Penjelasan Lengkap Mengenai Hukum I’adah Ibadah Jum’at Karena Adanya Ta’adud

Penjelasan Lengkap Mengenai Hukum I'adah Ibadah Jum'at Karena Adanya Ta'adud

Almunawwar.or.id – Sebuah pelaksanaan ibadah akan di nilai sah menurut pandangan dan kajian hukum fiqih, Dimana tata cara dari pengamalannya secara keseluruhan sesuai dengan kaidah dan ketentuan yang di berlakukan dan berjalan pada sebuah amalan itu, Sehingga tidak melahirkan sebuah pernafsilan yang berbeda.

Begitu juga dengan pelaksanaan shalat I’adah (Nengulangi) shalat dzuhur setelah shalat jum’at di suatu wilayah atau perkampungan lebih dari satu tempat, atau shalat iadah ini dilakukan karena adanya kehati-hatian bagi jama’ah dalam melaksanakan ibadah shalat jum’at.

Maka secara penafsiran dan penafsilan permasalahan seperti ini yang mungkin sering di temui di beberapa wilayah itu layaknya perlu di bahas lebih lanjut, guna bisa memahami keabsahan sebuah ibadah terlebih khusus dengan ibadah shalat jum’at itu sendiri.

Apakah harus di laksanakan atau hanya sebatas anjuran atau justru tidak di perbolehkan, nah menguak hal tersebut tentunya terlebih dahulu harus mengetahui titik awal dari adanya hal tersebut agar senantiasa sesuai dengan mengenai kaidah yang berjalan di balik pelaksanaan shalat i’adah itu.

Dan tatkala syarat-syarat sholat jum’at sudah sempurna, dengan adanya empat puluh orang laki-laki merdeka, yag mukallaf, berdomisili ditempatnya, dan masing-masing tidak mengurangi sedikitpun dari rukun-rukun sholat dan syarat-syaratnya dan tidak meyakininya sebagai sholat sunah dan tidak mengharuskan meng qodho’ sholat tersebut.

Serta seorang Imam tidak mengganti sesuatu huruf dengan yang lain dan tidak menggugurkannya dan tidak menambah didalam sholat sesuatu yang merubah ma’na dan tidak melagukan huruf dengan sesuatu yang merubah ma’na meskipun orang mukallaf tersebut tidak teledor dalam belajar.

Sebagaimana pendapat Ibnu Hajar berbeda dengan pendapat imam Romli. Maka tidak boleh mengulangi sholat jum’at tersebut dengan sholat dhuhur berbeda dengan apa yang apabila terjadi dalam keabsahan jum’at sesuatu perbedaan ( pendapat) meskipun dalam madzhab lain.

Maka disunnahkan I’adah jika sholat dzuhur telah sah menurut orang yang bebeda pendapat tersebut seperti setiap sholat yang terjadi padanya perbedaan pendapat yang tidak menyimpang. Serta orang alim apabila dimintai fatwa mengenai pendirian sholat jum’at beserta kekurangan bilangan jama’ah sholat jum’at harus mengucapkan : “madzhab Syafi’i tidak membolehkan”.

Kemudian apabila tidak terjadi padanya suatu kerusakan kerusakan dan bermalas-malasan pada (si alim), maka boleh baginya untuk memberi petunjuk kepada orang yang ingin mengerjakan dengan qaul qadim kepadanya dan bagi kepala pemerintahan boleh mengharuskan orang yang meninggalkan sholat jum’at membayar kifarat jika imam melihatnya sebagai kemaslahatan ( kebaikan ) dan mentasarufkan hasil kifarat tersebut kepada orang-orang fakir.

Perlu diketahui adapun sebab-sebab di perbolehkanya ta’addudul jum’at itu antara lain :
1. Sempitnya tempat jum’atan sekiranya tidak muat untuk jama’ah jum’at
2. Ada dua kelompok yang saling bermusuhan (tawuran:misal), yang beraqibat tidak bisa di dirikan jum’atan hanya pada satu tempat
3. Jauhnya tempat jum’atan sekiranya suara adzan tidak terdengar atau mendatangi tempat jum’atan setelah fajar ia tidak akan mendapati jum’atanya.karena ia boleh melakukan perjalanan hanya setelah fajar.

