Penjelasan Mengenai Hukum Khutbah Shalat Jum’at Dengan Terjemah

Penjelasan Mengenai Hukum Khutbah Shalat Jum'at Dengan Terjemah

Almunawwar.or.id – Khutbah jumat yang merupakan salah satu rukun pada pelaksanaan ibadah jumat memanglah mempunyai hal-hal tertentu dalam pelaksanaannya, termasuk dari penggunaan khutbahnya itu sendiri yang dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat dari beberapa ulama fiqih.

Terlebih khusus dalam mengenai teks daripada khutbah sebagaimana yang telah diterangkan dan di jelaskan oleh beberapa Ulama madzhab yang empat. Dimana perbedaan pendapat tersebut seolah menjadi bukti kuat bahwa sesuatu amalan memang harus sesuai dengan kaidahnya juga keterangan dalilnya.

Lalu bagaimana jika memang dalam pelaksanaan khutbah itu menggunakan bahasa selain bahasa arab yang menjadi sebuah keharusan menurut sebagian para Ulama? Nah berikut ini penjelasan mengenai jawaban seperti permasalah yang sudah lumrah dilakukan muslim terlebih khusus oleh jamaah Nahdliyyin.

Dalam Kitab Nihayatuz Zein halaman 140 disebutkan:

(وَعَرَ بِيَّةٌ)بِاَنء تَكُوْنَ اَوْ كَانَ الخُطْبَتَيْنِ بِالْعَرَبِيَّتةِ .فَانْ لَمْ يَكُنْ ثُمَّ مَنْ يُحْسِنُ العَرَبِيَّةَ وَلَمْ يَمْكِنْ تَعَلَّمُهَا خَطَبَ بِغَيْرِهاَ.فَاِنْ اَمْكَن وَجَبَ عَلَى سَبِيْلِ فَرْضِ الكِفَابَةِ,فَيَكْفِى فِي ذَلِكَ وَاخِدٌ.فَلَوْ تَرَكُوْا التَّعَلُّمَ مَعَ اِمْ كَا نِهِ عَصَوْا وَلاَ جَمْعَةُلَهُمْ فَيُصَلّو نَ الظُّهْرَ.

Artinya : “(Dan bahasa Arab) artinya hendaklah rukun-rukun khutbah adalah dengan bahasa Arab. Jika di sana (tempat melakukan salat jumuah) tidak ada orang yang dapat berbahasa Arab dengan baik dan tidak mungkin dapat mempelajarinya, maka khatib dapat/boleh berkhutbah dengan bahasa selain Arab.

Jika memungkinkan belajar bahasa Arab, maka wajib atas semua orang secara wajib kifayah, dan dalam hal tersebut cukup dilakukan oleh satu orang. Dan jika mereka meninggalkan belajar bahasa Arab beserta kemampuan mereka untuk mempelajarinya, maka mereka telah berbuaat ma’siat dan salat jumuah yang mereka lakukan tidak sah, sehingga harus melakukan salat dhuhur.

Menurut Assyafi’iyah berpendapat bahwa rukun khutbah disyaratkan bil arobiyah, berbeda menurut madzhab Hanafi yang berpendapat boleh dengan bahasa arab ataupun selainnya, walaupun dia (khotib) bisa berbahasa arab. Sedangkn menurut Madzhab Maliki dan Hambali mewajibkan bil arobiyah pada semua khutbahnya. (madzahib Al arba’ah/379) dengan ringkasan redaksinya sebagai berikut:

شُرُوْطُ صِحَّةِ الجُمُعَةِ سِتَةُ…>>> وَتَقْدِيْمُ خُطْبَتَيْنِ بِالعَربِيَّةِ وَاِنْ لَمْ يَفْهَمُوا…

Artinya : “Syarat-syarat keabsahan shalat jumu’ah itu ada enam. Dan mendahulukan dua khutbah dengan dua bahasa Arab, meskipun para jamaah tidak memahaminya.”

Ada juga keterangan dalam yang tertulis dalam kitab fiqih lainnya seperti Dalam Kitab Ianatut Thalibin juz 2 halaman 69 diterangkan bahwa rukun-rukun khutbah jumuah (baca hamdalah, shalawat Nabi, berwasiat dengan taqwa, membaca ayat Alquran dalam salah satu dari dua khutbah, dan mendoakan kepada orang Mu’min laki-laki dan perempuan) harus diucapkan dengan bahasa Arab. Adapun selain rukun, boleh diterjemahkan ke dalam bahasa selain Arab. Dengan syarat harus ada kaitannya dengan nasihat-nasihat.

Walhasil masalah khutbah dengan menggunakan terjemah itu sah-sah saja dengan catatan isi dari materi yang di bahas tersebut harus sesuai dengan isi dan tujuan daripada khutbah dari bahasa arab tersebut. meskipun terdapat perbedaan dari para ulama madzhab yang empat.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com