Penjelasan Maksud Dari Menolak Qodho Dengan Do’a

Penjelasan Maksud Dari Menolak Qodho Dengan Do'a

Almunawwar.or.id – Beriman dan mengimankan terhadap Qodho (ketentuan Alloh s.w.t) dan Qodar (kepastian Alloh s.w.t) adalah bagian dari rukun iman yang wajib diketahui dan wajib di imani oleh setiap muslimin. Sebagaimana yang diredaksikan dalam keterangan-keterangan kitab-kitab Fiqih tentang penjelasan dari Rukun Iman itu sendiri.

Dimana sisi penjelasan Qodho dan Qodar ini adalah bagian dari perhatian banyak kaum muslimin di seluruh dunia, salah satunya dari adanya keterangan hadits tentang “Menolak Qodho dengan Do’a”. Tentu jika di perhatikan secara seksama hadits tersebut seolah-olah bisa merubah kepastian dari Alloh S.W.T atau Qodho tersebut.

Namun sebenarnya jika digali secara seksama maksud dan tujuan dari adanya keterangan hadits tersebut tentu ada qayid-qayid tertentu untuk lebih menjabarkan keterangan hadits yang dimaksud itu. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Tirmidzi

قوله : ( لا يرد القضاء إلا الدعاء ) القضاء هو الأمر المقدر
وتأويل الحديث أنه إن أراد بالقضاء ما يخافه العبد من نزول المكروه به ويتوقاه فإذا وفق للدعاء دفعه الله عنه فتسميته قضاء مجاز على حسب ما يعتقده المتوقى عنه ، يوضحه قوله صلى الله عليه وسلم في الرقى : هو من قدر الله .
وقد أمر بالتداوي والدعاء مع أن المقدور كائن على الناس وجودا وعدما
ولما بلغ عمر الشام وقيل له إن بها طاعونا رجع ، فقال أبو عبيدة : أتفر من القضاء يا أمير المؤمنين ؟ فقال : لو غيرك قالها يا أبا عبيدة ! نعم نفر من قضاء الله إلى قضاء الله ،
أو أراد برد القضاء إن كان المراد حقيقته تهوينه وتيسير الأمر حتى كأنه لم ينزل ، يؤيده ما أخرجه الترمذي من حديث ابن عمر إن الدعاء ينفع مما نزل ومما لم ينزل ،
وقيل : الدعاء كالترس والبلاء كالسهم والقضاء أمر مبهم مقدر في الأزل

Penjelasan lebih detailnya ada dalam kisah Rasululloh yang telah memerintahkan untuk berobat dan berdo’a, padahal hal yang telah ditentukan atas manusia telah ada, baik terwujud maupun tidak terwujud. Ketika sayyidina Umar sampai ke negeri syam, dan dikatakan kepada beliau bahwa di syam terdapat wabah tho’un maka beliau kembali.

Abu Ubaidah berkata : ” apakah engkau lari dari qodho’ Allah wahai amirul mukmini ?”
Umar : ” andai saja yang berkata selainmu wahai Abu Ubaidah ! benar, kita berlari dari qodho’ Allah menuju ke qodho’ Allah yang lainnya .”

Atau jikalau yang dikehendaki dengan menolak qodho’ adalah secara hakekatnya, maka maksudnya adalah ringan dan mudahnya urusan seolah-olah tidak terjadi, dalil penguatnya adalah hadits riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Umar : ” sesungguhnya doa bermanfa’at untuk hal yang terjadi maupun yang tidak terjadi “.

waqila : ” doa bagaikan tameng, bala’ bagaikan anak panah sedangkan qodho’ adalah urusan yang samar yang telah ditentukan sejak azali “.

Berikut penjelasan dalam kitab Faidhul Qodir Syarah Jami’us Shogir 449-450 :

لا يرد القضاء ” المقدر ” إلا الدعاء ” أراد بالقضاء هنا الأمر المقدر لولا دعاؤه ، أو أراد برده تسهيله فيه حتى يصير كأنه رد
وقال بعضهم : شرع الله الدعاء لعباده لينالوا الحظوظ التي جعلت لهم في الغيب ، حتى إذا وصلت إليهم فظهرت عليهم ، توهم الخلق أنهم نالوها بالدعاء ، فصار للدعاء من السلطان ما يرد القضاء
” ولا يزيد في العمر إلا البر ” يعني العمر الذي كان يقصر لولا بره ، أو أراد بزيادتـه البركة فيه ، فعلى الأول يكون الدعاء والبر سببين من أسباب السعادة والشقاوة ، ولا ريب أنهما مقدران أيضا
قال القاضي : مر أن القضاء قسمان جازم لا يقبل الرد والتعويق ، ومعلق وهو أن يقضي الله أمرا كان مفعولا ما لم يرده عائق ، وذلك العائق لو وجد كان ذلك أيضا قدرا مقضيا ،
وقيل : المراد بالقضاء ما يخاف نزوله ، وتبدو طلائعه وإماراته من المكاره والفتن ، ويكون القضاء الإلهي خارجا بأن يصان عند العبد الموفق للخير ، فإذا أتى به حرس من حلول ذلك البلاء ، فيكون دعاؤه كالراد لما كان يظن حلوله ويتوقع نزوله
وقيل : الدعاء لا يدفع القضاء النازل بل يسهله ويهونه من حيث تضمنه الصبر عليه والتحمل فيه والرضا بالقضاء

Dengan Ta’wil hadits bahwa jika yang dikehendaki dengan qodho’ adalah apa yang di khawatirkan oleh seorang hamba, yaitu dari turunnya hal yang tidak disukai dan meminta perlindungan darinya, maka ketika bertepatan dengan doa, Allah akan menolak hal yang tidak disukai tersebu darinya.

Maka itu disebut qodho’ hanya sebagai majaz berdasarkan apa yang diyakini oleh orang yang meminta perlindungan. Bahkan penjelasannya pun ada pada sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam dalam masalah ruqiyah : ” ruqiyah termasuk ketetapan Allah “.

Dimana Rasululloh telah memerintahkan untuk berobat dan berdo’a, padahal hal yang telah ditentukan atas manusia telah ada, baik terwujud maupun tidak terwujud.

Itulah intisari dari adanya keterangan-keterangan baik hadits maupun ijma para ‘Ulama akan yang di maksud dengan menolak Qodho dengan Do’a sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada dalam unsur ilmu-ilmu yang berhubungan langsung dengan masalah tersebut.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.