Namun jika melakukan sholat dhuhur setelah diselenggarakan sholat Jum’at itu karena ta’addud (jumlah sholat Jum’at yang diselenggarakan di satu kampung lebih dari satu), maka hukumnya ditafsil :
1. Apabila bilangan jama’ah sholat Jum’at kurang dari 40 orang yang memenuhi syarat, maka wajib sholat dhuhur.
2. Apabila memenuhi syarat-syarat ta’addud, maka hukumnya sunnat melakukan sholat dhuhur, untuk menghindarkan diri dari perbedaan pendapat. Sebagaimana yang di terangkan pada salah satu kitab Fiqh :

والحاصل من كلام الأئمة أن أسباب جواز تعددها ثلاثة:ضيق محل الصلاة بحيث لا يسع المجتمعين لها غالبا,والقتال بين الفئتين بشرطه,وبعد أطراف البلد بأن كان بمحل لايسمع منه النداء,أو بمحل لو خرج منه بعد الفجر لم يدركها,إذ لا يلزمه السعي اليها إلا بعد الفجر انتهى بغية المسترشدين ص ٧٩

Bahkan menurut ibarat syeh Sulaiman al-Kurdi:”apabila syarat-syarat sholat jum’at itu tidak didapati menurut madzhab Syafi’i maka tidak wajib mengerjakan sholat jum’at bahkan haram karena hal itu menjumbokan dengan ibadah yang rusak.

Apabila dalam jama’ah sholat jum’at terdapat orang yang buta huruf al-Qur’an yang menjadi hitungan kesempurnaan jama’ah jum’at, maka sholat jum’at tersebut tidak sah meskipun orang yang buta huruf tersebut tidak teledor dalam belajar agama, sebagaimana keterangan dalam kitab Tuhfah yang berbeda dengan keterangan dalam syarah al-Irsyad dan imam ar-Romli.

Berbeda pula dengan apa yang apabila jama’ah keseluruhannya adalah orang-orang yang buta huruf al-Qur’an sedang imamnya dapat membaca al-Qur’an maka sholat jum’ahnya sah jika orang yang yang taklid kepada imam as-Syafi’i dari para imam berpendapat dengan kebsahannya sholat jum’at beserta ketiadaan sebagian dari syarat-syarat orang jum’at dengan taklid yang benar yang mengumpulkan syarat-sarat taklid, maka boleh melakukan sholat jum’at bahkan wajib.

Kemudian disunnahkan mengulangi sholat jum’at tersebut dengan sholat duhur meskipun sendirian karena keluar dari berbeda pendapat dengan orang yang melarang sholat jum’at tersebut. Karena yang benar bahwa apa yang sesuai dalam furu’ itu adalah satu dan yang benar sholat jum’at itu tidak boleh berbilang.

Maka dimungkinkan bahwa orang yang bertaklid kepada imam Syafi’i mengenai sholat jum’at itu adalah tidak sesuai. Ini adalah sebagaimana apabila sholat jum’at itu berbilang karena hajat, maka sesungguhnya bagi setiap orang yang tidak mengetahui sholat jum’atnya telah didahului sholat jum’at yang lain hendaklah mengulangi sholat jum’at tersebut dengan sholat duhur.

Demikian pula apabila sholat jum’at tersebut berbilang tanpa hajat dan dia ragu-ragu mengenai sholat jum’at yang menyertainya maka wajib mengulangi sholat jum’at itu dengan sholat jum’at lagi karena hukum asal adalah meniadakan terjadinya sholat jum’at yang mencukupi syarat dan disunatkan mengulangi sholat jum’at dengan sholat duhur juga karena berhati-hati.

Sampai ucapan pengarang (musonnif) Para imam kita telah menjelaskan dengan kesunnatan mengulangi setiap sholat yang dalam keabsahannya terjadi perbedaan pendapat meskipun sholatnya itu sholat sendirian dan orang yang berpendapat bahwa sesungguhnya sholat jum’at itu tidak boleh diulangi dengan sholat dhuhur secara mutlak karena sesungguhnya Allah ta’ala tidak mewajibkan enam kewajiban dalam sehari semalam maka orang tersebut benar-benar telah berbuat salah.

Permasalahan lain yang berkaitan dengan adanya pelaksanaan shalat Ta’adud itu sebagaimana yang di terangkan dalam kitab I’anatutholibin juz 2 halamaan 72 sampai 74 dengan redaksinya sebagai berikut :

Seandainya telah mendahului suatu sholat jum’at, maka sholat jum’at yang terlebih dahulu sah, karena terkumpul syarat-syaratnya dan sholat jum’at yang mengikutinya adalah batal maka wajib dilakukan sholat dzuhur.

Atau sholat jum’at yang lain berbarengan dengan sholat jum’at yang pertama secara yakin atau ragu-ragu maka kedua sholat jum’at tadi batal karena sesungguhnya membatalkan salah satu dari keduanya bukanlah lebih utama dari membatalkan yang lain sehingga wajib membatalkan keduanya.

