rahasia-rahasia, hikmah-hikmah dan hukum-hukum dari ayatnya.”

5. Definisi tafsir menurut Imam al-Kilbi dalam al-Tashil:

شرح القران و بيان معناه و الأفصاح بما يقتضيه بنصّه إو إشارته أو نجواه

Artinya “Menguraikan al-Qur`an dan menguraikan maknanya, memperjelas makna tersebut sesuai dengan tuntutan nash atau adanya isyarat yang mengarah ke arah penjelasan tersebut atau dengan mengetahui rahasia terdalamnya.”

Dari keterangan dan penjelasan tentang yang di maksud dengan ilmu tafsir itu, maka bisa disimpulkan bahwa pembagian ilmu tafsie berdasarkan dari cara penafsirannya itu terbagi dua bagian:

1. Tafsir riwayat atau juga disebut dengan istilah tafsir naql atau tafsir ma’tsur. Cara penafsiran jenis ini bisa dengan menafsirkan ayat al-Quran dengan ayat al-Quran lain yang sesuai, maupun menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan nash dari as-Sunnah. Karena salah satu fungsi as-Sunnah adalah menafsirkan al-Quran.

2. Tafsir dirayah disebut juga tafsir bi ra’yi. Tafsir dirayah adalah dengan cara ijtihad yang didasarkan pada dalil-dalil yang shahih, kaidah yang murni dan tepat. Tafsir dirayah bukanlah menafsirkan al-Quran berdasarkan kata hati atau kehendak semata.

Dari adanya tafsir dirayah ini maka timbul atau lahirlah dua pembagian tafsir berdasarkan hasil daripada enfasiran dirayah ini yaitu:

1. Tafsir Mahmud dengan definisinya

فالتفسير المحمود : ما كان موافقا لغرض الشارع بعيدا عن الجهالة والضلالة متمشيا مع قواعد اللغة العربية معتمدا على اساليبها في فهم النصوص القرآنية الكريمة فمن فسر القرآن برأيه (اي باجتهاده) ملتزما الوقوف عند هذه الشروط معتمدا عليها فيما يرى من معاني الكتاب العزيز كان تفسيره جائزا سائغا جديرا بأن يسمى (التفسير المحمود) أو التفسير المشروع

Artinya: ” Tafsir Mahmud (terpuji) adalah tafsir yang sesuai dengan tujuan syari’ (Allah) jauh dari kebodohan dan kesesatan, berjalan sesuai dengan ka’idah-ka’idah bahasa arab dan bersandar terhadap susunan bahasa arab dalam memahami nash-nash Al-Qur’an. Maka tafsir yang sesuai dengan syarat-syarat di atas termasuk tafsir yang diperbolehkan dan disebut tafsir mahmud atau terpuji.

2. Tafsir Madzmum

وأما التفسير المذموم : فهو أن يفسر القرآن بدون علم أو يفسره حسب الهوى مع الجهالة بقوانين اللغة أو الشريعة أو يحمل كلام الله على مذهبه الفاسد وبدعته الضالة أو يخوض فيما استأثر الله بعلمه ويجزم بأن المراد من كلام الله هو كذا وكذا فهذا النوع من التفسير هو (التفسير المذموم) أو التفسير الباطل وباختصار: فان التفسير المحمودة ما كان صاحبه عارفا بقوانين اللغة خبيرا باساليبها بصيرا بقانون الشريعة (التبيان فى علوم القرآن بقلم محمد على الصابونى ص 157)

Artinya: ” Adapun tafsir Madzmum (tercela) adalah menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari ilmu pengetahuan atau menafsirinya disesuaikan dengan hawa nafsu serta tidak tahu terhadap tata bahasa atau aturan syari’at, atau menafsirkan firman Allah disesuaikan dengan pendapatnya yang salah dan bid’ahnya yang tersesat.

Maka dari penjelasan di atas tadi maka sangtalah penting bagi seorang Mufassir untuk menguasai beberapa ilmu-ilmu yang berhunungan dan bersangkutan langsung dengan masalah tafsir, diantaranya:

1. Mengetahui dan menguasai tata bahasa arab yang meliputi ilmu Nahwu, ilmu Sharrof dan ilmu Isytiqoq
2. Mengetahui dan menguasai ilmu balaghah yang meliputi ilmu Ma’ani, ilmu Bayan dan ilmuBadi’
3. Mengetahui dan menguasai usul fiqh yang berupa Khas, Aam, Mujmal dan lain lain
4. Mengetahui dan menguasai sebab-sebab turunnya ayat (Asbabun-Nuzul)
5. Mengetahui dan menguasai Nasikh dan Mansukh,Mengetahui ilmu Qiro’at,Ilmu Ladunni

Dengan tujuan supaya tidak ada penyimpangan dan penyesatan yuang justru itu sangatlah di khawatirkan oleh para ulama. seperti yang saat ini banayak dan sering terjadi di tengah-tengah umat islam di dunia ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id