Karena yang asal dalam bentuk keraguan adalah ketiadaan sholat jum’at yang mencukupi. Dan ketika itu wajib memulai lagi sholat jum’at jika waktunya luas, jika tidak maka mereka wajib sholat dzuhur. jika salah satunya mendahului dan jumbo dengan sholat jum’at yang lain seperti apabila dua orang yang sakit atau dua orang musafir yang berada diluar masjid mendengar dua takbirotul ihrom misalnya dan keduanya memberitahukan hal tersebut sedang keduanya tidak mengetahui sholat jum’at yang lebih dahulu maka mereka semuanya sholat dhuhur.

Wal hasil untuk masalah ini terdapat lima keadaan:
1. Apabila sholat jum’at terjadi bersama-sama maka keduanya batal sehingga wajib mereka mengulangi sholat jum’at pada saat waktunya mencukupi.
2. Apabila kedua sholat itu terjadi berurutan maka sholat yang mendahului adalah sholat yang sah dan yang mengikuti adalah batal sehingga wajib bagi jama’ah yang melakukan sholat kedua melakukan sholat dhuhur.
3. Apabila diragukan mengenai yang mendahului dan yang mengikuti maka wajib atas mereka untuk berkumpul dan mengulanginya dengan sholat jum’at pada saat waktunya cukup karena hukum yang asal adalah tidak terjadinya sesuatu sholat jum’at yang mencukupi bagi hak setiap orang dari mereka.
4. Apabila diketahui sholat yang mendahului dan tidak diketahui wujud yang mendahului maka wajib atas mereka melakukan sholat duhur karena sesungguhnya sama sekali tidak ada jalan untuk mengulangi sholat jum’at beserta keyakinan terjadinya sholat jum’at yang sah dalam urusan tersebut.
5. Akan tetapi tatkala kelompok yang sah sholat jum’atnya tidak diketahui maka wajib atas mereka melakukan sholat dhuhur Apabila diketahui yang mendahului dan diketahui wujud yang mendahului akan tetapi lupa maka hal ini seperti keadaan yang keempat.

Walhasil : Hukumnya wajib mengulang shalat zhuhur setelah shalat jum’at dalam satu desa yang shalat jum’at lebih dari satu, bila ta’addud jum’at tersebut bukan karena hajat, dan bila ta’addud tersebut karena hajat maka mengulang shalat zhuhur hukumnya sunnah. (Tanwir al quluub hlm 192).

I’adah (mengulangi) dengan melaksanakan sholat dzuhur bagi orang yang berada di desa yang terdapat ta’addudul jum’at yang di perbolehkan syara’ karena ada hajat/sebab sedang ia tidak tahu masjid mana/tempat di dirikanya sholat jum’at yang mana yang lebih dahulu takbirnya maka hukum i’adah dengan melaksanakan sholat dzuhur hukumnya di Sunnahkan. Namun jika tidak ada hajat maka Wajib i’adah dengan melaksanakan sholat dzuhur.

I’adah dengan melaksanakan sholat dzuhur bagi orang yang berada di desa yand di perbolehkan ta’addudul jum’at dan ia tidak mengetahui masjid mana yang takbirnya lebih dahulu maka hukumnya tidak wajib baginya i’adah/mengulangi dengan melaksanakan sholat dzuhur namun di sunahkan mengulangi dengan sholat dzuhur.kesunahan i’adah sholat dzuhur tersebut di sunahkan karena keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) mengenai di larangnya ta’addudul jum’at dalam satu tempat/Desa.

Sedang jika ta’addudul jum’atnya yang berada dalam satu desa tersebut tanpa adanya hajat yang di perbolehkan syara’ maka wajib baginya untuk sholat dzuhur,sedang bagi orang yang tidak tahu apakah ta’addudul jum’atnya karena alasan yand di perbolehkan syara’ atau tidak maka wajib baginya i’adah dengan melaksanakan sholat dzuhur.

Namun apabila tidak memenuhi syarat-syarat ta’adud, maka di tafsil :
1.Jika takbirotul ihromnya bersamaan atau diragukan, apakah bersamaan atau ada yang mendahului, maka wajib mengulangi jum’atan lagi secara bersama-sama selama waktu sholat masih mencukupi. Jika tidak, maka jama’ah kedua masjid tersebut harus melakukan sholat dhuhur.
2.Jika takbirotul ihromnya berurutan, maka jum’atan yang takbirotul ihromnya paling dahulu, hukumnya sah, dan sunnah i’adah ( mengulangi ) sholat dzuhur. Sedang yang lain batal, dan wajib melakukan sholat dzuhur.
3.Jika takbirotul ihromnya ada yang mendahului tapi tidak jelas mana yang lebih dahulu, atau sudah jelas tetapi lupa, maka semuanya wajib melakukan sholat dzuhur.

Penerangan dan penjelasan ini sesuai dengan keterangan yang tercantumkan dari kitab-kitab fiqih seperti I’anatutholibiin, Bugyatul Musytarsydidin, Tanwirul Qulub dan beberapa kitab-kitab fiqih lainnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id